Wayang dari Limbah, Liburan dari ”Tawadhu’ Cumplung”

Dalam cumplung itu ada tawadhu: seni yang tidak merasa paling tinggi...

Oleh Imron Supriyadi, Pelaku Sastra dan Teater di Palembang

Baru-baru ini, di akhir Desember 2025, ratusan anak-anak dan remaja Gen Z  di Kalurahan Karangwuni mengikuti Workshop Wayang Cumplung  gratis yang diselenggarakan Sanggar Nimbakarsa berkolaborasi dengan Komunitas Daulat Sampah di halaman Sanggar Nimbakarsa Dusun Kriyan, Rt.16/Rw.08, Karangwuni, Wates, Kulon Progo, Minggu, (28/12/2025).

Ada hal menarik ketika sebuah komunitas mengisi kreatifitas anak dengan kegiatan non formal di luar sekolah. Selama ini liburan sekolah sering kali hanya jeda tanpa makna: gawai, gim, dan waktu luang yang dibiarkan berlalu.

Sementara Di Dusun Kriyan, Karangwuni, Kulon Progo, jeda itu diisi dengan sesuatu yang berbeda—wayang dari tempurung kelapa, sampah yang berdaulat, dan anak-anak Gen Z yang belajar membaca dunia lewat seni.

Bukan sekadar pengisi waktu

Workshop Wayang Cumplung yang digelar Sanggar Nimbakarsa bersama Komunitas Daulat Sampah bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia adalah peristiwa kebudayaan kecil yang penting.

Seratusan anak dan remaja berkumpul, bukan untuk menonton tontonan jadi, melainkan menyentuh proses: mengenal bahan, bentuk, cerita, dan makna. Di titik inilah seni bekerja bukan sebagai hiburan, tetapi sebagai pendidikan kesadaran.

BACA ARTIKEL TERKAIT :

 

Wayang Cumplung—kreasi Teguh Paino—berangkat dari sesuatu yang kerap diabaikan: tempurung kelapa kering berlubang, sisa kunyahan tupai, limbah yang tak lagi bernilai guna. Dari benda sepele itu lahir bahasa rupa yang jenaka sekaligus reflektif.

Wayang ini tidak meminjam kemegahan pakem, tidak pula meniru estetika klasik secara harfiah. Ia tumbuh dari lingkungan, dari kebiasaan melihat, dan dari kepekaan seniman terhadap sekitarnya.

elitis dan berjarak

Menariknya, Wayang Cumplung tidak berhenti sebagai karya instalasi—yang sering kali elitis dan berjarak—melainkan bergerak ke wilayah performance dan pendidikan. Di tangan anak-anak Karangwuni, wayang bukan artefak museum, melainkan alat bermain, alat berpikir, dan alat bercerita. Seni kembali ke fungsi awalnya: medium belajar menjadi manusia.

Suasana Workshp Wayang Cumplung : Antusiasme anak-anak mengikuti workshop Wayang Cumplung sampai selesai

 

Kolaborasi Sanggar Nimbakarsa dengan Komunitas Daulat Sampah memperlihatkan arah penting dalam praktik kebudayaan hari ini: lintas disiplin dan lintas isu. Seni tidak berdiri sendiri, ia berdialog dengan lingkungan, dengan persoalan sampah, dengan krisis ekologi yang sering terasa abstrak bagi generasi muda.

Di sini, kesadaran lingkungan tidak diajarkan lewat ceramah, melainkan lewat pengalaman estetik yang menyenangkan.

Sebagai praktisi teater, saya melihat Wayang Cumplung memiliki potensi dramaturgis yang kuat. Ia lahir dari objek, dari tubuh material, lalu bergerak menuju cerita dan performativitas.

Ketika Sanggar Nimbakarsa merencanakan pengembangan tari dan literasi Wayang Cumplung, itu bukan sekadar diversifikasi program, tetapi upaya membangun ekosistem seni yang berkelanjutan—dari rupa, gerak, hingga narasi.

Dukungan pemerintah kelurahan yang menjanjikan alokasi dana seni budaya pada 2026 patut dicatat, meski selalu perlu diawasi agar tidak berhenti sebagai seremonial.

Sebab kekuatan utama kegiatan ini justru terletak pada inisiatif warga, seniman, dan komunitas—mereka yang bekerja dari bawah, dari halaman sanggar, dari liburan sekolah yang sederhana.

Wayang Cumplung mengingatkan kita bahwa warisan budaya tidak selalu datang dari masa lalu yang jauh.

bukan sekadar bunyi

Ia bisa lahir hari ini, dari sampah di halaman rumah, dari kegelisahan seniman, dan dari tawa anak-anak yang sedang belajar mengenali dunianya. Seni, pada akhirnya, bukan soal melestarikan bentuk, melainkan merawat kesadaran. Dan di Karangwuni, kesadaran itu tumbuh—pelan, jenaka, dan bersahaja—dari tempurung kelapa yang dulu dianggap tak berguna.

Makna “cumplung” dalam Wayang Cumplung bukan sekadar bunyi atau nama yang lucu. Cumplung adalah suara jatuh—bunyi kecil ketika sesuatu yang dianggap tak penting dilemparkan, terpinggirkan, lalu menyentuh tanah.

Pelatihan Wayang Cumplung
Pelatihan Wayang Cumplung

Dalam kebudayaan kita, yang sering “dicemplungkan” justru adalah nilai: kesederhanaan, kesabaran, kedekatan dengan alam. Tempurung kelapa berlubang, sisa kunyahan tupai, limbah yang tak dihitung sebagai harta—itulah yang oleh Wayang Cumplung diangkat kembali menjadi subjek.

Seolah wayang ini berkata: yang remeh tidak selalu hina, yang kecil tidak selalu kalah. Tuhan sering menyelipkan hikmah-Nya justru pada benda yang tidak kita undang ke meja kehormatan.

Mengapa Harus Cumplung?

Mengapa harus cumplung? Karena hidup memang sering berjalan dengan bunyi seperti itu: pelan, tidak megah, tidak diiringi tepuk tangan. Cumplung adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu datang dengan dentuman revolusi, tapi dengan kesadaran yang jatuh perlahan ke hati.

Anak-anak yang memegang Wayang Cumplung sedang diajak belajar bahwa budaya bukan barang antik, dan lingkungan bukan beban wacana. Keduanya adalah saudara hidup yang mesti dirawat dengan gembira.

Dalam cumplung itu ada tawadhu: seni yang tidak merasa paling tinggi, manusia yang tidak merasa paling berkuasa, dan alam yang akhirnya kita dengarkan kembali—tanpa perlu berteriak.**

Muaraenim, 1 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *