Santri, Film, dan Jalan Pulang Kebudayaan

Tanggapan atas tulisan “Sanffest 2025: Sebuah Langkah Awal” karya Achmad Ubaidillah

Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Teater Batu Hitam Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Tulisan Achmad Ubaidillah tentang Sanffest 2025 membuat saya teringat pada satu pertanyaan sederhana yang sering diajukan Budayawan Cak Nun kepada jamaah Maiyah: “Kita ini sedang berjalan ke mana, atau sebenarnya sedang pulang ke siapa?” Sebab kebudayaan, betapapun modern wajahnya, sejatinya selalu berkaitan dengan jalan pulang—pulang ke nilai, pulang ke kesadaran, pulang ke kemanusiaan.

Sanffest 2025, sebagaimana dituturkan dalam tulisan tersebut, bukan sekadar festival film. Ia adalah peristiwa batin kebudayaan.

Ia adalah pertanda bahwa pesantren—yang sering dianggap tradisional, bahkan kolot oleh sebagian kalangan—sedang berbicara dengan dunia menggunakan bahasa yang dipahami zaman: bahasa gambar, bahasa cahaya, bahasa cerita. Film.

Namun di sinilah menariknya. Pesantren sebenarnya tidak sedang belajar sesuatu yang benar-benar baru. Ia hanya sedang mengingat kembali cara lama dengan baju yang berbeda. Sebab sejak awal, pesantren adalah ruang narasi.

Kitab kuning adalah kumpulan cerita tentang manusia dan Tuhan, tentang hukum dan kasih sayang, tentang konflik dan rekonsiliasi. Bedanya, dulu cerita itu disampaikan lewat halaqah, kini sebagian disampaikan lewat layar.

Maka benar ketika Achmad menyebut Sanffest sebagai “langkah awal”. Tapi langkah awal menuju apa? Bukan menuju modernitas yang membabi buta. Bukan pula menuju industrialisasi film semata. Melainkan menuju kesadaran bahwa santri, pesantren, dan kebudayaan tidak boleh tercerabut dari denyut sosial masyarakatnya.

Film, dalam konteks ini, bukan tujuan. Ia hanya alat. Sama seperti rebana, wayang, tembang, atau teater rakyat. Cak Nun pernah mengingatkan: “Jangan kagum pada alat. Kagumlah pada niat dan arah.” Maka yang patut kita jaga dari Sanffest bukanlah kemegahan awarding night-nya, melainkan kejernihan niat kebudayaannya.

BACA TULISAN ACHMAD UBAIDILLAH SEBELUMNYA :

Saya sepakat dengan Achmad bahwa kekuatan utama Sanffest adalah keberaniannya menempatkan santri sebagai subjek, bukan objek. Santri tidak sedang “dipertontonkan” agar terlihat bisa membuat film. Santri sedang berbicara, sedang menyampaikan kegelisahan, harapan, dan cita-cita sosialnya. Ini penting. Sebab terlalu lama kebudayaan kita dikendalikan oleh pusat-pusat produksi makna yang jauh dari akar masyarakat.

Ketika ratusan pesantren terlibat, sesungguhnya yang sedang bergerak bukan hanya kamera, tetapi kesadaran kolektif. Pesantren sedang berkata kepada bangsa ini: “Kami tidak hanya menjaga masa lalu, kami juga ikut merancang masa depan.”

Film Iman dan Imam yang disinggung dalam tulisan Achmad adalah contoh yang menarik. Masjid tidak digambarkan sebagai bangunan beku yang sunyi setelah shalat. Ia hidup. Ia bernafas. Ia menjadi pusat ekonomi, ruang dialog, dan sumber filantropi. Ini bukan sekadar ide kreatif, tetapi pengembalian fungsi masjid sebagaimana mestinya. Nabi tidak membangun masjid sebagai monumen, melainkan sebagai pusat peradaban.

Di titik ini, sinema santri bertemu dengan misi kenabian: memanusiakan manusia. Film menjadi cermin, bukan cermin narsistik, tetapi cermin kejujuran. Cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman, karena ia memantulkan wajah kita apa adanya.

Namun, izinkan saya menambahkan satu catatan kecil—bukan untuk melemahkan, justru untuk menjaga. Setiap gerakan kebudayaan selalu berisiko tergelincir menjadi seremoni. Festival bisa berubah menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan ruh. Kamera bisa lebih sibuk mengejar estetika ketimbang etika. Di sinilah pesantren harus tetap menjadi penyangga nilai.

Santri harus terus bertanya: “Untuk siapa film ini dibuat?” Jika jawabannya hanya untuk lomba, kita sedang salah jalan. Jika jawabannya untuk publikasi, kita sedang setengah sadar. Tetapi jika jawabannya untuk menghadirkan keadilan, empati, dan keberpihakan pada yang lemah—maka film itu telah menjadi amal.

Achmad menyebut tiga peran penting: Himayatuddin, Himayatul Ummah, dan Himayatul Wathan. Saya ingin menambahkan satu dimensi yang sering dilupakan: Himayatul Insan—perlindungan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Karena agama, umat, dan bangsa akan kehilangan makna jika manusia di dalamnya tercerabut dari martabatnya.

Cak Nun sering mengatakan bahwa kebudayaan adalah cara paling halus untuk memperjuangkan kebenaran. Ia tidak memaksa, tetapi mengetuk. Ia tidak berteriak, tetapi mengajak berpikir. Maka film santri seharusnya tidak sibuk menghakimi, tetapi menemani. Tidak merasa paling benar, tetapi bersedia mendengar.

Sanffest, dalam pengertian ini, adalah undangan dialog. Dialog antara pesantren dan dunia luar. Dialog antara tradisi dan modernitas. Dialog antara iman dan realitas sosial. Dan dialog, sebagaimana kita tahu, tidak pernah selesai dalam satu pertemuan.

Karena itu saya sepakat sepenuhnya ketika Achmad menutup tulisannya dengan kesadaran bahwa Sanffest bukan akhir, melainkan awal. Awal dari perjalanan panjang yang akan melelahkan, kadang mengecewakan, seringkali sunyi. Tetapi justru di sanalah nilai perjuangan itu diuji.

Sebagai pegiat teater, sastra, dan film, saya melihat Sanffest sebagai simpul penting dalam peta kebudayaan Indonesia. Ia bisa menjadi mata air. Tetapi mata air hanya akan tetap jernih jika dijaga dari keserakahan, kepentingan sesaat, dan kesombongan artistik.

Akhirnya, izinkan saya menutup dengan satu renungan ala Cak Nun: “Kebudayaan bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang paling setia.” Setia pada manusia. Setia pada nilai. Setia pada kejujuran. Jika Sanffest dan para santri sineas mampu menjaga kesetiaan itu, maka film bukan hanya akan diputar di layar, tetapi akan hidup di hati masyarakat.

Dan di sanalah, pesantren benar-benar pulang ke fitrahnya: menjadi cahaya yang tidak menyilaukan, tetapi menerangi jalan.**

Muaraenim, 01 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *