Di sebuah rumah yang cat temboknya mulai mengelupas di sudut-sudutnya, tinggal seorang perempuan bernama Rania. Rumah itu berdiri tegak seperti kesabaran yang dipaksakan—retak, tapi tidak runtuh. Dari luar, tak ada yang aneh.
Ada motor terparkir rapi, mobil yang kadang berdebu, dan suara anak-anak yang dulu sering terdengar riang. Kini, suara itu lebih sering menjadi gema kenangan.
Rania bekerja sejak muda. Tahun 1995, ia diterima di sebuah BUMN—pekerjaan yang, kata orang, “aman sampai pensiun.”
Dan benar, dari situlah ia menabung hidupnya. Dari situlah pula ia membangun rumah ini, membeli kendaraan, menyekolahkan anak-anaknya, hingga akhirnya mereka lulus dari universitas ternama dengan predikat cumlaude.
Semua terdengar seperti kisah sukses. Tapi tidak semua keberhasilan itu lahir dari kebahagiaan. Di ruang tamu, sebuah foto pernikahan tergantung miring. Di dalam foto itu, Rania tersenyum.
Di sampingnya, seorang laki-laki berdiri dengan raut wajah yang sulit ditebak—antara yakin dan ragu. Namanya Arman. Suaminya.
Dua puluh delapan tahun lalu, mereka menikah tanpa pernah benar-benar membicarakan uang.
“Ah, rezeki mah diatur Tuhan,” kata Arman waktu itu, ringan seperti kapas.
Rania mengangguk.
Waktu itu, ia masih percaya bahwa cinta cukup untuk menghidupi segalanya. Ia tidak tahu bahwa cinta, tanpa perhitungan, bisa berubah menjadi beban yang tak bersuara.
*
Hari-hari pertama pernikahan mereka berjalan seperti pasangan lain. Ada tawa, ada canggung, ada harapan. Tapi pelan-pelan, sesuatu yang tak pernah dibicarakan mulai tumbuh seperti jamur di sudut lembap: keuangan.
Arman tidak bekerja tetap. Katanya, sedang “mencari peluang”. Peluang itu tampaknya terlalu lihai bersembunyi. Bertahun-tahun, ia tak pernah benar-benar menemukan apa yang ia cari.
Rania, sebaliknya, bekerja seperti mesin yang tak boleh rusak. Setiap bulan, gajinya masuk. Setiap bulan pula, gajinya keluar—untuk listrik, air, sekolah anak, cicilan rumah, asuransi, dan segala hal yang membuat rumah itu tetap berdiri.
Arman? Ia tetap di rumah. Kadang keluar, kadang tidak. Kadang membawa cerita, tapi jarang membawa uang.
“Yang penting kita masih makan, kan?” ujarnya suatu malam.
Rania hanya diam.
Ia tahu, kalimat itu bukan solusi. Itu hanya cara lain untuk menghindari kenyataan.
*
Waktu berjalan, anak-anak tumbuh. Mereka belajar bahwa ibunya adalah pusat gravitasi keluarga. Semua berputar di sekitarnya—termasuk ayah mereka, yang lebih sering menjadi bayangan daripada penopang.
Di sekolah, anak-anak itu berprestasi. Mereka cerdas, mungkin karena terbiasa melihat ibunya bertahan. Mereka tahu, hidup bukan soal menunggu, tapi bergerak.
Suatu hari, anak sulung Rania bertanya, “Bu, Ayah kerja apa?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi seperti pisau yang pelan-pelan menekan dada.
“Kerja… di rumah,” jawab Rania akhirnya.
Anak itu mengangguk, meski tak benar-benar paham.
*
Di luar rumah, dunia berjalan dengan logikanya sendiri. Orang-orang sibuk bicara tentang investasi, tabungan, dana darurat.
Di media sosial, pasangan-pasangan muda memamerkan harmoni finansial mereka—rekening bersama, perencanaan lima tahun, bahkan sepuluh tahun.
Rania sesekali membaca itu semua. Ia tersenyum tipis. Bukan karena iri, tapi karena merasa seperti membaca bahasa yang tak pernah ia pelajari.
Di rumahnya, tidak ada istilah “diskusi keuangan”. Tidak ada transparansi. Tidak ada rencana. Yang ada hanya satu hal: bertahan.
*
Suatu malam, ketika hujan turun deras, listrik sempat padam. Dalam gelap, Rania duduk di ruang tamu. Arman di kamar, mungkin tidur, mungkin tidak.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rania bertanya pada dirinya sendiri: “Ini rumah tangga, atau sekadar tempat tinggal bersama?”
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka duduk berdua, membicarakan hidup dengan serius. Bukan sekadar basa-basi, bukan sekadar keluhan, tapi benar-benar berbicara sebagai dua orang yang memikul tanggung jawab yang sama.
Jawabannya: tidak pernah.
*
Satire dari hidup Rania adalah ini: ia berhasil dalam semua hal yang seharusnya dibagi dua. Ia menjadi tulang punggung, kepala keluarga, sekaligus hati yang terus dipaksa kuat.
Di luar, orang-orang mungkin memujinya. “Perempuan hebat,” kata mereka.
Tapi di dalam, Rania tahu, ia tidak ingin menjadi hebat dengan cara seperti ini. Ia hanya ingin menjadi biasa—berbagi beban, berbagi cerita, berbagi tanggung jawab.
*
Suatu pagi, setelah anak-anaknya lulus dan mulai meniti hidup masing-masing, rumah itu terasa lebih sunyi. Tidak ada lagi suara ribut pagi hari, tidak ada lagi jadwal antar-jemput.
Yang tersisa hanya Rania dan Arman. Dua orang yang sudah terlalu lama hidup bersama, tapi mungkin tidak pernah benar-benar bersama.
Rania akhirnya berbicara.
“Kita ini sebenarnya apa, Man?”
Arman menatapnya, bingung.
“Maksud kamu?”
“Kita ini pasangan, atau cuma dua orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama?”
Arman terdiam. Pertanyaan itu terlalu jujur, terlalu telanjang.
“Kamu kenapa tiba-tiba nanya begitu?” katanya akhirnya.
“Karena aku capek,” jawab Rania, sederhana.
Kalimat itu jatuh seperti hujan terakhir setelah kemarau panjang.
Cerita rumah tangga sering dibungkus dengan kata-kata indah: cinta, setia, sabar. Tapi jarang yang berani menyebut satu hal yang lebih nyata: uang.
Bukan karena uang adalah segalanya, tapi karena tanpa pengelolaan yang jujur, uang bisa menggerogoti segalanya.
Rumah tangga tanpa arah keuangan ibarat kapal tanpa kompas. Ia mungkin tetap bergerak, tapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana.
Rania telah berlayar selama hampir tiga dekade tanpa kompas itu. Ia tidak karam, tapi juga tidak pernah benar-benar sampai.
*
Sore itu, untuk pertama kalinya, Rania dan Arman duduk berdua dengan selembar kertas di antara mereka.
“Kita mulai dari sini saja,” kata Rania.
Arman mengangguk pelan.
Mungkin terlambat. Mungkin tidak sempurna. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, mereka mencoba berbicara.
Tentang uang. Tentang hidup. Tentang rumah tangga yang selama ini berjalan tanpa buku kas—dan tanpa arah.
Di luar, matahari mulai tenggelam. Cahaya keemasan masuk lewat jendela, menyentuh meja, menyentuh kertas kosong itu.
Seperti memberi isyarat: selalu ada ruang untuk memulai ulang.
Palembang-Muaraenim, 2005-2026


















