Palembang | KabarSriwijaya.NET – Di ruang kerja Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, aroma teh kotak dingin bercampur dengan tawa kecil dan percakapan yang cair.
Senin siang itu, 27 Oktober 2025, ruangan birokrasi berubah menjadi ruang ide. Di balik meja panjang, beberapa pejabat tampak mendengarkan dengan saksama.
Audiensi diterima langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Irman, S.STP, didampingi Sekretaris Dinas, para Kepala Bidang, serta beberapa staf yang berkompeten di bidang promosi dan pengembangan pariwisata.
Di hadapan mereka, para penggerak Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan memaparkan rencana besar: menggabungkan bahasa film dengan pesona pariwisata.
Pertemuan itu sederhana, tapi punya gema yang lebih panjang dari durasinya. KCFI datang memperkenalkan diri dan sekaligus membawa kabar perdana—rencana bedah buku Perang Kota 120 Jam karya H. Asnawi Mangkualam, sebuah teks perjuangan yang mereka lihat potensial digarap menjadi kisah sinema lokal.

Irman, menyambut dengan hangat. “Film adalah jendela yang memperlihatkan keindahan kota ini kepada dunia,” ujarnya. “Kami siap bersinergi untuk karya yang mengangkat potensi wisata dan budaya Palembang.”
Di samping Irman, Yosep Suterisno, Ketua KCFI Sumsel, mengangguk pelan. Baginya, sinergi dengan pemerintah kota bukan sekadar formalitas, tapi langkah strategis.
“Sebagus apa pun cerita, seterkenal apa pun aktornya, bila strategi promosinya keliru, hasilnya tak akan maksimal,” katanya.
Sutradara Festival Sriwijaya tahun 2024 dan 2025 di Palembang ini percaya, pariwisata bisa hidup dalam bentuk gambar. Kata Yosep, lewat film dan dokumenter, Sungai Musi, jembatan Ampera, dan warisan kuliner Palembang bisa tampil dalam bahasa visual yang menggugah rasa ingin tahu.
Diskusi mengalir seperti arus sungai yang tak ingin berhenti. Dari ide kolaborasi film bertema wisata, pelatihan bagi sineas muda, hingga strategi promosi digital berbasis video.
Di antara percakapan, muncul kesadaran bersama: bahwa pariwisata butuh narasi, dan narasi itu hanya bisa hidup bila diolah dengan sensitivitas seni.
Audiensi yang tadinya terasa formal berubah menjadi ruang tukar gagasan antara birokrasi dan komunitas kreatif—dua dunia yang biasanya berjauhan, kini saling mendekat karena visi yang sama.
Menjelang akhir pertemuan, kamera ponsel diangkat. Klik. Satu momen dibekukan jadi gambar. Tapi foto itu bukan sekadar dokumentasi kegiatan dinas.
Ia menandai awal dari perjalanan panjang: ketika cahaya kamera bertemu dengan cahaya budaya. Sebuah langkah kecil yang, jika dijaga konsistensinya, bisa menyalakan api baru dalam peta film dan pariwisata Palembang.
Teks: Imron Supriyadi
Foto: Dok. Dinas Pariwisata Palembang













