Kurikulum Berbasis Cinta: Pendidikan yang Menyembuhkan Luka Bangsa

Semoga Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar kebijakan, tapi gerakan spiritual kebangsaan

Oleh KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom, Pendiri dan Pimpinan Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Di tengah kegaduhan politik dan hiruk pikuk sosial yang kerap menyesakkan dada, tiba-tiba saya mendengar kabar yang menenangkan: Kementerian Agama sedang menggagas Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Sebuah istilah yang, bagi sebagian orang, mungkin terdengar utopis — seolah pendidikan bisa disembuhkan dengan cinta.

Namun bagi saya, cinta justru satu-satunya jalan yang tersisa bagi bangsa yang kian kehilangan kelembutan.

Kabar itu datang dari Palembang. Dalam Rapat Koordinasi Kerukunan Umat Beragama yang digelar Kesbangpol Sumsel, Kakanwil Kemenag Sumsel, Dr. H. Syafitri Irwan, menjelaskan arah baru pendidikan agama yang dirancang oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar.

Intinya: membangun peradaban kasih, menanamkan spiritualitas ekologis, dan menumbuhkan kesadaran bahwa beragama bukan sekadar melafalkan ayat, tetapi menebarkan rahmat.

Saya ingin mengapresiasi, sekaligus menantang gagasan ini dengan kasih sayang yang kritis — sebagaimana seharusnya cinta bekerja: ia menumbuhkan, bukan meninabobokan.

Pendidikan Kita Sudah Lama Kehilangan Jiwa

Kita boleh saja berbangga dengan kurikulum yang berganti nama dan bentuk setiap lima tahun. Tapi mari kita jujur, berapa banyak kurikulum yang pernah mengajarkan “bagaimana mencintai”?

Kementerian Agama Republik Indonesia dengan meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Peluncuran yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (24/7/2025)

Sejak lama, pendidikan kita lebih suka berbicara tentang hafalan, ujian, sertifikasi, dan ranking. Kita jarang bicara tentang bagaimana anak-anak kita memeluk temannya yang berbeda agama. Kita tidak terbiasa menilai kecerdasan emosional, apalagi kasih sayang ekologis.

Dalam salah satu ceramahnya, Prof. Nasaruddin Umar mengatakan:

“Cinta adalah energi spiritual tertinggi. Tanpa cinta, semua ibadah kehilangan maknanya.”

Pernyataan itu, jika kita pahami dalam konteks pendidikan, sesungguhnya adalah kritik terhadap sistem pendidikan nasional kita yang sudah terlalu lama berjalan tanpa jiwa. Kita mencetak anak-anak cerdas secara intelektual, tapi miskin empati. Kita membangun gedung sekolah megah, tapi tidak membangun ruang batin yang hangat.

Cinta Sebagai Epistemologi

Di Barat, filsuf besar seperti Erich Fromm menulis buku The Art of Loving, seni mencintai sebagai kemampuan yang bisa dipelajari dan diajarkan. Tapi dalam tradisi Islam, jauh sebelum Fromm menulis itu, Rumi sudah menari di jalan cinta. Ia berkata,

“Jangan belajar cinta dari buku. Belajarlah dari hati yang pernah terluka.”

Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti pada romantisisme. Ia mengajak kita memandang cinta sebagai epistemologi — cara mengetahui dan memahami realitas. Cinta membuat kita mendengar lebih dalam, melihat lebih jernih, dan menilai lebih adil.

Cinta, dalam makna sufistik, bukan perasaan lembek. Ia adalah energi kosmik yang menggerakkan semesta. Dari cinta Tuhan mencipta, dari cinta pula manusia belajar menata. Maka, ketika Kementerian Agama berbicara tentang Kurikulum Berbasis Cinta, sesungguhnya mereka sedang berusaha menata ulang orientasi keberagamaan bangsa ini — dari ritual menuju etika, dari hafalan menuju kesadaran.

Ekoteologi: Ketika Cinta Menyentuh Alam

Saya terkesan ketika Kakanwil Kemenag Sumsel menautkan Kurikulum Berbasis Cinta dengan ekoteologi. Istilah yang mungkin masih terdengar asing, tapi sesungguhnya sangat Qurani.

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut khalifah fil ardh — wakil Tuhan di bumi. Itu bukan gelar kehormatan, tapi mandat tanggung jawab. Namun, apa yang kita lakukan terhadap bumi hari ini? Sungai-sungai kita tercemar, hutan-hutan terbakar, udara kita kian sesak oleh kerakusan industri.

Mungkin inilah waktu yang tepat untuk bertanya: “Apakah kita masih mencintai bumi yang Tuhan titipkan?”

Ekoteologi mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak mungkin benar bila hubungan manusia dengan alam rusak. La tufsidu fil ardh ba’da ishlahiha — janganlah engkau merusak bumi setelah Tuhan memperbaikinya.

Maka pendidikan yang berbasis cinta tidak hanya mengajarkan kasih kepada sesama manusia, tetapi juga kepada pohon, tanah, air, dan udara. Karena semua itu bagian dari ayat-ayat Tuhan yang hidup.

Menanam Cinta di Tengah Intoleransi

Cinta adalah obat bagi luka kebangsaan kita yang paling dalam: intoleransi.
Betapa sering agama dijadikan alasan untuk saling mencurigai, betapa mudah kita melabeli sesat pada yang berbeda.

Dalam konteks ini, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar pendidikan karakter, tapi juga rekonsiliasi sosial. Ia menanamkan kemampuan spiritual untuk memahami tanpa harus menguasai, menghormati tanpa harus sepakat.

Kita harus jujur, bangsa ini tidak kekurangan ustaz, tapi kekurangan kasih. Kita banyak bicara tentang syariat, tapi jarang bicara tentang syafaqah — kelembutan. Kita sibuk mengajarkan “haram-halal”, tapi lupa mengajarkan “maaf dan peluklah”.

Menghidupkan Kembali Ruh Tasawuf dalam Pendidikan

Jika kita telusuri lebih dalam, semangat KBC ini sesungguhnya adalah upaya menghidupkan kembali ruh tasawuf dalam sistem pendidikan modern.

Tasawuf tidak sekadar dzikir dan wirid, tetapi cara pandang bahwa setiap ilmu harus melahirkan kasih. Al-‘Ilmu bila amal majnun, wal ‘amal bila ilmu la yakun — ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.

Saya masih ingat guru saya dulu berkata,

“Tugas pendidikan bukan mencetak orang pandai, tapi orang baik.”

Dan kebaikan itu lahir dari cinta. Dari hati yang bergetar ketika melihat penderitaan orang lain. Dari mata yang basah ketika menyaksikan bumi menangis.

Mungkin inilah yang dimaksud Prof. Nasaruddin Umar: mengembalikan pendidikan agama pada tujuan aslinya — memanusiakan manusia melalui cinta.

Sebuah Catatan Kritis

Namun, izinkan saya memberi catatan kritis.
Kurikulum Berbasis Cinta akan gagal jika hanya berhenti pada wacana seminar atau rapat koordinasi. Ia harus menjadi gerakan kultural. Guru harus dilatih untuk mengajar dengan hati. Kepala sekolah harus menata ruang belajar agar ramah kasih. Kementerian Agama harus memastikan bahwa cinta tidak menjadi jargon, tapi menjadi praktik.

Cinta bukan hanya kata indah di modul pelatihan, tapi keputusan moral sehari-hari: bagaimana seorang guru menegur murid yang salah tanpa menghina; bagaimana sekolah menilai keberhasilan bukan hanya dari angka, tapi juga dari empati.

Pendidikan yang Menyembuhkan

Saya percaya, bila Kurikulum Berbasis Cinta ini dijalankan dengan kesungguhan spiritual, ia bisa menjadi pendidikan yang menyembuhkan. Ia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga hangat hatinya.

Dan mungkin, inilah saatnya bangsa ini belajar lagi dari sumber paling dasar dari seluruh ilmu: Cinta.
Karena seperti kata Jalaluddin Rumi:

“Jika bukan karena cinta, bumi tidak akan berputar, langit tak akan bersinar, dan manusia tak akan belajar mengenal Tuhannya.”

Semoga Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar kebijakan, tapi gerakan spiritual kebangsaan — yang menyalakan kembali cahaya kasih di ruang-ruang kelas, di rumah-rumah ibadah, dan di hati setiap anak bangsa.**

Pondok Pesantren Laa Roiba, 09 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *