Gelar Karya Seni SLB Bhakti Wiyata, Tampilkan Potensi Siswa Disabilitas

Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi kreativitas sekaligus unjuk potensi siswa

KULONPROGO | KabarSriwijaya.NET – Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Wiyata Kulonprogo menggelar Gelar Karya Seni Akhir Tahun yang berlangsung meriah di panggung sekolah dan ruang pamer, Kamis (18/12). Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi kreativitas sekaligus unjuk potensi siswa-siswi penyandang disabilitas.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kulonprogo, Drs. Nur Wahyudi, M.M., dan dihadiri para wali murid, tamu undangan, serta perwakilan guru dari sejumlah sekolah di sekitar lokasi.

SLB Bhakti Wiyata saat ini memiliki 58 siswa dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA, dengan beragam kebutuhan khusus, di antaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme.

Kepala SLB Bhakti Wiyata, Trisnaning Putri, S.Pd., mengatakan gelar karya seni akhir tahun ini menampilkan berbagai kreativitas siswa hasil pembelajaran seni dan keterampilan yang dibimbing tenaga pendidik serta instruktur berpengalaman.

Jajaran Guru SLB Bhakti Wiyata Kulonprogo dan kepala sekolah Tresnaning Putri, S.Pd.

“Anak-anak menampilkan seni tari, seni suara, serta memamerkan karya seni rupa dan keterampilan, seperti menjahit, berkebun, membatik, dan melukis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang digelar di luar sekolah, kegiatan kali ini untuk pertama kalinya dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan konsep yang lebih variatif dan menonjolkan hasil karya siswa secara menyeluruh.

BACA ARTIKEL LAINNYA :

“Pelaksanaannya lebih meriah, lebih variatif, dan lebih fokus pada hasil kreativitas anak-anak,” katanya.

Menurut Trisnaning, gelar karya seni ini menjadi sarana untuk menunjukkan kemampuan dan prestasi siswa kepada wali murid dan masyarakat luas, sekaligus membuktikan bahwa anak-anak disabilitas mampu berkarya dan bersaing secara positif dengan anak seusianya di sekolah umum.

“Kami berharap, setelah lulus nanti, anak-anak dapat mandiri dan mengembangkan keterampilan yang telah mereka pelajari,” tambahnya.

Sementara itu, guru pembimbing seni rupa yang juga seniman Kulonprogo, Teguh Paino, S.Sn., menyampaikan bahwa karya yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari lukisan di kanvas dan kertas hingga karya terapan pada media kayu, topeng, tas kain, serta hasil keterampilan menjahit berupa aksesori dan busana.

“Melalui seni, siswa belajar mengekspresikan gagasan, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membentuk karakter agar kelak mampu hidup mandiri di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proses pembelajaran bagi siswa disabilitas membutuhkan pendekatan khusus, kesabaran, serta ketekunan, dengan metode yang disesuaikan pada masing-masing karakter siswa, baik tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, maupun autisme.

“Pendekatan yang tepat akan menghasilkan karya yang membanggakan,” pungkasnya.

Teks/Foto : Jajang R Kawentar (Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *