Langit Palembang belum benar-benar gelap ketika langkah-langkah mulai memenuhi ruas Jalan Kolonel Atmo, Sabtu sore itu. Pukul menunjukkan sekitar setengah enam, namun suasana sudah berubah: bukan lagi sekadar jalan kota, melainkan panggung terbuka. Lampu-lampu mulai dinyalakan, tenda-tenda berdiri rapi, dan aroma kuliner perlahan merambat di antara kerumunan. Di tengah riuh yang tertata, sebuah konsep baru diperkenalkan—Car Free Night Atmo.

PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Gagasan ini sederhana namun ambisius: mengubah ruang publik menjadi ruang interaksi. Tidak ada deru kendaraan. Yang terdengar adalah percakapan, tawa, musik, dan sesekali tepuk tangan.
Pemerintah kota Palembang, tampaknya ingin lebih dari sekadar menutup jalan; mereka sedang merancang pengalaman. Seni dan kuliner dijahit menjadi satu narasi, menghadirkan malam yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga dirasakan.
KCFI Sumsel
Di antara kerumunan itu, hadir pula sekelompok orang dengan identitas yang tak sulit dikenali. Rompi komunitas, tanjak bagi laki-laki, dan gandik bagi perempuan menjadi penanda: Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan turut ambil bagian.
Mereka datang bukan sekadar menyaksikan, tetapi membawa misi kecil—memperkenalkan diri, sekaligus memperluas ruang apresiasi film di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya soal hadir,” ujar seorang anggota KCFI di sela persiapan. “Ini soal bagaimana film bisa menjadi bagian dari ruang publik, bukan hanya milik layar tertutup.”
Putar Film
Maka malam itu, di satu sudut jalan, layar pun disiapkan. Film diputar, diskusi kecil digelar, dan beberapa adegan bahkan dipentaskan ulang dalam bentuk teatrikal. Tidak ada panggung megah, hanya ruang sederhana yang justru terasa akrab. Orang-orang berhenti, menonton, lalu ikut berbincang. Film, yang sering dianggap eksklusif, tiba-tiba menjadi milik bersama.
Car Free Night (CFN) Atmo memang tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari kebutuhan kota akan ruang alternatif—tempat warga bisa hadir tanpa sekat, tanpa tiket, tanpa protokol rumit.
Konsep “art & culinary” yang diusung menjadi jembatan: seni untuk menyentuh rasa, kuliner untuk mengikat kebersamaan. Dan di situlah komunitas seperti KCFI menemukan relevansinya.
mempererat silaturahmi
Ketua KCFI Sumsel, Yosep Suterisno, dalam ajakannya kepada anggota, menekankan pentingnya momentum ini. Bukan hanya untuk berkumpul, tetapi juga mempererat silaturahmi dan menunjukkan bahwa komunitas film memiliki peran dalam kehidupan kota.
Karena itu, seluruh pengurus dan anggota KCFI Sumatera Selatan dihimbau untuk hadir dan mengambil bagian dalam kegiatan ini pada Sabtu, 18 April 2026 pukul 20.00 WIB di kawasan Jalan Kolonel Atmo (Area CFN).
Kehadiran tidak sekadar meramaikan, tetapi menjadi bagian dari gerakan kecil memperkenalkan wajah komunitas film kepada publik—melalui pemutaran film, diskusi santai, hingga pertunjukan teatrikal.
Menjelang malam, kerumunan semakin padat. Jalan Kolonel Atmo berubah menjadi arus manusia yang bergerak pelan, menikmati setiap sudut.
Anak-anak berlarian, remaja sibuk mengabadikan momen, sementara orang tua duduk santai menikmati suasana. Di tengah semua itu, batas antara penonton dan pelaku menjadi kabur. Semua terlibat, semua menjadi bagian dari peristiwa.
Car Free Night Atmo mungkin baru diluncurkan. Tapi malam itu memberi isyarat: kota tidak selalu harus berisik oleh mesin. Ia bisa hidup oleh manusia—oleh cerita, oleh rasa, oleh pertemuan yang sederhana.
Dan di antara cahaya lampu dan layar film yang menyala, Palembang seperti menemukan wajah lain dirinya—lebih hangat, lebih dekat, dan lebih hidup.**
TEKS : IMRON SUPRIYADI | FOTO : palembang.tribunnews.com




















