
Ada satu pertanyaan yang selalu kembali menghampiri saya setiap melihat pergulatan hidup generasi hari ini: dari mana mereka harus belajar keteguhan, kesabaran, dan kelembutan hati?
Dunia yang kita tempati begitu cepat—kadang bising, sering melelahkan. Kita dituntut kuat, tetapi tanpa benar-benar diberi ruang untuk mengenal apa arti kekuatan itu sendiri.
Dalam pusaran zaman yang kian gaduh ini, entah mengapa ingatan saya selalu kembali kepada sosok perempuan yang wafat muda namun meninggalkan cahaya yang tidak pernah padam: Sayyidah Fatimah az-Zahra Radhiyallahu ‘Anha.
Beliau bukan hanya putri Rasulullah SAW, tetapi potret paling jernih tentang bagaimana cahaya keimanan dapat membentuk pribadi yang kokoh tanpa kehilangan kelembutan.
Fatimah bukan sekadar tokoh masa lalu; beliau adalah jawaban atas krisis keteladanan yang kita hadapi hari ini.
Keteguhan dalam Sunyi
Sayyidah Fatimah tumbuh di bawah bayang-bayang perjuangan Nabi. Ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya disakiti, dihina, dan diusir demi menegakkan kebenaran.
Namun, alih-alih tumbuh menjadi pribadi penuh kemarahan, beliau justru menumbuhkan keteduhan.
Di usia yang masih belia, beliau hadir sebagai penguat Rasulullah SAW, membersihkan luka dan debu dari tubuh ayahandanya sepulang berdakwah.
Dari situ kita belajar: keteguhan tidak harus berwujud keras; kadang ia justru lahir dari kelembutan yang tak putus-putus.
Dalam kehidupan modern yang serba kompetitif, manusia didorong untuk menunjukkan kerasnya tekad melalui ambisi dan keberhasilan material.
Padahal Fatimah mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati sering kali hadir dalam bentuk yang paling halus: kesetiaan, kepedulian, dan cinta yang tidak banyak bicara tetapi terus bekerja.
Kesederhanaan yang Kini Hilang Arah
Salah satu pelajaran paling sulit diterima generasi sekarang adalah konsep cukup. Dunia mendesak kita untuk selalu merasa kurang, selalu harus lebih. Namun rumah tangga Fatimah dan Ali menunjukkan wajah lain dari kebahagiaan: kesederhanaan.
Rumah kecil mereka tidak penuh perabot mewah, tetapi penuh dengan keberkahan. Mereka tidak selalu punya makanan lengkap, tetapi selalu punya syukur. Mereka tidak bergelimang harta, tetapi kaya dengan akhlak.
Kita sering bingung mengapa rumah modern terasa penuh tetapi hati penghuninya terasa kosong.
Barangkali sebabnya karena kita terlalu banyak mengisi rumah dengan benda, tetapi terlalu sedikit mengisinya dengan nilai dan pesan ruh ilahiyah.
Fatimah menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, tetapi ruang bagi keberkahan untuk tinggal.
Perempuan dan Martabat yang Terjaga
Di tengah dunia digital yang terus menuntut perempuan untuk selalu tampil sempurna, menarik, dan serba publik, Fatimah berdiri sebagai teladan kesucian martabat.
Kesuciannya bukan kelemahan. Justru dari situlah beliau memperoleh kekuatan yang melampaui zaman. Ia menjaga kehormatan bukan karena aturan sosial, tapi karena kesadaran spiritual.
Ia menempatkan diri bukan sebagai objek pandang, melainkan subjek kehormatan.
Nilai ini terasa sangat penting hari ini. Kita butuh perempuan seperti Fatimah—bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk menjadi cermin bagaimana perempuan memaknai dirinya dalam dunia yang sering memperdagangkan citra.
Sabar yang Tidak Menunggu Balasan
Sabar sering dipahami sebagai “menahan diri sambil berharap sesuatu berubah.” Tetapi sabar yang diajarkan Fatimah berbeda.
Ia sabar bukan karena menunggu situasi membaik, melainkan karena yakin bahwa Allah selalu mengatur dengan hikmah.
Rumah tangganya tidak selalu mudah; kemiskinan menghampiri, pekerjaan rumah melelahkan, suami sibuk dengan amanah besar, namun ia tetap menjaga ketenangan. Bahkan ketika sakit menjelang wafat, ia tetap memilih diam dalam rida.
Dalam hidup kita, sabar sering kali tergerus oleh keinginan instan. Kita tidak tahan menunggu, tidak kuat menanggung, tidak sabar pada diri sendiri maupun pada orang lain. Kita ingin hasil cepat tanpa mau merawat proses.
Fatimah mengajarkan sabar sebagai ketenangan hati yang bersandar kepada Allah, bukan sekadar menunggu perbaikan keadaan.
Menghidupkan Kembali Cahaya Itu
Hari ini, keteladanan Sayyidah Fatimah bukan hanya menjadi cerita yang dibacakan dalam majelis, tetapi obat bagi luka-luka sosial kita:
- Keluarga yang tercerai-berai oleh ego dan ambisi,
- Generasi muda yang kehilangan arah moral,
- Perempuan yang kehilangan ruang untuk menjadi mulia,
- Laki-laki yang bingung memahami apa arti tanggung jawab,
- dan masyarakat yang haus keteduhan di tengah hiruk-pikuk.
Cahaya Fatimah adalah cahaya sabar, cahaya kasih sayang, cahaya kelembutan, cahaya kesucian niat. Dan dunia yang kita tempati hari ini sangat membutuhkan cahaya seperti itu.
Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk kembali kepada nilai-nilai yang menegakkan manusia sebagai manusia.
Karena sesungguhnya, ketika teladan Fatimah hidup di hati generasi kita, maka peradaban pun mendapat kembali cahaya pembimbingnya.**
Palembang, 10 Desember 2025 | Penyunting Naskah : Annisatun Nurul Alam











