Ketiadaan yang Mendidik : Jalan Sunyi Menuju Kematangan Santri

Mereka mulai mengambil inisiatif, memimpin, dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diemban.

AGAMA, Islam109 Dilihat
Oleh KH. Taufik Hidayat, S.Ag, M.I.Kom, Pendiri & Pimpinan Pesantren Laa Roiba Muaraenim

“Ketiadaan orang tua bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa anak-anakku (santri Pesantren Laa-Roiba) dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan tangguh.” 

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan sebuah filsafat pendidikan yang dalam—bahkan sedikit “melawan arus”.

Di tengah budaya kita yang sering mengukur kasih sayang dengan kehadiran fisik, pesan ini seperti mengajak kita berpikir ulang: benarkah kehadiran selalu berarti mendidik?

Atau justru, dalam batas tertentu, ketiadaan bisa menjadi metode pendidikan yang paling jujur?

Lebih dari Keluarga Biologis

Dalam tradisi pesantren, relasi antara kiai dan santri bukan sekadar hubungan guru dan murid. Ia lebih mirip hubungan orang tua dan anak—bahkan dalam beberapa hal, lebih intens dan aktif daripada keluarga biologis.

Santri mencuci sendiri pakaiannya, makan bersama, tidur dalam satu ruang, dan belajar bukan hanya dari kitab, tetapi dari kehidupan sehari-hari. Kiai menjadi pusat orbit itu: sumber ilmu, teladan akhlak, sekaligus figur yang diteladani.

Namun ada satu fase yang sering disalahpahami: ketika kiai tidak selalu berada di tengah-tengah santri.

 Mengawasai vs Mendidik

Sebagian orang melihatnya sebagai “kekosongan pengasuhan”. Ada kegelisahan yang muncul: apakah santri tidak kehilangan arah?

Apakah mereka (santri) tidak menjadi liar tanpa kontrol? Kekhawatiran itu wajar. Tetapi, sebagaimana sering diingatkan oleh beberapa tokoh pendidikan : kita sering keliru membedakan antara “mengawasi” dan “mendidik”.

Menanamkan Kesadaran

Diantaranya ulama Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) dalam kitab Ihya Ulumuddin, khususnya pada bagian Adab al-Mu’allim wa al-Muta’allim menekankan, bahwa pendidikan bukan sekadar pengawasan lahiriah, tetapi pembinaan batin.

Ulama besar dari Persia yang dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam di bidang teologi, filsafat dan tasawuf  ini menulis (parafrasa) : “Guru tidak cukup hanya melarang dan mengawasi, tetapi harus menanamkan kesadaran dalam diri murid agar ia mampu menjaga dirinya sendiri.”

Adab dan Keteladanan

Selain itu pendiri organisasi Keagamaan di Bumi Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari (1871–1947) menegaskan, bahwa guru harus membimbing dengan kasih sayang dan keteladanan, bukan sekadar kontrol.

“Pendidikan sejati lahir dari adab dan keteladanan, bukan dari paksaan dan pengawasan semata,” tulisnya dalam Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim yang membahas etika guru dan murid.

Kisah di Pesantren Kecil

Ini sangat dekat dengan gagasan bahwa pengawasan hanya menghasilkan kepatuhan sementara, sedangkan pendidikan melahirkan kesadaran internal. Mengawasi itu membuat orang patuh. Mendidik itu membuat orang bertumbuh.

Saya teringat sebuah kisah di sebuah pesantren kecil di pinggiran Jawa. Kiai pengasuhnya dikenal sangat sederhana, tetapi juga sangat sering bepergian—mengisi pengajian, berdakwah, atau sekadar memenuhi undangan masyarakat. Pada suatu masa, ia bahkan hampir sebulan penuh tidak berada di pesantren.

Seorang tamu datang dan bertanya kepada salah satu santri senior, “Bagaimana kalian belajar tanpa kiai? Siapa yang mengajar?”

Santri itu tersenyum. “Kiai tetap mengajar, Pak. Hanya saja, sekarang beliau mengajar kami dari kejauhan.”

“Bagaimana maksudnya?”

“Beliau mengajarkan kami untuk tidak selalu bergantung pada beliau.”

Transfer Cara Berpikir

Jawaban itu sederhana, tetapi menghentak. Di situlah letak pendidikan yang sering tak terlihat: kiai tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mentransformasikan cara berpikir.

Selama kiai tidak ada, santri-santri senior mulai mengambil peran. Mereka mengatur jadwal pengajian, memimpin diskusi, bahkan menyelesaikan konflik kecil antar teman. Yang biasanya hanya mengikuti, kini belajar memimpin. Yang biasanya diam, mulai belajar berbicara. Yang biasanya menunggu perintah, kini belajar mengambil inisiatif.

Memang, tidak semua berjalan mulus. Ada kesalahan. Ada keputusan yang kurang tepat. Ada juga konflik yang memanas. Tetapi justru di situlah pendidikan berlangsung—bukan di ruang steril yang sempurna, melainkan di ruang hidup yang penuh dinamika.

Bukankah anak yang belajar berjalan pasti pernah jatuh?

Dalam psikologi modern, ada istilah yang menarik: delayed presence—kehadiran yang ditunda untuk memberi ruang tumbuh.

Donald Winnicott dalam konsep “good enough mother” (ibu yang “cukup baik”, bukan selalu hadir sempurna), dibahas dalam bukunya : Playing and Reality.

Ia menekankan bahwa anak perlu mengalami sedikit “ketiadaan” agar tumbuh mandiri.

Orang tua yang terlalu hadir, terlalu mengatur, justru sering tanpa sadar “mengerdilkan” anaknya.

Jean Piaget dalam “To Understand is to Invent” (1973) juga menekankan bahwa anak belajar aktif melalui interaksi dengan lingkungan, bukan melalui kontrol terus-menerus.

Menjadi Penemu

Di sini Piaget secara lebih eksplisit menyatakan bahwa pendidikan harus mendorong anak menjadi penemu aktif, bukan sekadar penerima pasif.

Misalnya “orang tua” harus menyediakan kebutuhannya.  Segala sesuatu disiapkan, semua masalah diselesaikan, semua keputusan diambilkan. Akibatnya, anak akan tumbuh dalam ketergantungan.

Sebaliknya, ketika kehadiran itu “ditarik” secara terukur, anak dipaksa berhadapan dengan realitas. Ia belajar mengambil keputusan, menghadapi risiko, dan menanggung konsekuensi.

Internalisasi Kepemimpinan

Pesantren, dalam hal ini, memiliki kearifan yang mendahului teori modern itu. Ketika kiai tidak selalu hadir, sebenarnya sedang terjadi proses internalisasi kepemimpinan.

Ada proses menanamkan nilai, sikap, dan tanggung jawab kepemimpinan ke dalam diri seseorang hingga menjadi bagian dari kesadaran pribadinya.

Dalam proses ini, seseorang tidak lagi bergantung pada perintah atau pengawasan, tetapi mampu mengambil inisiatif dan keputusan secara mandiri.

Hasilnya, kepemimpinan tidak sekadar peran formal, melainkan karakter yang hidup dan tercermin dalam tindakan sehari-hari.

Dalam dunia pesantren, santri dan santri pengabdian didorong untuk tidak sekadar mengikuti arahan, tetapi menjadi subjek (aktif berperan) dalam berbagai kegiatan.

Mereka mulai mengambil inisiatif, memimpin, dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diemban.

Dengan demikian, mereka tumbuh sebagai pribadi mandiri yang mampu berpikir dan bertindak secara dewasa.

Mereka belajar bahwa kehidupan tidak selalu menyediakan “figur penentu” yang siap menjawab semua persoalan. Ada saatnya mereka harus menjadi penentu itu sendiri.

Di sejumlah pondok pesantren, atau lembaga pendidikan yang sejenis, fenomena ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari proses.

Ketika kiai sering keluar untuk berdakwah, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai “ketiadaan”. Tetapi jika dilihat lebih dalam, justru di situlah pendidikan karakter berlangsung.

Santri yang sebelumnya bergantung, mulai menemukan kekuatan dirinya. Mereka menyusun kegiatan, menciptakan inovasi, bahkan kadang melahirkan tradisi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Diberi ruang.

Ada yang memulai kajian kecil-kecilan. Ada yang menginisiasi kegiatan sosial. Ada pula yang mulai mengembangkan seni dan budaya pesantren. Semua itu lahir bukan karena diperintah, tetapi karena diberi ruang.

Dan ruang, seringkali, hanya muncul ketika ada “kekosongan”.

Kita sering mendengar kalimat : guru terbaik adalah pengalaman (experience is the best teacher) tetapi ia datang tanpa kurikulum dan tanpa pemberitahuan.”

 

John Dewey dalam Experience and Education menegaskan, pendidikan sejati berakar pada pengalaman (learning by doing). Ia melihat pengalaman sebagai “guru utama” yang membentuk pengetahuan, sering kali di luar struktur kurikulum formal.

Demkkian juga Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah menegaskan, bahwa keterampilan dan pemahaman sejati lahir dari praktik dan pengalaman langsung, bukan hanya dari teori.

Dalam konteks ini, ketiadaan kiai adalah “kurikulum tak tertulis” yang justru paling efektif.

Lahir Kesadaran

Ia tidak mengajar dengan ceramah, tetapi dengan situasi. Ia tidak memberi jawaban, tetapi memunculkan pertanyaan. Dan dari pertanyaan-pertanyaan itulah, lahir kesadaran.

Tentu saja, ini bukan berarti kiai boleh abai. Ada batas yang harus dijaga. Ketiadaan yang mendidik berbeda dengan ketidakhadiran yang lalai. Yang pertama adalah strategi, yang kedua adalah kelalaian.

Hadir dalam Nilai

Kiai tetap hadir—meskipun tidak selalu secara fisik. Ia hadir dalam nilai yang ditanamkan, dalam sistem yang dibangun, dan dalam kepercayaan yang diberikan. Dan barangkali, kepercayaan itulah bentuk kasih sayang tertinggi.

Pada akhirnya, kita harus jujur mengakui: hidup tidak selalu menyediakan “kiai” di setiap langkah kita.

Akan ada masa ketika kita harus berjalan sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Jika sejak di pesantren santri sudah dilatih untuk itu, bukankah itu justru anugerah?

Kekosongan adalah Ruang

Maka, ketiadaan bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang. Ruang untuk tumbuh, ruang untuk salah, ruang untuk belajar, dan akhirnya, ruang untuk menjadi.

Dan di ruang itulah, santri di pondok pesantren  sedang ditempa—bukan hanya menjadi orang yang tahu, tetapi menjadi orang yang mampu.

Bukan hanya menjadi pengikut, tetapi menjadi pemimpin. Bukan hanya menjadi kuat karena didampingi, tetapi kuat karena pernah sendiri.

Sebab, seperti yang kita yakini bersama: ketiadaan orang tua bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa anak-anak itu sedang dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.**

PP Laa Roiba, Muaraenim, 26 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *