Jajang R Kawentar: Dari Palembang ke Yogyakarta, Menjaga Persimpangan Itu Tetap Hidup

Jangan tunjukkan udikmu pada bumi di wajah jaman. Karena arifmu dalam catatan puyang menjunjung alam di pundak anak-anakmu...

Di sebuah sore yang tenang di Indie Art House, Bantul, Yogyakarta, Rabu (15/4/2026), Jajang R Kawentar berdiri tidak jauh dari kerumunan. Ia tidak banyak bicara. Sesekali hanya memperhatikan pengunjung yang berhenti di depan lukisan, membaca, lalu diam. Seperti kurator pada umumnya, ia bekerja di belakang—mengatur, merangkai, lalu membiarkan karya berbicara.

Namun, perjalanan Jajang menuju titik itu bukan perjalanan yang singkat.

Ia lahir di Tasikmalaya, 9 Oktober 1970. Lulusan Sarjana Seni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jajang tidak hanya menekuni seni rupa, tetapi juga aktif di dunia literasi.

Ia menulis puisi, esai, dan cerpen, serta pernah bekerja sebagai jurnalis. Karya-karyanya tersebar di berbagai media, mulai dari Mitra Desa, Sentana, Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Berita Pagi, Lahat Pos, Singgalang, Riau Pos, Lampung Post, hingga Media Indonesia, Suara Pembaruan, Minggu Pagi, Bisnis Indonesia, Solo Pos, dan sejumlah media lokal maupun nasional lainnya.

Jejak kepenulisannya juga terekam dalam sejumlah buku. Antologi puisi tunggalnya antara lain Martil (2002) dan Silat Lidah (2003), yang diterbitkan Sanggar Air Seni Palembang. Puisinya juga hadir dalam berbagai antologi bersama, seperti Semangkuk Embun (Dewan Kesenian Jakarta, 2005), Tanah Pilih (Jambi, 2008), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Bangka Belitung, 2009), serta Dialog Merah pada Malam (Sumatera Selatan, 2009).

Sementara di ranah prosa, cerpen-cerpennya terhimpun dalam Peler Negeriku (2004), Tak Ada Pilihan Lain (2001), hingga antologi Mastera Dari Pemburu ke Terapeutik (2005). Ia juga menulis cerita bersambung yang dimuat di Terompet Rakyat dan Taring Padi Yogyakarta.

Namun, perjalanan pentingnya tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Ia pernah merantau ke Sumatera Selatan, menetap di Palembang, di Kabupaten Lahat Sumsel, dan menjadi bagian dari ekosistem seni di sana.

Di kota itu, ia mengajar sebagai guru SMA, berinteraksi dengan komunitas perupa, serta terlibat dalam aktivitas seni bersama Komunitas Sastra Lembah Serelo.

Fase ini menjadi salah satu titik penting dalam pembentukan perspektifnya—bahwa seni bukan sekadar praktik estetika, tetapi juga pengalaman hidup yang dekat dengan realitas sosial.

Jajang R Kawentar (pegang rokok) ketika masih di Komunitas Sastra Lembag Serelo; Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan

“Di Palembang, saya belajar melihat seni dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

Jejak pengalaman lintas kota itu terasa dalam cara Jajang memaknai seni hari ini. Kini, di Yogyakarta, ia dikenal sebagai kurator yang aktif menangani berbagai pameran.

Namun, pendekatannya tidak semata-mata konseptual, melainkan juga reflektif—seolah selalu ada lapisan pengalaman personal yang ikut bekerja di balik setiap kurasi.

Hal itu tampak dalam pameran Pertelon yang ia kuratori. Pameran yang dibuka oleh pelukis Nasirun tersebut menghadirkan 42 karya dari tujuh seniman: Deni Setiawan, Antonius Ruli, D. Koestrita, N. Rinaldy, Moko Jepe, Deden FG, dan Riduan. Latar belakang mereka beragam—abstrak, surealis, hingga impresif—namun tidak dipaksa untuk berada dalam satu arus.

Jajang memilih satu kata sebagai simpul: pertelon.

Dalam bahasa Jawa, pertelon berarti pertigaan. Namun, dalam tafsirnya, ia bukan titik konflik, melainkan titik temu. Sebuah ruang untuk berhenti, merefleksikan diri, dan menerima apa yang telah dijalani.

Jajang R Kawentar

“Kita tidak lagi membicarakan gimik atau sengkarut seni rupa,” tulisnya dalam catatan kuratorial. “Yang ada adalah suka cita terhadap pilihan yang kita miliki saat ini.”

Kalimat itu terasa seperti refleksi perjalanan panjangnya sendiri—dari Tasikmalaya, Palembang, hingga Yogyakarta. Sebuah perjalanan yang penuh persimpangan, tetapi tidak selalu harus dipilih secara tergesa.

Di Pertelon, ia juga mengajukan satu sikap: luweh. Sebuah keadaan ketika seniman melepaskan beban ekspektasi luar dan kembali pada kebebasan personal dalam berkarya. Seni tidak lagi menjadi alat untuk mengejar reputasi, melainkan ruang untuk menerima diri dan menikmati hidup.

“Semua jalan berujung pada diri sendiri,” tulisnya lagi.

Kini, Jajang terus bergerak di antara dua dunia yang ia tekuni: seni rupa dan sastra. Ia mengkurasi, menulis, dan merawat ruang-ruang dialog yang memungkinkan keduanya saling bersentuhan. Ia tidak selalu berada di depan, tetapi dari tangan-tangan seperti itulah arah sering kali ditemukan—atau justru, seperti dalam Pertelon, dibiarkan tetap menjadi persimpangan.

Pameran Pertelon berlangsung hingga 30 April 2026, pukul 11.00–17.00 WIB. Di ruang itu, Jajang tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga menghadirkan cara melihat: bahwa dalam seni, seperti dalam hidup, tidak semua jalan harus dipilih. Kadang, cukup dipahami.**

TEKS : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *