Kulonprogo | KabarSriwijaya.NET – Ajang Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) Kabupaten Kulon Progo 2026 di Pedukuhan Boro, Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, menjadi momentum kebangkitan potensi lokal warga.
Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., bersama istri dan disaksikan sejumlah kepala dinas, meresmikan dua produk unggulan komunal, yakni Wingko Boro dan grup seni ketoprak. Keduanya menjadi simbol penguatan ekonomi sekaligus pelestarian budaya berbasis gotong royong.
Wingko Boro, Produk Kolektif Warga
Dukuh Boro, Greg Sindana, menjelaskan Wingko Boro merupakan produk kuliner yang dikelola secara kolektif oleh ibu-ibu PKK. Produksi dilakukan bersama dengan sistem pembagian kerja antar-RT.
“Kalau ada pesanan 1.000 porsi, dibagi ke empat RT, masing-masing mengerjakan 250 wingko. Ini murni kerja kolektif, bukan usaha perorangan,” ujarnya.
Ke depan, produk tersebut akan diperkuat legalitasnya melalui surat keputusan (SK) dari pemerintah kalurahan hingga kabupaten guna mendukung pengembangan usaha kreatif masyarakat.
Ketoprak Bangkit Setelah Vakum Puluhan Tahun
Selain sektor kuliner, warga Boro juga menghidupkan kembali seni ketoprak yang sempat vakum sejak 1985. Kebangkitan ini didorong semangat gotong royong serta dukungan dana CSR sebesar Rp200 juta untuk pengadaan gamelan.

“Antusiasme warga sangat tinggi. Bahkan Pak Camat ikut tampil dalam pementasan. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang belajar dan silaturahmi,” kata Greg.
Lakon Legendaris Siap Dipentaskan
Tokoh ketoprak setempat, Sarono (73), menuturkan latihan telah berlangsung hampir dua bulan. Kelompok ini dijadwalkan mementaskan lakon “Joko Langkir Suwito” pada Jumat malam, 14–15 Mei mendatang.
“Pesertanya sekitar belasan orang yang sudah berpengalaman. Ini bagian dari upaya uri-uri budaya,” ungkapnya.
Para sesepuh ketoprak saat ini juga aktif mengajak generasi muda untuk terlibat, agar kesenian tradisional tersebut tetap lestari di Pedukuhan Boro.
Dorong Legalitas dan Desa Wisata
Penjabat Lurah Karangsewu, Fitri Lianawati, S.Pd., M.Sc., mengatakan pemerintah kalurahan bersama kapanewon akan memberikan legalitas resmi bagi Wingko Boro dan kelompok ketoprak.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi keduanya sebagai produk ekonomi kreatif sekaligus identitas desa wisata berbasis budaya dan kuliner.
“Mayoritas warga Karangsewu adalah petani. Selain pertanian, potensi sosial budaya juga ingin kami tampilkan. Selama ini belum banyak terekspos, padahal sudah mulai menggeliat. Bahkan sudah ada tamu yang datang dengan kepentingan ekonomi dan budaya,” jelasnya.
TEKS / FOTO : JAJANG R KAWENTAR (YOGYAKARTA) | EDITOR : NEWSROOM















