Di tengah kabut pesisir utara Pekalongan, kamera berputar, dan seorang lelaki Palembang berdiri di depan rumah joglo tua dengan tatapan tajam. Dialah Oim Ibrams, aktor film dan sinetron asal Palembang, yang kini dipercaya memerankan tokoh utama dalam film horor terbaru garapan Teguh Santosa berjudul Nyupang.

Film ini mengisahkan mitos pesugihan yang beredar di masyarakat pesisir Jawa — kisah tentang manusia yang ingin kaya tanpa kerja keras. “Bagi saya, Nyupang bukan sekadar film horor, tapi cermin tentang keserakahan manusia modern,” ujar Oim kepada pers.
“Lewat peran ini, saya ingin menunjukkan bahwa aktor dari Palembang juga bisa bermain di panggung nasional tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.”
Langkah Panjang dari Teater ke Film Nasional
Oim bukan nama asing di panggung seni Sumatera Selatan. Ia tumbuh dari dunia teater dan komunitas film independen Palembang sebelum akhirnya menembus layar nasional.
Dalam Nyupang, ia beradu akting dengan Ghea Agogo, pendatang baru asal Bogor, serta dua pemain cilik: Kenya Yuniliani dari Palembang dan Haluma Eliza dari Depok.
Film ini digarap oleh rumah produksi Tesis Pictures dan disutradarai langsung oleh Teguh Santosa — sineas asal Pekalongan yang juga menulis skenarionya.
Lokasi pengambilan gambar dilakukan di Batang Kalisalak, kawasan pantai utara Slamaran Degayu Pekalongan, dan beberapa titik eksotis lainnya di Jawa Tengah.
“Saya senang bisa bergabung dalam proyek lintas daerah seperti ini,” kata Oim. “Kita punya banyak potensi aktor di luar Jawa, hanya butuh kesempatan untuk membuktikan diri.”

Menurut Teguh, keterlibatan Oim memberikan warna tersendiri. “Dia punya ekspresi kuat dan kedisiplinan tinggi dari latar teaternya,” ujar sang sutradara.
“Oim bukan hanya aktor, tapi juga pembangun suasana di lokasi syuting. Ia membawa energi khas Palembang — tegas, berani, tapi juga hangat.”
Kisah Mistis di Balik Kamera
Sebagai film horor, Nyupang tentu tak luput dari cerita di balik layar yang menegangkan. Salah satu kejadian terjadi ketika seorang pemain pendukung asal Pekalongan, Budah Akilalova, tiba-tiba kerasukan saat pengambilan gambar malam hari.
“Awalnya kami kira cuma improvisasi,” kenang Oim. “Tapi ternyata dia benar-benar kehilangan kesadaran. Akhirnya kami berhenti syuting dan bersama-sama berdoa.”
Bagi Oim, pengalaman semacam itu justru memperkuat kesan spiritual film ini. “Mungkin karena cerita Nyupang dekat dengan dunia gaib, energi di lokasi syuting juga ikut terbawa. Tapi saya percaya, kalau niat kita baik, semua akan aman.”
Proses produksi yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan membuat para kru dan pemain saling menjaga. “Kami semua seperti keluarga,” ujar Oim. “Tidak ada jarak antara pemeran utama, kru, atau anak-anak kecil di lokasi. Semua bekerja dengan hati.”
Palembang di Peta Perfilman Nasional
Bagi dunia perfilman daerah, kehadiran Oim Ibrams di layar nasional membawa semangat baru. Ia menjadi representasi bahwa talenta dari luar Jakarta pun bisa bersaing di industri film nasional.
“Sudah waktunya Palembang dikenal bukan hanya lewat pempek atau Jembatan Ampera,” ucapnya sambil tersenyum. “Tapi juga lewat karya seni dan film yang berakar pada budaya lokal.”
Menurutnya, aktor daerah sering kali menghadapi keterbatasan kesempatan. “Padahal banyak bakat hebat di Palembang, di komunitas teater, kampus, dan pesantren,” katanya. “Kita hanya butuh jembatan — proyek film seperti Nyupang ini adalah salah satunya.”
Menanti Getar Horor dan Pesan Moral “Nyupang”
Kini film Nyupang telah memasuki tahap akhir penyelesaian dan direncanakan segera tayang di berbagai platform dan bioskop nasional. Selain menawarkan ketegangan khas horor lokal, film ini juga menyisipkan pesan moral: bahwa kekayaan tanpa kerja keras hanya akan membawa petaka.
“Lewat film ini, saya ingin mengingatkan bahwa setiap manusia punya ‘nyupang’-nya sendiri,” ujar Oim dengan nada reflektif. “Mungkin bukan pesugihan, tapi cara-cara cepat yang menipu diri. Itulah horor yang sebenarnya.”
Bila nanti Nyupang resmi rilis, penonton tak hanya akan menyaksikan kisah mistis dari pesisir Pekalongan, tapi juga menyaksikan langkah besar seorang aktor dari Palembang — yang menapaki jalannya menuju panggung film nasional dengan semangat, kejujuran, dan cinta pada budaya.
Teks & Foto: Tim Tesis Pictures
Editor Seni & Budaya : Imron Supriyadi















