Membangun Kerukunan dan Keberlanjutan Melalui Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi

ndonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh beragam keyakinan, budaya, dan pandangan hidup

Oleh Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I, Kakanwil Kemenag Sumsel,
Oleh Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I, Kakanwil Kemenag Sumsel.

Ada satu kenyataan yang tidak bisa kita sangkal: Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh beragam keyakinan, budaya, dan pandangan hidup.

Di negeri ini, pluralitas bukan sekadar fakta sosial, tetapi anugerah Tuhan yang menuntut pengelolaan cerdas, arif, dan berkeadaban.

Namun, sebagaimana dua sisi mata uang, keragaman bisa menjadi kekayaan yang menguatkan, sekaligus menjadi sumber kerentanan bila tidak dirawat dengan cinta dan kesadaran spiritual.

Di titik inilah, gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan ekoteologi yang digagas oleh Menteri Agama RI, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, menjadi sangat relevan dan mendesak.

Gagasan ini tidak hanya menyentuh aspek pendidikan keagamaan semata, melainkan menyentuh jantung peradaban: bagaimana manusia memaknai iman, relasi sosial, dan tanggung jawab ekologis secara utuh.

Cinta Sebagai Fondasi Keberagamaan

Cinta adalah bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat agama, budaya, bahkan ideologi. Dalam konteks keagamaan, cinta bukanlah sentimentalitas, melainkan energi spiritual yang menggerakkan kemanusiaan menuju kedamaian dan keadilan.

Islam sendiri menegaskan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW dengan kalimat yang amat terang: “Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” — Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.

Maka, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar pendekatan pedagogis, melainkan manifestasi dari ajaran rahmatan lil ‘alamin itu sendiri. Ia meneguhkan hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia (humanizing human being), bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter spiritual yang penuh kasih, empatik, dan terbuka terhadap perbedaan.

BACA ARTIKEL TERKAIT :

Kurikulum ini mengajarkan bahwa mencintai Tuhan harus diwujudkan dalam cinta kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Ia mengajak peserta didik untuk memahami bahwa kasih sayang bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral tertinggi. Melalui cinta, manusia belajar menghargai keberagaman, menolak kebencian, dan merawat kehidupan.

Menyatukan Relasi Iman dan Alam

Namun, cinta tidak boleh berhenti pada relasi sosial antar manusia. Ia juga harus terwujud dalam hubungan manusia dengan alam. Di sinilah konsep ekoteologi menjadi penting. Ekoteologi adalah upaya membaca ulang teks-teks keagamaan dengan kesadaran ekologis — bahwa bumi, air, udara, tumbuhan, dan seluruh makhluk adalah bagian dari sistem kehidupan yang sakral.

Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali menegaskan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56). Ayat ini bukan hanya seruan moral, tetapi mandat spiritual agar manusia menjaga keseimbangan ekologis.

Sayangnya, dalam praktik keberagamaan kita, kesadaran ekologis sering kali terlupakan. Ritual dan ibadah berjalan rutin, tetapi perilaku terhadap lingkungan sering kontradiktif: penebangan hutan, pencemaran sungai, eksploitasi tambang tanpa kendali. Akibatnya, bumi menjerit, cuaca kian ekstrem, dan bencana ekologis menjadi langganan.

Ekoteologi mengingatkan kita bahwa keberagamaan sejati harus menumbuhkan kepekaan ekologis. Ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma dalam tindakan menjaga bumi sebagai amanah. Inilah bentuk cinta yang paling konkret: merawat rumah bersama agar generasi mendatang masih dapat menikmati udara segar, air bersih, dan tanah yang subur.

Kurikulum untuk Masa Depan

Mengapa kedua gagasan ini penting untuk pendidikan kita? Karena keduanya saling melengkapi. Kurikulum Berbasis Cinta membangun kesadaran moral dan spiritual, sementara ekoteologi membangun kesadaran ekologis. Jika keduanya disatukan dalam sistem pendidikan, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya beriman dan berilmu, tetapi juga berkeadaban ekologis.

Kementerian Agama melalui berbagai satuan pendidikan — madrasah, pesantren, maupun pendidikan agama di sekolah umum — memiliki tanggung jawab besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam pembelajaran.

Misalnya, dalam pelajaran Fikih, siswa tidak hanya diajarkan hukum halal-haram, tetapi juga prinsip halalan thayyiban yang berkelanjutan. Dalam pelajaran Akidah Akhlak, cinta kepada Allah diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial dan ekologis.

Dengan demikian, pendidikan agama tidak lagi berhenti pada ritual, melainkan membentuk kesadaran spiritual yang aktif — kesadaran yang menolak intoleransi, menolak kekerasan, dan menolak eksploitasi alam.

Kerukunan Umat dan Ekologi Sosial

Kerukunan umat beragama di Indonesia bukan sekadar soal toleransi antar iman, melainkan juga soal bagaimana kita bersama-sama menjaga bumi yang sama. Konflik antar umat seringkali lahir bukan hanya karena perbedaan teologis, tetapi juga karena ketimpangan sosial dan perebutan sumber daya alam.

Maka, membangun kerukunan sejati berarti juga membangun ekologi sosial yang adil dan lestari. Dalam hal ini, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi alat penting untuk membangun kesadaran kolektif: bahwa kita semua adalah bagian dari satu sistem kehidupan. Bila satu rusak, semuanya akan terdampak.

Sejalan dengan visi besar Kementerian Agama, kita ingin meneguhkan bahwa pendidikan agama harus melahirkan manusia yang beriman, berakhlak, dan berperadaban ekologis. Kerukunan bukan hanya harmoni sosial, tetapi juga harmoni ekologis.

Menjawab Tantangan Intoleransi dan Krisis Lingkungan

Dua tantangan terbesar bangsa kita hari ini adalah intoleransi dan krisis lingkungan. Keduanya lahir dari akar yang sama: krisis cinta. Ketika manusia kehilangan cinta, ia mudah membenci; ketika manusia kehilangan rasa hormat pada alam, ia mudah merusaknya.

Kurikulum Berbasis Cinta hadir untuk mengembalikan esensi itu — agar manusia kembali sadar bahwa setiap kehidupan memiliki nilai. Dalam ruang kelas, anak-anak harus belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Di sisi lain, ekoteologi mengajarkan bahwa menanam pohon, mengurangi sampah plastik, atau menjaga sungai tetap bersih, adalah bagian dari ibadah.

Inilah bentuk pendidikan spiritual yang kontekstual, yang menjawab realitas zaman. Kita tidak bisa berharap kerukunan tumbuh dari dogma semata, tetapi dari pendidikan yang menumbuhkan cinta dan tanggung jawab ekologis secara nyata.

Penutup: Dari Palembang untuk Indonesia

Sebagai bagian dari Kementerian Agama, kami di Kanwil Kemenag Sumatera Selatan berkomitmen menjadikan Kurikulum Berbasis Cinta dan konsep Ekoteologi sebagai arus utama dalam pendidikan dan dakwah.

Palembang, dengan keragaman etnis dan keyakinannya, menjadi laboratorium yang ideal untuk mengimplementasikan gagasan ini.

Kita percaya, cinta adalah energi yang tidak pernah habis. Ia menumbuhkan harapan, memperkuat kerukunan, dan menghidupkan bumi yang kita pijak. Bila cinta menjadi fondasi berpikir dan bertindak, maka keberagamaan kita tidak akan melahirkan konflik, melainkan kedamaian yang menyejukkan.

Mari kita rawat Indonesia dengan cinta. Mari kita jaga bumi dengan iman. Sebab di antara dua hal itu — cinta dan iman — terletak masa depan kemanusiaan.**

—————

(Opini ini ditulis langsung oleh Dr. H. Syafitri Irwan, Kakanwil Kemenag Sumsel, sebagai refleksi atas paparan beliau dalam Rakor Kerukunan Umat Beragama yang digelar oleh Kesbangpol Sumatera Selatan di Palembang, 9 Oktober 2025.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *