Palembang, Menjaga Kota Saat Awan Menghitam

Pegawai kelurahan yang menyisir gorong-gorong

PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Beberapa hari terakhir, Palembang seperti hidup di bawah ketukan air. Hujan datang tidak lagi sekadar gerimis sore; ia berubah menjadi suara deras yang menutup percakapan di warung kopi, meninggalkan genangan di ujung gang, dan kecemasan di lintasan jalan yang sudah dihafal sebagai titik banjir.

Di ruang kerjanya yang dipadati peta dan tumpukan laporan, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengikuti pergerakan cuaca seperti mengikuti alur detak jantung kota.

Setiap rilis prakiraan cuaca dari dinas terkait menjadi bahan rapat singkat. Hujan yang turun di satu kecamatan bisa berarti kesiapan logistik di kecamatan lain.

“Sebenarnya kondisi ini sudah kami antisipasi,” katanya, Jumat, 5 Desember 2025, saat melepas bantuan untuk warga terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumbar, dan Sumut.

Kalimatnya tenang, tetapi ritmenya menunjukkan kesibukan yang tak mereda. “Pembagian tugas di tingkat kelurahan dan kecamatan sudah dilakukan.”

Di balik pernyataan resmi itu, ada kerja rutin yang tak terlihat: pegawai kelurahan yang menyisir gorong-gorong, petugas yang melipat jaket pelampung di gudang kantor, operator call center yang mencatat keluhan warga tentang air yang naik perlahan di halaman rumah.

Pemerintah Kota Palembang memetakan wilayah rawan banjir dengan cara yang sederhana tetapi penting: belajar dari ingatan. Titik-titik genangan dicatat dari kejadian beberapa tahun terakhir—jalan yang selalu tergenang jika hujan turun lebih dari satu jam, gang yang berubah menjadi saluran air, dan rumah warga yang setiap musim hujan berubah menjadi tempat penampungan sementara.

Koordinasi itu tidak hanya terjadi di atas kertas. “Mulai dari Dandim, Lanal, Lanud hingga Polrestabes semuanya terintegrasi,” ujar Dewa. Kalimat itu terdengar seperti daftar nama dalam radio komunikasi ketika hujan mulai membentuk genangan.

Ada BPBD yang menyiapkan perahu karet, ada Dinas Sosial yang menyimpan stok logistik—beras, selimut, dan paket makanan cepat saji—untuk kemungkinan evakuasi.

Di posko kecil kecamatan, petugas bergantian berjaga. Mereka memantau pesan grup WhatsApp yang mendadak ramai ketika gerimis berubah menjadi hujan deras. Informasi yang datang biasanya pendek: “Air sudah masuk halaman, RT 10 siap evakuasi.” Atau: “Perahu minta dikirim kalau bisa sekarang.”

Dewa menyebut dirinya memantau lapangan setiap hari. Pengawasan, baginya, bukan sekadar melihat laporan. Ini soal memastikan bahwa perintah sampai ke lokasi yang tepat, pada waktu yang tepat. “InsyaAllah kami selalu standby,” katanya.

Di luar kantor pemerintahan, suara hujan kembali jatuh sore itu. Genangan mulai muncul lagi di jalan-jalan yang sama. Warga menutup pintu rumah sambil menunggu air turun, dan kota bersiap menghadapi hal yang sudah terlalu akrab: musim hujan yang datang membawa daftar pekerjaan tak berakhir.

Kesiapsiagaan itu seperti payung besar yang dinaungi banyak tangan. Tidak selalu sempurna, tidak selalu cepat, tetapi cukup untuk membuat Palembang merasa dijaga saat awan menghitam.

TEKS : AHMAD MAULANA  |  EDITOR : WARMAN P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *