Malam Ahad itu, Masjid Al-Ikhlas Desa Lingga tidak hanya dipenuhi jamaah selepas Isya. Ada getar harap yang terasa di antara saf—harapan tentang mimbar, tentang suara khutbah, dan tentang masa depan masjid. Di tempat itulah, Sekolah Khatib dan Imam (SKIM) Laa Roiba Angkatan Pertama resmi ditutup, Ahad (21/12/2025).
Penutupan dilakukan langsung oleh Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom. Namun malam itu bukan tentang akhir sebuah program. Justru sebaliknya, ia adalah penanda awal perjalanan panjang para peserta—dari belajar berdiri di mimbar, menuju menghidupkan hati jamaah.
Belajar Itu Dimulai dari Pengulangan
Dalam sambutannya, Kiai Taufik tidak banyak bicara soal seremonial. Ia lebih memilih mengajak peserta merenung. Selama dua bulan—September hingga Oktober 2025—para peserta telah diperkenalkan pada dasar-dasar menjadi MC, khatib, dan imam. Bagi sebagian, ini adalah pengalaman pertama tampil di depan jamaah.
“Ilmu itu tidak otomatis menjadi kemampuan,” ujar alumnus Trainer ESQ Ary Ginanjar Agustian ini. “Ia baru menjadi skill kalau diulang, diulang, dan diulang.”
Kiai Taufik menyebutnya sebagai hukum kehidupan bernama repetition—pengulangan yang terus-menerus hingga ilmu tertanam di alam bawah sadar dan siap diterapkan dalam kehidupan nyata. Karena itu, penutupan SKIM bukanlah garis finis, melainkan tanda bahwa latihan sejati justru dimulai.
Khutbah Pendek, Pesan Mendalam
Salah satu materi yang ditekankan malam itu adalah tentang khutbah Jumat. Kiai Taufik mengingatkan bahwa khutbah tidak harus panjang. Bahkan, khutbah pendek merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
Ia mengutip hadits riwayat Muslim:
“Perpanjanglah shalat dan perpendeklah khutbah.”
Khutbah yang singkat, jelasnya, adalah bentuk penghormatan terhadap waktu jamaah, memudahkan pemahaman, dan menjaga kekhusyukan shalat Jumat sebagai kewajiban utama umat Islam.
Namun, khutbah pendek bukan berarti datar dan kering.
Intonasi: Ketika Ayat Berbicara
Di sinilah Kiai Taufik membawa jamaah masuk ke wilayah yang jarang dibahas: intonasi dan artikulasi. Ia mencontohkan bagaimana seorang khatib seharusnya membaca terjemahan ayat Al-Qur’an dengan penghayatan penuh.
Ketika mengutip Surah Al-Hasyr ayat 21—tentang gunung yang tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah—suara Kiai Taufik naik dan bergetar, teatrikal namun penuh makna. Jamaah terdiam.
“Kalau ayatnya tentang kedahsyatan, jangan dibaca datar,” katanya. “Suara, intonasi, dan artikulasi itu olah rasa. Dari rasa khatib, sampai ke hati jamaah.”
Karena itulah, dalam kurikulum SKIM Laa Roiba, materi intonasi dan artikulasi menjadi bagian penting. Tujuannya bukan sekadar melatih suara, tetapi menghubungkan pesan langit dengan rasa manusia.
Memarmerkan atau Memakmurkan Masjid
Pada bagian ini, Kiai Taufik menyentil realitas yang sering terjadi. Banyak masjid berdiri megah secara fisik—marmer mengkilap, bangunan indah—namun belum sepenuhnya hidup.
“Kita sangat semangat memarmerkan masjid,” ujarnya. “Tapi jangan lupa memakmurkannya.”
Memakmurkan masjid, menurutnya, berarti meningkatkan kualitas sumber daya manusia: remaja masjid, pengurus, khatib, dan imam. Fisik masjid penting, tetapi ruh masjid jauh lebih menentukan.
Dari Kegelisahan Pengurus Masjid
Ketua Pengurus Masjid Al-Ikhlas, Adi Wijaya, mengakui bahwa SKIM Laa Roiba lahir dari kegelisahan. Sejak menghadiri peluncuran program ini pada Milad ke-16 PP Laa Roiba, Mei 2025 lalu, ia merasa masjid perlu merespons.
“Alhamdulillah, program ini bisa berjalan,” ujarnya. Meski sasaran awal adalah remaja masjid, realitas menunjukkan sekitar 70 persen peserta justru berasal dari kalangan orang tua. Para remaja, katanya, masih banyak terkendala aktivitas kerja.
Namun hal itu tidak mengurangi nilai program. Justru menjadi cermin bahwa pembelajaran masjid terbuka untuk semua usia.
Bukan Akhir Perjumpaan
Menanggapi hal itu, Kepala Program SKIM Laa Roiba, Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum, menegaskan bahwa kerja sama ini tidak berhenti di penutupan.
“Penutupan malam ini bukan akhir perjumpaan,” ujarnya. “Kami akan selalu membuka diri untuk mendampingi, kapan pun dibutuhkan.”

Setelah sebelumnya tiga peserta simulasi Khutbah Jumat dan MC, dilakukan penyerahan sertifikat secara simbolik menjadi penutup rangkaian acara.
Sertifikat itu bukan sekadar kertas, melainkan amanah: untuk terus belajar, berlatih, dan menghidupkan masjid melalui mimbar dan mihrab.
Malam itu, Masjid Al-Ikhlas kembali tenang. Namun gema SKIM Laa Roiba Angkatan Pertama telah dilepas—menuju masjid-masjid, menuju jamaah, menuju hati umat.
Teks : Tim Media PP Laa Roiba : Foto : Dok. Masjid Al-Ikhlas/Marbot















