Di ruang rapat Asisten I Setda Provinsi Sumatera Selatan, aroma teh kotak, minuman mineral kemasan dan snack berpadu dengan percakapan hangat antara para pegiat film dan birokrat. Tidak ada jarak kaku. Di kursi utama yang menghadap para tamu, mewakili Gubernur Sumsel, Dr. Drs. H. Sunarto, M.Si., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, menyambut para tamu, yang menamakan diri Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan dengan senyum ramah, Rabu (29/10/2025).
Pertemuan itu berlangsung sederhana, tapi menyimpan makna besar. Di balik meja panjang dan berkas yang dipersiapkan kali itu, lahir percakapan tentang masa depan sinema daerah — sesuatu yang selama ini hanya bergaung di ruang-ruang kecil komunitas, kini mendapat ruang di pusat kebijakan.
Dari pihak KCFI hadir Iwan Darmawan, mantan Ketua DPRD Kota Palembang yang kini menjadi salah satu Dewan Pembina, bersama Yosep Suterisno, SE, Ketua KCFI Sumsel, dan jajaran pengurusnya.
Dari unsur pemerintah hadir pula Agus Hariyanto, SE (Kasi Atraksi Budaya dan Film Disbudpar Sumsel), Saptono Edi Santoso, SE.,MM (Kabid Kebudayaan), serta perwakilan Kesbangpol dan Biro Umum Setda Sumsel.
Di tengah obrolan, Sunarto berbicara pelan tapi tegas.
“Sumsel punya banyak sineas muda, talenta yang tak kalah dengan kota besar. Tinggal bagaimana ruang dan dukungan itu dibuka,” ujarnya, seakan menegaskan arah baru yang tengah disiapkan pemerintah daerah.
Dari Buku ke Layar Lebar
Salah satu rencana yang mencuat dari pertemuan itu adalah penyelenggaraan Bedah Buku “Perang 120 Jam” di Hotel Swarna Dwipa, Palembang.
Buku ini akan dijadikan pijakan untuk menyusun treatment dan skenario film “Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang”, sebuah karya yang hendak menghidupkan kembali semangat sejarah perjuangan rakyat di masa kolonial.
Buku itu bukan sekadar teks. Ia adalah jembatan antara literasi dan sinema — antara dokumentasi masa lalu dan tafsir kreatif generasi kini.
“Film harus lahir dari riset yang mendalam, sebab di situlah nilai budaya dan sejarah bertemu,” ujar Yosep ketika ditemui usai Audiensi.

Kali itu, Pemprov Sumsel secara serius menangkap sinyal itu. Dukungan pun diberikan: pelantikan pengurus KCFI Sumsel akan digelar di Gedung Bina Praja, Kantor Gubernur Sumsel — sebuah simbol, bahwa film kini diakui sebagai bagian dari kerja kebudayaan daerah.
Menanam Benih Sinema di Tanah Budaya
Audiensi itu, meski singkat, terasa seperti awal baru. Sumatera Selatan bukan lagi sekadar penonton dalam peta perfilman nasional. Dengan potensi sineas muda, latar sejarah yang kuat, dan energi kultural yang melimpah, daerah ini mulai menanam benih untuk industri kreatif yang berakar pada nilai-nilai lokal.
Beberapa aktor dan aktris nasional dikabarkan akan hadir dalam kegiatan KCFI berikutnya. Tapi lebih dari sekadar nama-nama besar, yang hadir di ruang rapat sore itu adalah semangat baru — bahwa film bukan hanya hiburan, melainkan medium untuk merawat ingatan, membangun karakter, dan meneguhkan jati diri budaya.
Bumi Sriwijaya, yang pernah jadi saksi lahirnya peradaban besar, kini bersiap melahirkan gelombang baru dalam dunia sinema. Dari ruang kecil di Kantor Gubernur, suara kamera mungkin belum terdengar. Tapi gema langkahnya sudah terasa.**
Teks: Imron Supriyadi | Foto: Dok. KCFI Sumsel














