Menjelang Tahun Baru: Waktu yang Mengajari Kita untuk Berhenti

Hening untuk mengingat, menyesal, memohon ampun, dan berjanji untuk menjadi lebih baik

Oleh KH Taufik Hidayat, Pendiri dan Pimpinan Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Di sebuah majelis taklim di Muaraenim, pernah seorang anak muda bertanya kepada gurunya, “Ustadz, mengapa waktu terasa cepat sekali? Rasanya baru kemarin saya ujian sekolah, sekarang sudah masuk tahun baru lagi.” Sang guru tersenyum, lalu berkata, “Waktu tidak bergerak cepat. Hanya saja kita yang jarang berhenti untuk merenung.” Anak itu terdiam. Ada kesunyian yang terasa lebih menyentuh dibanding suara petasan malam tahun baru.

Waktu adalah amanah.

Allah mengingatkan kita, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Sayangnya, ayat ini sering kita baca, namun jarang kita berhenti untuk meresapi makna “kerugian” yang dimaksud. Kerugian terbesar bukan ketika kita gagal mendapatkan sesuatu, tetapi ketika waktu berlalu tanpa meninggalkan kebaikan.

Bukan Hura-Hura, Tapi Muhasabah

Islam tidak melarang pergantian tahun masehi. Tetapi Islam melarang kita menghabiskan waktu dengan sia-sia, merusak diri, atau melupakan Allah. Pergantian tahun adalah momen muhasabah, evaluasi diri.

Khalifah Umar bin Khattab berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Inilah prinsip yang jarang kita lakukan.

Evaluasi bukan hanya menghitung berapa banyak target yang terpenuhi, tetapi juga menghitung berapa banyak kekurangan kita di hadapan Allah.

Menata Pergaulan dan Waktu

Remaja atau warga pada umumnya, sering menganggap pergantian tahun sebagai pesta: musik keras, konvoi, kembang api, begadang tanpa tujuan.

Padahal Nabi ﷺ bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Khusus bagi remaja muslim, perlu bertanya kepada dirinya: Pertama; Apakah saya sudah memilih teman yang membawa kebaikan? Kedua;  Berapa jam saya habiskan untuk gadget dibanding untuk belajar atau ngaji? Ketiga; Apakah saya sudah shalat tepat waktu selama satu tahun terakhir?

Tak salah bila kemudian masing-masing kita (bukan hanya remaja muslim) untuk memasuki tahun 2026, kemudian membuat target sederhana, mislanya; Pertama; komitmen mengaji tiga halaman Al-Qur’an per hari. Kedua; Shalat tepat waktu selama 30 hari berturut-turut. Ketiga; membaca satu buku yang bermanfaat tiap hari, atau membeli buku setiap bulan 1 buku yang bermanfaat.Ini lebih bermakna daripada satu malam penuh petasan.

Orang Tua Menjadi Teladan

Orang tua kita selalu berpesan, anak-anak bukan meniru apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita lakukan. Jika kita ingin anak shalat tepat waktu, maka kita yang harus memulai. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ini sebagai teguran sekaligus evaluasi untuk kita sebagai orang tua.Tanyakan pada diri setiao kita (orang tua); Pertama; Sudahkah saya membacakan Al-Qur’an kepada anak saya? Kedua; Sudahkah saya meminta maaf kepada mereka jika saya salah? Ketiga;

Sudahkah saya menunjukkan bahwa agama itu membawa ketenangan, bukan kemarahan?

Tahun baru bukan sekadar mengganti kalender, tetapi mengganti suasana hati di rumah: lebih lembut, lebih sabar, lebih banyak doa

Dari Ritual ke Perbaikan Sosial

Umat Islam sering sibuk mempersoalkan halal-haram merayakan tahun baru, namun lupa bertanya: apa kontribusi kita untuk masyarakat di tahun mendatang?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Ahmad).

Mulailah dari yang kecil. Dianranya, membantu tetangga yang tidak terlihat mampu. Atau Saling mendoakan, mengurangi komentar negatif di media sosial. Bahkan bisa menjadi relawan di masjid, sekolah, pesantren, dan panti asuhan atau lembaga sosial lainnya. Patut kita catat bersama, bahwa umat besar dibangun dari kebiasaan kecil yang baik.

 Amalan Praktis Menyambut Tahun Baru

📌 a. Muhasabah Malam: 10–15 Menit

Tulis tiga “kebiasaan buruk” yang akan ditinggalkan, dan tiga “kebiasaan baik” yang akan dimulai. Ini bentuk taubat yang nyata, bukan sekadar ucapan.

📌 b. Memulai Tahun dengan Sedekah

Sedekah menghapus dosa, memperbaiki hati, dan melapangkan rezeki.
Mulailah dengan Rp10.000 pun boleh.

📌 c. Membaca Doa Penutup dan Pembuka Tahun

Para ulama menganjurkan doa: “Ya Allah, jadikanlah tahun ini tahun kebaikan, keselamatan, iman, dan pertolongan.”

Doa bukan sekadar suara, tetapi komitmen.

Pelajaran dari Ulama

Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu juga berlalu.”

Kalimat ini bisa menjadi renungan menjelang pergantian tahun. Hidup bukan bertambah, tapi berkurang. Kalender bukan bertambah halaman, tetapi berkurang jumlahnya.

Diam Sesaat Sebelum Melangkah

Ketika malam pergantian tahun tiba, mungkin kota akan bersuara bising. Tetapi orang beriman justru mencari suara hening di dalam dirinya.

Hening untuk mengingat, menyesal, memohon ampun, dan berjanji untuk menjadi lebih baik. Bukan soal merayakan atau tidak merayakan. Tetapi tentang menjadi manusia yang lebih sadar akan waktu. Tahun baru bukan pesta.
Ia adalah jeda. Jeda untuk kembali kepada Allah.**

PP Laa Roiba-Muaraenim, 12 Desember 2025

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *