Kementerian Agama Muaraenim : Dari Tanah Benakat, Tumbuh Asa Pelayanan Umat

Membangun komitmen yang tulus, dan doa dari hati

Kemenag Muara Enim Tinjau Lahan Calon KUA Baru: Jejak Langkah Menuju Revitalisasi Layanan Keagamaan

Di bawah langit Benakat yang teduh pagi itu, rombongan kecil dari Kementerian Agama Kabupaten Muara Enim menapaki hamparan lahan yang sebentar lagi akan berubah wajah. Tak ada gemuruh alat berat, tak juga gegap gempita peresmian.

Yang ada hanyalah langkah-langkah pasti penuh harapan—sebuah peninjauan lahan yang kelak akan menjadi tempat lahirnya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Benakat.

Kamis (30/10/2025) menjadi catatan awal perjalanan itu. Dipimpin langsung oleh Kepala Kemenag Muara Enim, H. Abdul Harris Putra, bersama timnya: Kasi Bimas Islam H. Dedi Alamsyah, Kasi PHU H. Muhammad Amin, Kepala KUA Benakat, dan tim Pengelola Barang Milik Negara (BMN). Mereka tak sekadar datang untuk melihat tanah, tetapi menatap masa depan pelayanan umat.

“KUA adalah garda terdepan dalam pelayanan keagamaan. Dengan adanya gedung baru yang representatif, kita berharap pelayanan kepada masyarakat semakin mudah, nyaman, dan profesional,” ujar H. Abdul Harris dengan nada optimis.

Jejak Komitmen di Tanah Serasan Sekundang

Benakat bukan sekadar nama kecamatan di Kabupaten Muara Enim. Ia adalah simbol dari semangat religius masyarakat pedesaan yang terus tumbuh. Dalam konteks inilah, pembangunan KUA menjadi langkah nyata Kemenag untuk menghadirkan pelayanan yang dekat, cepat, dan bermartabat.

Seiring program Revitalisasi KUA yang digulirkan Kementerian Agama RI, setiap langkah kecil di daerah menjadi bagian dari gerakan besar nasional: menjadikan KUA bukan hanya tempat pencatatan nikah, tetapi juga pusat pembinaan keluarga sakinah, penguatan moderasi beragama, hingga pelayanan umat lintas generasi.

Dari Administrasi Menuju Spirit Pelayanan

Bagi tim BMN Kemenag Muara Enim, peninjauan lahan bukan sekadar urusan administratif. Mereka menelusuri legalitas tanah, menyesuaikan peta aset, hingga menilai potensi pengembangan sarana pendukung di masa depan.

Namun di balik data dan dokumen itu, ada makna spiritual yang lebih dalam: memastikan setiap pembangunan berdiri di atas keabsahan dan keikhlasan.

Langkah ini menjadi fondasi agar kelak, setiap tembok yang dibangun bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara nilai. Karena di sanalah akan berkantor para penghulu, penyuluh, dan petugas keagamaan yang menjadi ujung tombak pelayanan umat di Benakat dan sekitarnya.

Awal yang Tenang, Harapan yang Besar

Peninjauan lahan itu berlangsung sederhana. Angin lembut berhembus di antara pepohonan, seolah menyambut cita-cita yang sedang ditanam. Tak perlu seremoni megah untuk menandai kesungguhan—cukup dengan langkah bersama, komitmen yang tulus, dan doa dari hati.

Di akhir kunjungan, H. Abdul Harris memandang hamparan tanah yang kelak akan menjadi pusat pelayanan umat itu. Matanya berbinar, seakan melihat bayangan gedung bernuansa hijau dengan logo Kemenag di depannya, tempat masyarakat datang membawa niat baik: menikah, berkonsultasi, belajar agama, atau sekadar bersilaturahmi.

“Dari sinilah pelayanan umat dimulai,” ujarnya pelan. “Kita bangun bukan hanya gedung, tapi juga harapan.”

Dan dari tanah Benakat yang sunyi pagi itu, gema komitmen itu bergaung—mengingatkan bahwa membangun KUA bukan sekadar proyek fisik, melainkan ibadah sosial yang menautkan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.

TEKS / FOTO : IG KEMENANG MURAENIM  |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *