KH Taufik Hidayat Ketua Baru IKKS Muaraenim : Menyulam Ulang Persaudaraan Kikim

Di Antara Jabat Tangan dan Maaf yang Tertunda

Dosa kepada Allah bisa kita mohonkan ampun langsung kepada-Nya. Namun dosa kepada sesama manusia tidak cukup hanya dengan doa. Kita harus bertemu, saling memaafkan. Itulah makna halal bihalal. (KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom)

Muaraenim | KabarSriwijaya.NET – Sore itu, Ahad (12/4/2026), teras rumah KH. Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Koom, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim, tampak lebih ramai dari biasanya.

Sejak pukul 14.30 WIB hingga Pukul 15.00 WIB, satu per satu tamu berdatangan—dengan senyum, dengan salam, dan dengan niat yang sama: menyambung kembali tali yang mungkin sempat renggang.

Suasana Halal bi Halal IKKS Muaraenim, di Kediaman KH Taufik Hidayat (Ahad, 12 April 2026) 

Hingga menjelang 17.00 WIB, suasana keakraban tak surut. Di lokasi yang rilek dan sederhana itu, berkumpul warga Kikim dari berbagai penjuru—yang menetap di Muaraenim, juga yang datang dari Kabupaten Lahat. Mereka hadir dalam satu momentum: silaturahmi dan halal bihalal Ikatan Keluarga Kikim Seghepat (IKKS) Kabupaten Muaraenim.

Bukan sekadar Tradisi Tahunan

Tak ada sekat. Yang tua duduk berdampingan dengan yang muda. Diantara yang lain juga duduk lesehan di lantaiu beralas ambal hijau. Mereka berbincang karena lama tak bersua, saling menggenggam tangan lebih erat dari biasanya. Atau sebagian lagi ada yang baru mengenalka diri, karena efek pertalian pernikahan antara warga Kikim dan yang berasal dari daerah lain. Di sela obrolan ringan, terselip kalimat yang nyaris seragam: “Maaf lahir dan batin.”

Namun pertemuan itu bukan sekadar tradisi tahunan. Ada dinamika organisasi yang juga mengalir di dalamnya.

Amanah yang Berpindah Tangan

Di tengah suasana yang cair, forum kemudian mengarah pada satu keputusan penting. Secara aklamasi, para anggota IKKS sepakat menunjuk KH Taufik Hidayat sebagai ketua baru IKKS Kabupaten Muaraenim, menggantikan H.Teguh.S.H., M. H.

Keputusan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Teguh, kesepakatan tersebut telah dibicarakan dalam pertemuan sebelumnya. Sore itu menjadi momen pengukuhan secara terbuka—di hadapan keluarga besar Kikim.

Dalam sambutannya, Teguh menyerahkan amanah dengan nada tenang. Ia tak lagi memimpin, tetapi tidak benar-benar pergi. “Walaupun tidak menjabat lagi, saya tetap akan ikut memberi kontribusi pemikiran untuk IKKS ke depan,” ujarnya.

Kalimat itu disambut anggukan. Di organisasi berbasis kekeluargaan, peran tidak selalu ditentukan oleh jabatan.

Silaturahmi sebagai Jalan Meringankan Beban

Arahan kemudian datang dari pembina dan penasehat keluarga besar Kikim, H. Jauhari Sholihin, BA. Dengan suara yang tenang, sesepuh IKKS Muaraenim ini mengingatkan kembali tujuan dasar pertemuan itu.

“Dengan berkumpul seperti ini, kita bisa saling membantu. Yang berat jadi ringan karena dipikul bersama,” katanya.

Silaturahmi, bagi Jauhari, bukan sekadar tradisi. Ia adalah mekanisme sosial—cara masyarakat menjaga keseimbangan hidup melalui kebersamaan.

Kehadiran Fisik itu Penting

Pandangan serupa disampaikan penasehat IKKS lainnya, H. Rustam Efendi. Ia menekankan pentingnya kehadiran fisik dalam setiap pertemuan.  “Memang tidak mudah datang, apalagi yang jauh. Tapi bertatap muka itu penting. Di situlah hubungan jadi lebih dekat,” ujarnya.

Meski saat ini kehidupan di tengah era komunikasi digital, namu menurut H Rustam, pertemuan langsung tetap memiliki makna yang tak tergantikan.

Dari Jarak ke Kedekatan

Seiring dengan itu, Sekretaris IKKS Kabupaten Muaraenim, Syahrul Padri, M.I, Kom, kehadirannya kali itu memperkuat dirinya untuk komitmen bersama IKKS membangun organisasi dengan baik. Apalagi, Syahrul kini telah bertugas di Muaraenim, tak lagi di luar kota seperti sebelumnya.

BACA ARTIKEL TERKAIT :

Halal Bihalal: Laku Kultural ke Diplomasi Sosial dan Transformasi “Islam Nusantara”

 

“Dulu saya jarang hadir karena tugas di luar. Sekarang, insya Allah bisa lebih aktif dan maksimal dalam kegiatan IKKS,” ujarnya.

Kehadiran fisik yang dulu terbatas, kini berubah menjadi komitmen yang lebih utuh.

Makna Halal Bihalal: Antara Langit dan Sesama

Saat tiba pada sambutan ketua terpilih, suasana menjadi lebih hening. KH Taufik Hidayat tidak hanya berbicara sebagai pemimpin baru, tetapi juga sebagai seorang dai.

KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom, saat menyampaikan Tausiyah

Dalam tausiyah singkatnya, ia mengajak hadirin memahami kembali makna halal bihalal—tidak sekadar ritual, tetapi kebutuhan spiritual.

“Dosa kepada Allah bisa kita mohonkan ampun langsung kepada-Nya,” ujarnya pelan.

“Namun dosa kepada sesama manusia tidak cukup hanya dengan doa. Kita harus bertemu, saling memaafkan. Itulah makna halal bihalal.”

Kalimat itu menggantung sejenak di udara. Seolah mengingatkan bahwa tidak semua luka bisa sembuh dari kejauhan. Ada yang membutuhkan kehadiran, tatapan, dan keberanian untuk mengucap maaf secara langsung.

Organisasi yang Lebih dari Sekadar Kumpul

Sebagai ketua baru, KH Taufik juga menegaskan arah kepemimpinannya. IKKS, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai forum silaturahmi semata.

“Program yang sudah berjalan akan kita lanjutkan. Yang belum, akan kita rancang bersama. IKKS harus benar-benar memberi manfaat, bukan sekadar kumpul tanpa makna,” katanya.

Ia ingin menjadikan IKKS sebagai ruang komunikasi yang hidup—menghubungkan warga Kikim, baik yang berada di Muaraenim maupun di luar daerah.

Sore yang Menyisakan Makna

Menjelang pukul 17.00 WIB, pertemuan mulai berangsur usai. Namun jabat tangan belum berhenti. Sebagian masih berbincang, sebagian lain saling berpamitan dengan pelukan ringan.

Di teras dan halaman itu, yang tersisa bukan hanya kursi-kursi yang mulai kosong, tetapi juga rasa yang sulit dijelaskan—tentang kedekatan yang kembali tumbuh, tentang maaf yang akhirnya terucap.

Barangkali, di situlah inti dari halal bihalal: bukan sekadar pertemuan, tetapi perjalanan hati untuk kembali pulang—kepada sesama.**

TEKS : IMRON SUPRIYADI   |   FOTO : DEDI SUSANTO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *