Menjaga Bara Seni di Tanah Sriwijaya

Menyongsong Anugrah Seni Batanghari Sembilan DKSS

Anugerah Seni Batanghari Sembilan kembali digelar oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS). Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi kebudayaan, kehadiran penghargaan semacam ini menjadi isyarat penting bahwa denyut seni di Bumi Sriwijaya belum padam. Bahkan, ia terus mencari bentuk baru untuk mengafirmasi para pelaku seni yang telah memberi makna bagi masyarakatnya.

Program tahunan hasil kerja sama antara DKSS dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ini sejatinya bukan sekadar acara penghormatan simbolik.

Ia adalah upaya merawat ekosistem seni yang sering kali hidup dalam sunyi: tanpa panggung besar, tanpa sorotan, tanpa keuntungan material.

Di situlah relevansi Anugerah Seni Batanghari Sembilan—ia hadir sebagai pengakuan moral terhadap ketekunan dan kesetiaan seniman yang bekerja untuk keindahan dan nilai kemanusiaan.

Ketua DKSS, Iqbal Rudianto—akrab disapa Didit—menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja DKSS periode 2023–2028. Tahun 2025 menandai pelaksanaan tahun kedua dalam siklus baru penghargaan ini.

BACA ARTIKEL LAINNYA :

Seperti tahun sebelumnya, penghargaan akan diberikan kepada enam kategori seni: Tari, Rupa, Sastra, Musik, Teater, dan Film. Masing-masing hanya satu penerima, dengan nilai penghargaan Rp10 juta.

Jumlah itu tentu bukan ukuran besar bila dibandingkan dengan penghargaan seni nasional atau dana hibah internasional. Namun, bukan besarnya nominal yang penting, melainkan kehadiran wadah apresiasi yang konsisten dan kredibel. Di banyak daerah, seniman bekerja dalam keterbatasan dan ketidakpastian.

Mereka mencipta tanpa jaminan ekonomi, tanpa kontrak kerja pasti, dan sering kali tanpa penonton. Karena itu, penghargaan semacam Batanghari Sembilan adalah bentuk penguatan moral sekaligus simbol bahwa pemerintah daerah masih menaruh perhatian pada seni sebagai napas kebudayaan.

Yang menarik dari konsep penghargaan ini adalah pendekatan regeneratifnya. Didit menyebut bahwa seleksi dilakukan dengan ketat oleh tim berjumlah 18 orang, dengan prioritas diberikan kepada seniman yang belum pernah menerima penghargaan serupa.

Prinsip ini penting untuk menjaga keterbukaan dan kesinambungan. Ia mencegah terjadinya “monopoli nama” dalam dunia seni daerah yang kadang berputar di lingkaran yang sama. Dalam konteks ini, DKSS patut diapresiasi karena menempatkan semangat regenerasi sebagai salah satu pilar seleksi.

Namun, perlu diingat: regenerasi seni tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Ia menuntut keberlanjutan berupa dukungan terhadap proses kreatif, ruang berkarya, dan ekosistem yang sehat.

Penghargaan tanpa tindak lanjut hanya akan menjadi catatan tahunan tanpa pengaruh signifikan bagi kehidupan seniman. DKSS bersama pemerintah provinsi perlu memastikan bahwa momentum ini tidak berhenti pada panggung seremoni 1 November mendatang di Graha Taman Budaya Jakabaring.

Sebaliknya, ia harus menjadi pintu masuk untuk membangun kebijakan kebudayaan yang berpihak: menyediakan fasilitas produksi, riset, dokumentasi, hingga distribusi karya.

Seni adalah energi hidup yang memerlukan ekosistem utuh—tidak cukup dengan semangat, tetapi juga ruang, dana, dan kebijakan yang adaptif terhadap zaman.

Dalam konteks Sumatera Selatan, di mana warisan kebudayaan Sriwijaya masih menjadi simbol kejayaan masa lampau, tugas utama kini adalah memastikan bahwa kebesaran itu tidak hanya menjadi nostalgia, melainkan inspirasi yang berdenyut di masa kini.
Artinya, penghargaan Batanghari Sembilan harus meneguhkan seni sebagai bagian dari pembangunan daerah, bukan sekadar pelengkap seremonial kebudayaan.

Kita tahu, tantangan dunia seni hari ini tidak sederhana. Digitalisasi, globalisasi, dan perubahan pola konsumsi budaya telah mengguncang cara orang memaknai karya seni.

Teater, misalnya, menghadapi penurunan penonton di ruang fisik. Sastra berjuang menemukan bentuk baru di platform digital. Musik dan film berkompetisi dengan algoritma dan pasar daring.

Di tengah situasi semacam ini, apresiasi terhadap pelaku seni lokal menjadi penting sebagai peneguhan nilai bahwa kreativitas tidak selalu tunduk pada logika industri.

Dalam konteks tersebut, Batanghari Sembilan dapat berperan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas. Ia mengingatkan bahwa seni daerah bukan sisa masa lalu, melainkan ruang penciptaan yang masih relevan dan potensial untuk beradaptasi dengan zaman.

Yang dibutuhkan kini adalah dokumentasi dan publikasi yang lebih kuat, agar karya-karya para penerima anugerah dapat diakses lebih luas, tidak hanya di lingkup lokal tetapi juga nasional bahkan internasional. Tanpa dokumentasi dan jaringan komunikasi budaya yang baik, penghargaan sebesar apa pun akan cepat hilang dalam ingatan publik.

DKSS sebagai lembaga payung kesenian di Sumatera Selatan memikul tanggung jawab besar: memastikan bahwa setiap penghargaan adalah langkah menuju penguatan budaya, bukan sekadar pencitraan.

Keberadaan tim kurasi yang melibatkan 18 orang dari berbagai latar seni menjadi modal awal yang baik. Ke depan, transparansi dan publikasi hasil kerja kuratorial ini akan memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga kesenian daerah.

Akhirnya, Anugerah Seni Batanghari Sembilan harus kita maknai sebagai bagian dari perjalanan panjang kebudayaan Sumatera Selatan. Ia adalah bukti bahwa daerah ini masih memiliki gairah untuk menghormati para pengabdi seni, sekecil apa pun kiprahnya.
Namun, tugas yang lebih besar menanti: menjaga agar bara kecil apresiasi ini tidak padam di tengah gemuruh dunia modern.

Seni tidak hidup karena hadiah, tetapi karena penghormatan dan keberlanjutan. Maka, penghargaan ini sebaiknya menjadi permulaan dari gerakan lebih besar: gerakan kebudayaan yang menempatkan seniman sebagai penjaga nurani masyarakat.
Karena pada akhirnya, seperti sungai yang tak henti mengalir ke laut, kesenian akan selalu mencari jalannya kembali — menuju manusia itu sendiri. (imron supriyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait