Halal Bihalal di Era Gawai: Menjaga Hati, Menjaga Negeri

Pengajian FORSAPSS Muara Enim Tekankan Peran Ibu dan Etika Digital

AGAMA, Islam153 Dilihat
Ketum FORSAPSS Kabupaten Muaranim, Hj. Misliyani, S.Ag.,M.Pd.I.

MUARA ENIM | KabarSriwijaya.NET – Di tengah hangatnya suasana Jumat siang (24/4/2026), Masjid Agung Muara Enim dipenuhi jamaah yang datang dengan satu tujuan: merawat silaturahmi dan memperkuat iman.

Pengajian rutin bulanan yang digelar FORSAPSS Kabupaten Muara Enim kali ini terasa istimewa karena dirangkaikan dengan Halal Bihalal.

Sejak pukul 13.00 WIB, jamaah dari berbagai unsur mulai memadati ruang utama masjid.

Hadir perwakilan organisasi keagamaan dan perempuan, di antaranya TP PKK, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Muara Enim yang diwakili Bunda Zakiah,  kemudian hadir Bunda Salimah, dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Muaraenim, serta FORSAPSS dari sejumlah kecamatan seperti Tanjung Enim, Tanjung Agung, Ujanmas, Benakat, dan Gunung Megang, serta perwakilan Majelis taklim se-Kabupaten Muaraenim pun turut ambil bagian.

Ketua FORSAPSS Kabupaten Muara Enim, Hj. Misliyani, S.Ag, M.Pd.I menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya membangun kekuatan spiritual masyarakat.

“FORSAPSS hadir untuk mendukung Muara Enim ‘Membara’, khususnya dalam bidang keagamaan. Melalui pengajian rutin, kami ingin meningkatkan iman, ilmu, dan amal jamaah,” ujarnya.

Menurutnya, forum ini juga menjadi ruang penting bagi kaum ibu untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.

Lebih lanjut Kepala Mts Negeri 2 Lawang Kidul ini berharap, nilai-nilai yang diperoleh dalam pengajian dapat tercermin dalam akhlak sehari-hari, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

FOTO BERSAMA – Salah satu Tim FORSAPSS foto bersama usai acara (Foto.Dok.Pribadi/Surtini)

Suasana kian khidmat ketika tausiyah disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim, Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag, M.Hum.

Dalam ceramahnya, alumnus Pondok Pesantren Moderen Islam As-Salaam Sukoharjo Jawa Tengah tahun 1989 ini, menyoroti fenomena Halal Bihalal di era digital yang dinilai mengalami pergeseran makna.

“Halal Bihalal adalah tradisi khas Indonesia yang sangat indah. Namun kini, sering kali berhenti pada salaman. Setelah itu, kita membuka ponsel, melihat status orang lain, lalu muncul prasangka. Akhirnya, maaf hanya sampai di lisan, belum sampai ke hati,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sekretaris Islamic Center Kabuaten Muaraenim tahun 2006 ini mengingatkan, di era media sosial, menjaga silaturahmi tidak cukup dengan pertemuan fisik, tetapi juga harus diiringi dengan etika dalam berkomunikasi digital. “Hari ini, kita tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga menjaga jempol,” katanya.

Dalam pandangannya, ada dua peran besar yang diemban kaum ibu: menjaga negara dan menjaga jempol.

Menjaga negara, menurutnya, dimulai dari keluarga. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut perempuan sebagai pilar negara.

“Jika perempuan baik, maka baiklah negara. Jika Perempuan itu jelak maka jelaklah negara. Peran itu dimulai dari rumah tangga—menjaga suami agar tetap dalam kejujuran, mendidik anak, dan membangun keluarga yang berakhlak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran ibu dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak. Gawai, kata dia, harus menjadi sarana kebaikan, bukan sumber kerusakan moral.

Sementara itu, menjaga jempol berarti bijak dalam menggunakan media sosial: tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas, tidak terpancing emosi, serta menghindari ujaran yang dapat merusak hubungan sosial.

“Banyak silaturahmi rusak hanya karena pesan singkat. Karena itu, jangan mudah percaya, jangan mudah menyebarkan sesuatu yang tidak jelas, dan jangan membalas dengan emosi,” pesannya.

Dalam penutupnya, Ustadz Imron mengajak jamaah menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai sarana islah—memperbaiki hubungan yang sempat renggang.

“Jika sebelumnya ada kesalahpahaman, maka hari ini harus diselesaikan. Silaturahmi adalah bagian dari iman,” katanya.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini juga mengingatkan pentingnya membersihkan hati dari penyakit batin.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, ia mengibaratkan dosa seperti debu pada kaca. Jika dibiarkan, ia akan menebal dan sulit dibersihkan. Namun jika dibersihkan setiap hari dengan istighfar, hati akan tetap jernih.

Pengajian yang berakhir pukul 15.30 WIB itu meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah.

Bukan hanya tentang pentingnya saling memaafkan, tetapi juga tentang kesadaran baru: bahwa menjaga silaturahmi di era modern membutuhkan kehati-hatian, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Dari dalam masjid, pesan itu mengalir pelan namun pasti—bahwa iman tidak hanya terjaga dalam doa, tetapi juga dalam setiap kata yang ditulis dan dibagikan, melalui Medsos.**

TEKS : AHMAD MAULANA   |  FOTO : DOK.PRIBADI/SURTINI (FORSAPSS)

BACA JUGA BERITA SEBELUMNYA :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *