Senja perlahan turun di Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah. Langit yang semula biru berangsur jingga, seolah ikut menyimak lantunan ayat-ayat suci yang sejak beberapa hari terakhir menggema di setiap sudut desa. Di panggung sederhana yang dihias nuansa islami dan sentuhan adat Semende, langkah para pengibar bendera menyambut penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-42 tahuun 2026 tingkat Kabupaten Muara Enim.
MUARA TENANG | KabarSriwijaya.NET – Di tengah suasana yang khidmat namun hangat, Sekretaris Daerah Kabupaten Muara Enim, Ir. Yulius, M.Si, berdiri mewakili Bupati Muaraenim, H Edison, SH, M.Hum.
Suaranya tenang, namun mengandung getar harap yang panjang. Ia tidak sekadar menutup sebuah acara, tetapi seperti menegaskan kembali bahwa Al-Qur’an harus tetap hidup, bukan hanya dilombakan.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
Dari Lembah Semende, Piala Itu Kembali ke Rumah : SDT Juara Umum
“Terima kasih kepada panitia dan Dewan Hakim yang telah mencurahkan tenaga dan waktu,” ucapnya, sederhana, namun penuh makna. Sebab di balik sebuah MTQ, ada kerja sunyi yang jarang terlihat—dari persiapan, penilaian, hingga menjaga marwah kejujuran.
kemenangan bukanlah puncak
Bagi para pemenang, ia berpesan dengan bijak—bahwa kemenangan bukanlah puncak, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang. MTQ tingkat provinsi di Kabupaten Lahat 26 Juni – 2 Juli 2026 sudah menanti, dan di sanalah keteguhan diuji kembali. Sementara bagi yang belum berhasil, ia menguatkan—bahwa kalah bukanlah akhir, melainkan jeda untuk bertumbuh.
penjaga Kalamullah.
Malam itu, Muara Tenang tidak benar-benar “tenang”. Ia hidup oleh semangat baru. Oleh anak-anak muda yang mungkin baru pertama kali merasakan getar panggung tilawah. Oleh para orang tua yang menyimpan harap diam-diam agar anaknya kelak menjadi penjaga Kalamullah.
Undian Umroh
Di penghujung acara, suasana kembali mencair. Undian hadiah umrah menjadi penutup yang mengundang senyum dan haru. Nama Ersoni dan Reni Astuti disebut sebagai penerima keberkahan itu—sebuah hadiah yang bukan sekadar perjalanan, tetapi panggilan jiwa menuju Tanah Suci.
menghidupkan Al-Qur’an
Namun lebih dari itu semua, MTQ ke-42 ini meninggalkan jejak yang tak kasat mata: semangat menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat. Di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, cahaya itu justru terasa lebih terang.
Dan ketika panggung mulai sepi, sejumlah panitia kemudian mulai beringkas. Malamnya lampu sekitar arena MTQ juga dipadamkan, satu hal tetap menyala—cinta kepada Al-Qur’an, yang diharapkan terus tumbuh, dari Muara Tenang, untuk Muara Enim, bahkan untuk Indonesia.**
TEKS : AHMAD MAULANA | EDITOR : IMRON SUPRIYADI | FOTO : DOK.PANPEL



















