80 Tahun TNI dan Satu Seragam Bupati: Potret Pertahanan Semesta dari OKI

TNI merayakan delapan dekade perjalanan panjang—dari masa revolusi mempertahankan kemerdekaan

OKI | KabarSriwijaya.NET – Di halaman Makodim 0402/OKI–OI, Kayuagung, suasana pagi itu berbeda. Matahari Oktober baru saja menanjak, tapi udara terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena seragam loreng para prajurit TNI yang berbaris gagah, melainkan juga karena rasa kebanggaan yang menyelimuti perayaan ulang tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Di antara tamu yang hadir, perhatian tertuju pada Bupati Ogan Komering Ilir, H. Muchendi. Ia datang tidak dengan setelan sipil formal, melainkan mengenakan seragam komponen cadangan (Komcad).

Penampilannya memunculkan simbol kuat: seorang kepala daerah yang tidak hanya hadir sebagai pejabat sipil, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pertahanan negara.

Hari itu, TNI merayakan delapan dekade perjalanan panjang—dari masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, pergolakan politik domestik, hingga transformasi menjadi kekuatan militer modern.

Setiap tahun peringatan HUT TNI menjadi ajang refleksi, namun di usia ke-80, momen ini terasa lebih berlapis. TNI bukan lagi sekadar garda terdepan pertahanan negara, tetapi juga mitra strategis masyarakat dan pemerintah daerah dalam pembangunan.

Bupati Muchendi dalam sambutannya menekankan dimensi itu. “Atas nama pemerintah dan masyarakat OKI, kami menyampaikan selamat ulang tahun yang ke-80 kepada TNI, khususnya Kodim 0402/OKI-OI. Semoga TNI senantiasa menjadi benteng kedaulatan sekaligus mitra rakyat dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ucapannya bukan basa-basi seremonial. Pemerintah Kabupaten OKI dan Kodim 0402/OKI–OI telah lama bekerja sama dalam beragam program: dari ketahanan pangan, penanggulangan bencana alam yang kerap melanda daerah pesisir, hingga pendampingan masyarakat di desa-desa terpencil. Bagi Muchendi, kolaborasi itu adalah bukti bahwa kekuatan pertahanan tidak hanya diukur dari senjata, tetapi juga dari ketahanan sosial.

Komponen cadangan—seragam yang dikenakannya hari itu—menjadi simbol lain yang tidak kalah penting. Dalam doktrin pertahanan negara Indonesia, Komcad adalah elemen strategis untuk memperkuat pertahanan semesta.

Warga sipil yang dilatih militer, lalu tetap kembali ke peran sehari-hari, menjadi cadangan yang siap dikerahkan bila negara memanggil. Bagi seorang bupati, mengenakan seragam itu adalah pesan politik sekaligus pesan budaya: bahwa keamanan bukan hanya tugas militer, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga.

Letkol Inf. Yontri Bhakti, Komandan Kodim 0402/OKI-OI, menegaskan pentingnya dukungan sipil itu. “Kami berterima kasih atas sinergi dari Pemkab dan masyarakat.

Kerja sama ini adalah modal utama bagi TNI dalam menjalankan tugas menjaga keamanan sekaligus mendukung pembangunan di daerah,” katanya. Dalam perspektif militer, sinergi sipil–militer bukan hanya soal koordinasi, tetapi bagian dari strategi pertahanan berlapis yang memperkuat ketahanan nasional dari level lokal.

Delapan puluh tahun perjalanan TNI adalah kisah tentang daya tahan. Dari pertempuran gerilya di hutan-hutan Jawa dan Sumatera, operasi perdamaian di bawah bendera PBB, hingga tugas terbaru mengawal kedaulatan maritim dan siber, TNI telah beradaptasi dengan zaman. Namun satu hal yang tidak berubah: kedekatannya dengan rakyat.

Di OKI, kedekatan itu tampak sederhana, seperti seorang bupati berdiri tegak mengenakan seragam Komcad di samping para prajurit aktif. Sebuah gambar yang seolah ingin mengatakan bahwa pertahanan bukan milik barak militer semata, melainkan juga milik sawah, sungai, dan jalan desa tempat rakyat menjalani hidup sehari-hari.

Di usia ke-80, TNI merayakan lebih dari sekadar ulang tahun. Ia merayakan sebuah kontrak sosial yang tak pernah pudar: bersama rakyat, TNI kuat.

TEKS : WARMAN P  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI  |  FOTO : NET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *