JATMAN Muara Enim Teguhkan Tata Kelola Berbasis Hati, Dzikir, dan Thariqah Mu’tabarah

Thariqah Mu’tabarah, salahs atu syarat bisa bergabung dengan JATMAN

AGAMA, Islam42 Dilihat

Muara Enim |  KabarSriwijaya.NET — Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Muara Enim menegaskan kembali jati diri organisasi sebagai wadah jamaah tarekat yang seluruh gerak organisasinya berpijak pada kebeningan hati, bimbingan dzikir, serta komitmen kuat terhadap thariqah mu’tabarah sebagaimana ditetapkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama (NU).

Penegasan tersebut mengemuka dalam rangkaian musyawarah dan penetapan kepengurusan Idarah Syu’biyyah JATMAN Muara Enim, yang dilaksanakan dengan pendekatan ruhani, tanpa mekanisme politik organisasi modern seperti pleno-pleno formal atau lobi jabatan.

Sesepuh JATMAN Muara Enim, Kiai Abdul Majid, menegaskan bahwa JATMAN bukan organisasi biasa yang digerakkan oleh ambisi struktural.

“JATMAN itu kumpulan jamaah yang sudah bertarekat. Maka seluruh gerak, fisik maupun organisatoris, harus dibimbing dan bermula dari hati. Kita diajarkan menjaga hati, menjaga diri, dan meneladankan akhlak yang baik,” ujarnya, Sabtu, 10 Januari 2026, di Hotel Serasan Sekundang Muara Enim.

Menurutnya, karena itulah JATMAN tidak mengenal Pleno I, II, atau III, apalagi lobi-lobi kepentingan untuk menentukan pimpinan.

“Tidak ada lobi siapa jadi ketua. Semua dipilih atas dasar nurani dan diputuskan secara terbuka. Sebab personel JATMAN ini dijaga ruhnya, dan di dalam ruh itu ada rahmat Allah,” tegasnya.

Kiai Abdul Madjd (batik hijau di tengah), bersama para Kiai lainnya dalam Musyawarah JATMAN, Sabtu, 10 Januari 2026

Kiai Abdul Majid kemudian memberi penekanan spiritual tentang pentingnya dzikir sebagai “pembungkus” manusia.

“Kalau fisik ini tidak dibungkus kulit, dalam dunia tarekat kalau tidak dibungkus dzikir, maka wujud manusia itu sangat menjijikkan. Bayangkan tangan kita terkelupas kulitnya dan yang terlihat tulang. Begitu pula hati tanpa dzikir,” ungkapnya.

Karena itu, ia menegaskan, seluruh personel JATMAN harus menjauhkan diri dari rasa tidak baik—prasangka, kebencian, dan ambisi pribadi—termasuk dalam proses penetapan kepemimpinan.

Tegas soal Thariqah Mu’tabarah

Dalam kesempatan yang sama, JATMAN Muara Enim juga menyinggung polemik yang kerap muncul di tengah masyarakat mengenai thariqah mu’tabarah dan ghairu mu’tabarah.

Kiai Masjid, salah satu anggota JATMAN Sumsel, menegaskan bahwa para ulama NU telah memiliki sikap yang jelas dan tegas terkait hal tersebut.

“Para ulama NU sepakat, seluruh tarekat yang masuk dan bernaung di JATMAN harus thariqah mu’tabarah. Di Indonesia, ada 45 thariqah yang telah dinyatakan mu’tabarah oleh NU,” jelasnya.

Ia menambahkan, thariqah yang bergabung dengan JATMAN wajib memenuhi kriteria mu’tabarah, baik dari sisi sanad, ajaran, maupun praktiknya.

“JATMAN ini bukan sekadar perkumpulan. JATMAN sekaligus berfungsi mengawasi dan mengawal jamaah thariqah agar tidak menyimpang dan tidak sesat dalam berthariqah,” tegas Kiai Masjid.

Menurutnya, keberadaan JATMAN justru dimaksudkan sebagai pagar keilmuan dan ruhani, agar praktik tasawuf tetap berada dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

Menjaga Kebeningan Batin Jamaah

Sementara itu, Kiai Sukin, Pimpinan Pesantren Miftahul Huda Muaraenim, mengajak seluruh jamaah JATMAN Muara Enim untuk berlapang dada dan menjaga kebeningan batin dalam menyikapi dinamika organisasi.

“Tidak perlu ada rasa suka atau tidak suka terhadap pimpinan yang ditetapkan. Jika masih ada rasa benci di antara personel JATMAN, itu hanya akan menodai hati dan merusak batin yang selama ini sudah kita bersihkan dengan dzikir,” ujarnya.

THARIQAH MU’TABAROH YANG SUDAH DISEPAKATI ULAMA NAHDLATUL ULAMA (NU) 
Sumber : NU Online

Musyawarah Idarah Syu’biyyah JATMAN Muara Enim sendiri digelar pada Sabtu, 10 Januari 2026, di Hotel Serasan Sekundang Muara Enim, dan dihadiri para kiai, mursyid, serta jamaah thariqah dari berbagai wilayah. Musyawarah tersebut menetapkan kepengurusan JATMAN Muara Enim periode 2026–2029, yang dijadwalkan akan dilantik oleh Mudir ‘Ali JATMAN.

Melalui peneguhan tata kelola berbasis hati, dzikir, dan thariqah mu’tabarah ini, JATMAN Muara Enim berharap dapat terus menjaga kemurnian ajaran tasawuf, menghadirkan keteladanan akhlak, serta menebarkan rahmat bagi umat dan masyarakat luas.**

TEKS/FOTO : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *