YOGYAKARTA | KabatSriwijaya.NET — Kegiatan seni lingkungan bertajuk Daulat Sampah #3 yang digelar pada 7–8 Februari 2026 di Bleberan, Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sempat mendapat klarifikasi dari aparat kepolisian. Koordinator seniman kegiatan tersebut, Teguh Paino (52), mengaku didatangi dua anggota intel dari Polres Kulonprogo di rumahnya di Giripeni, Wates, pada 5 Februari 2026.
Teguh menuturkan, awalnya ia dihubungi melalui telepon dan mengira terkait pelanggaran lalu lintas. Namun, aparat menanyakan maksud, tujuan, dan manfaat kegiatan Daulat Sampah yang akan dilaksanakan di Kampung Bleberan, Banaran, Galur.
“Kami jelaskan bahwa kegiatan ini murni gerakan seni dan lingkungan yang sudah rutin dilaksanakan sejak 2024,” ujar Teguh.
Menurut dia, Daulat Sampah pertama kali digelar di Muara Sungai Serang, Glagah, pada 2024. Kegiatan berlanjut pada 2025 di Muara Sungai Progo dengan melibatkan mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Trisik. Tahun ini, kegiatan dipusatkan di Bleberan, Banaran. Teguh bertindak sebagai koordinator seniman dan kegiatan, sedangkan konsep acara digagas oleh Jajang Kawentar.

Melalui tema “Ecology Monument”, ratusan seniman dan warga terlibat dalam pembuatan instalasi seni dan pertunjukan (performance art) berbahan limbah organik seperti kayu dan bambu yang terbawa arus sungai. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan konservasi mangrove dan pelepasan ikan di sungai.
Teguh menjelaskan, Bleberan merupakan kawasan rintisan wisata sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bagi pengunjung dan masyarakat luas, termasuk yang mengikuti melalui media sosial. “Seniman diberi kebebasan berekspresi merespons lingkungan sekitar. Limbah kayu dan bambu dari muara Sungai Progo dimanfaatkan menjadi karya di tepian sungai,” katanya.
Sejumlah kelompok seni terlibat, antara lain Perbumi, Barbaradosz, Guyub Organic, Sketsa Titik Nol, Kampung Satwa, serta mahasiswa UNY dan UMY. Peserta datang dari berbagai daerah di Yogyakarta dan luar kota, menyesuaikan waktu pada akhir pekan pelaksanaan kegiatan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banaran, Edi Yulianto, mengatakan dirinya juga menerima telepon dari intel kepolisian sebelum kegiatan berlangsung. Aparat menanyakan penyelenggara, rangkaian acara, dan pihak-pihak yang terlibat.

Secara terpisah, Edi menilai kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi warga. “Kegiatan ini menghidupkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kami belajar bahwa karya seni instalasi bisa dibuat dari apa yang ada di sekitar, termasuk sampah,” ujarnya.
Salah satu peserta, Erwan Sukendar, anggota Polsek Galur, menyebut Daulat Sampah sebagai ruang edukasi lingkungan melalui seni. Limbah organik seperti kayu, bambu, dan kelapa yang banyak ditemukan di muara Sungai Progo dan Sungai Serang diolah menjadi karya yang menarik secara visual.
“Ini kolaborasi seni dan kepedulian lingkungan yang dapat mengubah pandangan negatif terhadap sampah menjadi apresiasi karya seni, sekaligus mendidik masyarakat, terutama anak-anak, tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam,” kata Erwan, Senin (20/2/2026).
TEKS / FOTO : JAJAG R KAWENTAR (YOGYAKARTA)



















