Malam itu, angin di Kampung Sumber Rejeki terasa aneh. Bukan dingin, bukan panas. Tapi seperti ada sesuatu yang lewat—tidak terlihat, tapi terasa mengganggu.
Di warung Bu Karti, seperti biasa, beberapa orang duduk melingkar. Ada Pak RT, Kang Dul, Udin tukang servis HP, dan tentu saja Mbah Majid—yang kalau bicara selalu pelan tapi bikin orang diam sejenak, lalu tertawa.
“Sampeyan kabeh wis krungu kabar Lahat itu?” tanya Pak RT sambil menyeruput kopi.
“Yang anak bunuh ibunya itu toh?” sahut Kang Dul.
“Iya. Gara-gara judi online.”
Semua terdiam. Udin yang biasanya cerewet, kali ini cuma menatap layar ponselnya. Jempolnya refleks ingin menekan sesuatu—lalu berhenti. Ia mengunci layar.
“Berarti… ini bukan cuma soal orang itu ya,” gumam Udin pelan.
Mbah Majid tersenyum tipis. “Ora tau mung soal wong siji, Din. Iki soal zaman.”
“Zaman kok salah terus, Mbah?” tanya Kang Dul, agak kesal. “Orang ya tetap orang. Kalau jahat ya jahat.”
“Lha jahat itu tumbuh dari mana?” Mbah Majid balik bertanya.
“Ya dari dirinya sendiri lah.”
“Kalau tanahnya subur, apa saja bisa tumbuh. Bahkan racun,” kata Mbah Majid.
Semua kembali diam. Bu Karti yang dari tadi menggoreng tempe nyeletuk, “Kalau tanahnya negara ini, racunnya kok banyak ya, Mbah?” Pak RT tertawa kecil.
“Bu Karti ini kalau ngomong langsung nusuk.”
Udin akhirnya buka suara.
“Masalahnya judi online itu gampang banget diakses, Pak. Tinggal klik, masuk. Gak kayak dulu harus ke tempat judi.”
“Lha pemerintah ngapain?” tanya Kang Dul.
“Katanya sih diblokir,” jawab Udin.
“Katanya,” ulang Pak RT sambil terkekeh.
“Blokir kok kayak nyapu halaman pakai lidi satu-satu,” tambah Bu Karti. “Disapu, eh besok muncul lagi.”
“Karena yang nyapu setengah hati,” sahut Mbah Majid.
Dari kejauhan terdengar suara motor. Pak Lurah baru, namanya Arif, datang dan langsung duduk.
“Ngomongin apa ini serius amat?”
“Ngomongin orang yang kalah judi sampai kehilangan ibunya,” jawab Pak RT.
Pak Lurah mengangguk pelan. “Saya juga dengar.”
“Pak Lurah,” kata Udin, “ini judi online bisa dihentikan gak sih?”
Pak Lurah diam sejenak.
“Secara teori bisa,” jawabnya pelan.
“Secara praktik?” tanya Kang Dul.
Pak Lurah tersenyum pahit. “Banyak yang tidak ingin itu berhenti.”
Semua saling pandang.
“Maksudnya?” tanya Bu Karti.
“Kalau sesuatu menghasilkan uang besar, biasanya ada yang menjaga di belakangnya.”
“Termasuk aparat?” tanya Udin hati-hati.
Pak Lurah tidak menjawab. Ia hanya menatap kopi di depannya. Jawaban kadang tidak perlu diucapkan. Beberapa hari kemudian, suasana kampung berubah. Ada kabar hutang di mana-mana. Beberapa warga mulai gelisah.
“Anakku pinjam uang tanpa bilang,” keluh Bu Siti.
“Suamiku juga sering marah-marah kalau kalah,” tambah yang lain.
Warung Bu Karti jadi tempat curhat.
“Ini bukan cuma soal judi,” kata Pak RT. “Ini soal ekonomi juga. Orang butuh uang, tapi jalannya buntu.”
“Terus judi jadi jalan pintas,” sambung Udin.
“Padahal itu jalan pintas ke jurang,” gumam Mbah Majid.
Suatu malam, datang seorang ustaz dari kota. Ceramah di mushola.
“Judi itu haram! Siapa yang melakukannya akan mendapat azab!”
Semua mengangguk. Setelah ceramah, Kang Dul mendekat ke Udin.
“Din, ustaz itu tahu gak caranya nutup situs judi?”
Udin tertawa kecil. “Kayaknya enggak.”
“Ya percuma,” kata Kang Dul. “Ngomong haram semua orang juga tahu. Tapi nutupnya gimana?”
Mbah Majid yang mendengar hanya tersenyum. “Ilmu tanpa solusi itu seperti lampu tanpa listrik. Terang di teori, gelap di kenyataan.”
Beberapa minggu kemudian, Pak Lurah mengumpulkan beberapa orang di balai desa.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” katanya tegas.
“Terus kita mau apa?” tanya Pak RT.
“Saya punya teman. Ahli IT. Dia bilang sebenarnya sistem judi online bisa dilumpuhkan…”
“Serius?” Udin langsung antusias.
“Tapi harus diam-diam.”
“Kenapa diam-diam?”
Pak Lurah menatap satu per satu.
“Karena kalau ketahuan, bisa jadi kita yang diserang.”
Semua merinding.
Beberapa malam setelah itu, Udin membantu sang ahli IT yang datang diam-diam ke kampung.
Laptop dibuka. Kabel disambung. Kode-kode aneh muncul di layar.
“Ini bukan sekadar blokir,” kata si ahli. “Ini memutus akses dari sumbernya.”
“Kayak mematikan sumur, bukan cuma menutup keran,” kata Udin.
“Persis.”
Seminggu kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Aplikasi judi online tidak bisa dibuka. Situs-situsnya error.
“Loh kok gak bisa?” terdengar keluhan di mana-mana.
Awalnya orang bingung. Lalu panik. Warung Bu Karti ramai lagi.
“Kok mati semua ya?” tanya Kang Dul.
Udin pura-pura polos. “Mungkin servernya rusak.”
Mbah Majid tersenyum dalam diam. Tapi kemudian, hal yang lebih menarik terjadi. Mulai ada orang-orang yang gelisah berlebihan.
“Ini harus dilaporkan!” kata seseorang.
“Ini merugikan!” teriak yang lain.
Pak RT mengernyit. “Lho, kok pada marah?”
“Karena mereka kehilangan sesuatu,” jawab Mbah Majid.
“Apa?”
“Keuntungan.”
Satu per satu mulai terbongkar. Ada yang ternyata jadi agen. Ada yang jadi perantara. Bahkan ada yang punya koneksi ke bandar luar kota. Warga kampung terkejut.
“Ternyata selama ini mereka…” gumam Bu Karti.
“Ya,” kata Mbah Majid. “Air yang tenang itu ternyata dalam.”
Pak Lurah hanya tersenyum kecil.
“Kadang untuk melihat siapa yang kotor, kita harus mengeringkan airnya dulu,” sela Mbah Majid lagi.
Kampung itu perlahan berubah. Orang-orang mulai kembali ke pekerjaan lama. Warung Bu Karti tetap ramai, tapi bukan karena keluhan kalah judi. Anak-anak tidak lagi melihat orang tuanya marah karena layar ponsel.
Suatu malam, Pak RT bertanya pada Mbah Majid.
“Mbah, ini berarti masalah selesai?”
Mbah Majid menggeleng.
“Masalah itu seperti rumput. Dipotong hari ini, bisa tumbuh lagi besok.”
“Terus kita harus bagaimana?”
“Terus menjaga. Dan terus belajar.”
Udin menatap langit malam.
“Berarti yang penting bukan cuma mematikan judinya, ya Mbah?”
“Iya, Din,” jawab Mbah Majid. “Yang lebih penting adalah menghidupkan akal sehat dan hati.”
Angin malam kembali berhembus. Kali ini terasa lebih ringan. Di Kampung Sumber Rejeki, seseorang pernah menekan tombol “spin” terakhir.
Dan sejak itu, mereka belajar bahwa rejeki bukan soal keberuntungan, tapi soal kesadaran. Dan negara?
Entahlah. Mungkin masih sibuk memblokir satu per satu.
Sementara di sebuah kampung kecil, beberapa orang awam justru diam-diam sudah menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi pekerjaan besar sebuah bangsa.**
PP Laa Roiba, Muaraenim-09 Maret 2026
BACA ARTIKEL TERKAIT :
















