Film, Kopi, dan Kota yang Lupa Bercerita

Catatan Kecil Refleksi dari KCFI – Dinas Pariwisata Kota Palembang

Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Teater Batu Hitam Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Dari luar Palembang, saya membayangkan di ruang kerja Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, udara AC berembus lembut, tapi suasana lebih hangat dari secangkir kopi robusta Pagaralam.

Pada peristiwa itu, saya hanya bisa menyaksikan melalui alam imaginasi dan membaca teks berita di dunia maya. Ada sekelompok pegiat seni film di Sumsel yang datang bukan membawa proposal proyek, tapi membawa mimpi.

Mereka dari Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumsel, datang bersilaturahmi, bukan melobi. Datang dengan keyakinan bahwa film bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan — dan pariwisata bukan sekadar destinasi, tapi cerita tentang peradaban.

Pak Irman, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, menyambut dengan kalimat yang lebih indah daripada tagline birokrasi mana pun: “Film adalah jendela yang memperlihatkan keindahan kota ini kepada dunia.”

Saya membaca berita itu tersenyum sendiri. Di tengah banyak pejabat yang lebih hafal daftar anggaran daripada daftar doa, kalimat itu terasa seperti cahaya.

Ia mengandung visi, juga iman. Sebab dalam bahasa spiritual; siapa yang menyalakan jendela, berarti siap membuka diri kepada cahaya.

Ketika Pemerintah Mulai Menyentuh Imajinasi

Kita sering mengira pembangunan itu cuma soal beton, trotoar, dan tugu. Padahal yang lebih dibutuhkan bangsa ini adalah pembangunan imajinasi. Apa gunanya kota bersih kalau warganya kehilangan kemampuan bermimpi? Apa gunanya jalan lebar kalau pikiran warganya buntu?

BACA ARTIKEL TERKAIT :

Maka ketika Dinas Pariwisata Palembang mulai bicara soal film, saya kira ini langkah penting. Akhirnya pemerintah mulai menyentuh wilayah yang paling manusiawi: rasa dan cerita. Karena hanya lewat cerita, manusia bisa saling memahami.

Saya pernah bilang pada para santri Teater Batu Hitam di Ponpes Laa Roiba Muaraenim dalam sebuah lathan, (Malam Minggu, April 2024). Saya bilang : “Kita ini bangsa yang lebih sering nonton ketimbang bercermin.”

FOTO BERSAMA – Usai Audiensi, Jajaran Pengurus Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumsel dan Dinas Pariwisata Kota Palembang melakukan foto bersama, Senin (27/10/2025).

Kita suka menonton drama di layar, tapi jarang menonton drama di hati sendiri. Padahal kalau mau jujur, hidup kita ini sinetron panjang tanpa sutradara, kadang naskahnya absurd, tapi selalu penuh hikmah.

Palembang Lupa Bercerita

Palembang itu indah, tapi sering lupa bercerita tentang keindahannya sendiri. Sungai Musi masih mengalir, tapi narasi tentangnya terserak di tepian. Seperti orang tua yang punya kisah masa muda heroik tapi tak sempat menceritakannya pada cucu.

Maka ketika KCFI Sumsel datang membawa gagasan untuk membuat film, dokumenter, dan promosi wisata berbasis budaya, saya teringat satu doa Nabi: “Ya Allah, tunjukkanlah kami kebenaran itu sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya.”

Film — bila digarap dengan hati yang jernih — bisa menjadi sarana tabayyun visual, cara baru memahami kebenaran. Bukan hanya tentang tempat, tapi tentang nilai. Bahwa kota ini tidak hanya punya ikon Jembatan Ampera, tapi juga punya jembatan batin antara masa lalu dan masa depan.

Film Menjadi Dakwah, dan Kamera Menjadi Mimbar

Saya tahu, banyak orang masih curiga pada kata “film”. Di pesantren pun, dulu ada yang menganggap kamera itu alat setan. Diantara ustadz juga masih mengharamkan seni.

Tapi sekarang, santri sudah mulai belajar editing, dan ustaz mulai punya channel YouTube. Dunia berubah, dan dakwah juga harus menemukan bahasanya sendiri. Film bisa menjadi mimbar dakwah yang tak berkhotbah, menyentuh hati tanpa menggurui.

Lihatlah Nabi Yusuf, yang kisahnya penuh intrik, cinta, dan kesabaran — kalau di zaman sekarang mungkin sudah difilmkan oleh KCFI dengan judul “120 Jam di Sumur Kenangan”. Tapi nilai-nilai Yusuf tetap hidup, bukan karena keindahan wajahnya, tapi karena keteguhan moralnya.

Itulah yang saya harap bisa terjadi dalam dunia film daerah kita. Bahwa sinema bukan sekadar urusan artistik, tapi juga etik. Bahwa sutradara bukan hanya pencipta gambar, tapi juga penyampai hikmah.

Seni, Birokrasi, dan Iman yang Terselip

Saya pernah mengisi workshop teater di lingkungan ASN (guru seni) di sebuah kabupaten di Sumsel. Saya bilang begini: “Bapak Ibu tahu kenapa teater itu penting? Karena di teater, orang diajarkan menghafal naskah dan tetap improvisasi saat listrik padam.” Mereka tertawa. Tapi saya serius. Sebab di birokrasi, kadang terlalu banyak naskah, tapi kurang improvisasi.

Pertemuan antara Dinas Pariwisata dan KCFI itu mengingatkan saya pada kisah Nabi Musa dan Khidir. Yang satu membawa hukum, yang lain membawa hikmah. Pemerintah membawa sistem, seniman membawa makna. Ketika dua hal ini bersatu, barulah lahir kebijakan yang bukan hanya efisien, tapi juga berjiwa.

Pendidikan Imajinasi untuk Generasi Baru

Anak-anak kita sekarang tumbuh dengan layar di tangan. Tapi siapa yang mengarahkan layar itu? Jika film yang mereka tonton cuma berisi kekerasan dan gosip, jangan salahkan mereka kalau kehilangan empati.
Film lokal yang bermutu — yang mengangkat nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas — bisa menjadi pendidikan karakter paling efektif.

Saya teringat pesan Buya Hamka: “Ilmu tidak akan memberi cahaya bila tidak disertai iman, dan iman tidak akan kuat tanpa ilmu.” Begitu pula film: ia tak akan bermakna bila tak disertai nilai. Maka, film bukan sekadar hiburan, tapi ilmu yang menjelma cahaya.

Humor yang Serius, dan Keseriusan yang Lucu

Saya selalu percaya, dalam sebuah adegan film, meski naskahnya serius, ada saja ide liar dari sutradara membuat naskah itu dibuat humor. Bagi saya itu tidak haram. Humor itu bagian dari kecerdasan.

Dalam banyak dialog film yang bagus, justru di situlah kebijaksanaan diselipkan. Meskipun dalam satu hal ini, samai sekarang saya juga sedang banyak belajar, dengan banyak orang.

Saya kira, pemerintah dan komunitas film, harus belajar saling menertawakan diri. Pejabat belajar tersenyum pada kritik, seniman belajar tertawa pada egonya sendiri. Dari situlah lahir harmoni.

Kita sering ingin membuat film yang “serius”, padahal kehidupan rakyat kecil itu sendiri sudah tragis dan penuh komedi. Dari pedagang pempek yang tetap tersenyum walau harga ikan naik, sampai mahasiswa yang kuliah daring tapi sinyalnya menuntut kesabaran tingkat nabi. Semua itu bahan film yang lebih jujur daripada naskah sinetron prime time.

Harapan dan Tekad Besar

Ketika pertemuan itu selesai, kamera ponsel diangkat, senyum-senyum merekah, dan saya tahu: di balik foto sederhana itu ada tekad besar. Tekad untuk menjadikan Palembang bukan hanya kota yang dikunjungi, tapi kota yang diceritakan.

Sebab bangsa yang berhenti bercerita akan kehilangan ingatannya. Dan bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah digantikan oleh narasi orang lain.

Maka biarlah film, seni, dan teater menjadi ruang pendidikan yang hidup.
Karena di balik setiap adegan, ada nilai. Di balik setiap kamera, ada doa. Dan di balik setiap cerita, ada jalan pulang kepada kemanusiaan.

Palembang tidak kekurangan keindahan. Ia hanya butuh lebih banyak orang yang mau menceritakannya dengan cinta. Dan barangkali, sinema adalah cara Tuhan mengajarkan kita bahwa keindahan itu harus diperjuangkan — dengan cahaya, bukan sorotan. **

Pesantren Laa Roiba- Muaraenim, 28 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *