PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET— Memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memberi dampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Ketahanan energi nasional, khususnya cadangan bahan bakar minyak (BBM), dinilai masih menjadi titik lemah yang harus segera dibenahi.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumatera Selatan, Dr. Husyam, mengungkapkan bahwa cadangan BBM Indonesia saat ini relatif terbatas dibandingkan negara lain.
“Beberapa negara mampu bertahan hingga bertahun-tahun, sementara Indonesia diperkirakan hanya memiliki cadangan kurang dari satu bulan. Ini karena kita belum memiliki sistem penyimpanan (storage) yang memadai,” ujar Husyam, dalam Podcast di Lentera Demokrasi, 18 April 2026. yang dipandu Jurnalis Senior, Muhammad Uzair.
Menurutnya, pemerintah perlu segera membangun infrastruktur penampungan BBM di berbagai wilayah strategis, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Husyam mengingatkan agar situasi internasional tidak dijadikan alasan untuk menaikkan harga BBM secara sepihak. Ia menilai, kenaikan harga energi akan berdampak berantai terhadap sektor lain.
“Jika BBM naik, maka harga komoditas lain ikut terdampak. Batu bara, nikel, timah, hingga emas juga akan mengalami kenaikan. Ini akan membebani masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, ia melihat adanya peluang dari kenaikan harga komoditas global. Peningkatan harga sumber daya mineral dapat memberikan tambahan penerimaan negara melalui pajak.
“Ada potensi windfall atau keuntungan tambahan dari sektor pertambangan. Ini bisa dimanfaatkan untuk menutup beban impor BBM, asalkan dikelola dengan baik,” ujarnya.
Husyam juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri (lifting) serta mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT), seperti tenaga air, angin, dan biomassa.
“Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah. Tinggal bagaimana pemerintah serius mengelolanya agar kita tidak terus bergantung pada impor,” katanya.
Dalam konteks geopolitik, Husyam menekankan pentingnya posisi Indonesia yang bebas aktif dan tidak terjebak dalam konflik blok internasional. Ia juga mengingatkan agar kebijakan luar negeri tetap mengedepankan kepentingan nasional.
“Yang paling penting adalah memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri dan kawasan, khususnya ASEAN. Jangan sampai kita sibuk di panggung global, tetapi lemah di dalam,” ujarnya.
Khusus untuk Sumatera Selatan, ia menilai daerah tersebut memiliki keunggulan sumber daya alam yang besar, seperti batu bara dan migas. Namun, pengelolaannya harus dilakukan secara transparan dan efisien agar manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Menutup pernyataannya, Husyam menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bentuk kepedulian.
“Kritik ini bukan untuk merusak, tetapi sebagai wujud kecintaan agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat, terukur, dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.**
TEKS : TIM LENTERA DEMOKRASI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI










