Malam itu, Senin (24/6/2024) malam. Gedung Kesenian Palembang tidak sekadar menjadi bangunan yang berdiri diam di antara riuh kota. Ia berdenyut. Lampu-lampu menyala, suara musik mengalun, dan tubuh-tubuh bergerak dalam pantomim yang lirih sekaligus bertenaga. Di ruang itu, Dewan Kesenian Palembang (DKP) menggelar Besanjo Seniman se-Kota Palembang, sebuah pertemuan yang lebih dari sekadar acara—ia adalah pernyataan bahwa seni masih ingin hidup.
Di tengah suasana itu, hadir sejumlah tokoh yang selama ini berada di lingkar kebudayaan kota. Sultan Mahmud Badaruddin IV RM Fauwaz Diradja tampak menyimak dengan tenang, sementara Ratu Dewa—Sekretaris Daerah—ikut menyaksikan denyut kecil yang berusaha membesar itu. Di antara mereka, berdiri pula para pegiat budaya, bangsawan, hingga komunitas yang selama ini setia menjaga ingatan kolektif kota.
Acara malam itu diisi dengan ragam ekspresi: pemutaran film, pertunjukan musik, hingga pantomim yang menghadirkan sunyi dalam gerak. Tidak ada kemewahan berlebih, tetapi justru di situlah letak kejujurannya—seni tampil apa adanya, tanpa ornamen berlebihan.
Dalam suasana yang hangat, Sultan Mahmud Badaruddin IV mengingatkan satu hal penting: Gedung Kesenian ini bukanlah hadiah. Ia adalah hasil dari perjuangan panjang para seniman Palembang sendiri. Sebuah ruang yang lahir dari kegigihan, bukan pemberian.
“Di sinilah seharusnya kebudayaan hidup dan berkembang,” kira-kira demikian pesan yang mengendap dari pernyataannya.
Lebih jauh, ia membayangkan sebuah ekosistem di mana seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sumber penghidupan. Di mana para seniman bisa berdiri di atas karyanya sendiri—hidup dari apa yang mereka cintai.
Namun malam itu juga menyimpan lapisan lain—sebuah harapan yang menggantung pada kebijakan.
Ratu Dewa, dalam kapasitasnya saat itu, menyampaikan komitmen pemerintah kota untuk mendukung kemajuan kesenian, termasuk pembenahan Gedung Kesenian Palembang. Ia berbicara tentang kebutuhan dasar: pendingin ruangan, fasilitas yang layak, hingga wajah gedung yang lebih representatif.
“Kalau bisa, pembenahan dilakukan secepatnya,” ujarnya.
Bahkan lebih jauh, ia menyebut rencana penganggaran hingga Rp1 miliar untuk mempercantik kawasan sekitar gedung. Sebuah angka yang, bagi para seniman, bukan sekadar nominal, melainkan simbol pengakuan.
Gedung itu, menurutnya, memiliki nilai historis sebagai bagian dari wajah kota lama Palembang—sesuatu yang tak hanya perlu dirawat, tetapi juga dihidupkan kembali.
Di sisi lain, suara dari komunitas budaya mengalir dengan nada yang tak kalah penting. Vebri Al Lintani, Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya, mengajak semua pihak untuk tidak melupakan janji yang telah diucapkan.
Ia membayangkan Gedung Kesenian sebagai ruang yang hidup nyaris tanpa jeda—seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta, yang nyaris tak pernah benar-benar tidur.
“Mimpi kita sederhana: seni hidup sepanjang waktu,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan DKP menegaskan bahwa Besanjo Seniman bukan hanya ajang pertunjukan, tetapi ruang silaturahmi—tempat di mana para seniman saling menguatkan, berbagi kegelisahan, dan merawat harapan yang sama.
Gedung Kesenian Palembang, pada akhirnya, adalah metafora. Ia berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol dari perjalanan panjang kesenian di kota ini—tentang perjuangan, pengakuan, dan harapan yang terus diperbarui.
Malam Besanjo Seniman mungkin telah berlalu. Lampu padam, panggung kembali sunyi. Namun yang tersisa adalah pertanyaan yang terus bergaung: kapan gedung ini benar-benar hidup, bukan hanya sesekali bernapas?
Di sanalah, seni Palembang menunggu—bukan untuk dikasihani, tetapi untuk diberi ruang yang layak untuk tumbuh.**
TEKS : IMRON SUPRIYADI | FOTO : BP/Udi

















