
PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Palembang sore itu seperti menahan napas. Di halaman gedung tempat Pekan Seni 2025 dibuka, lampu-lampu sorot memantul di permukaan Sungai Musi yang mengalir tenang, sementara ratusan orang mulai memenuhi arena pertunjukan.
Festival yang biasanya menjadi ajang unjuk karya kreatif tahunan ini tiba-tiba punya muatan yang lebih berat: para seniman Palembang sepakat menjadikannya ruang deklarasi untuk mendukung pengusulan Ratu Sinuhun—figur perempuan penting dalam sejarah Sumatera Selatan—sebagai Pahlawan Nasional.
“Pekan Seni tahun ini memang berbeda,” kata M. Nasir, Ketua Dewan Kesenian Palembang. Ia duduk di bangku penonton, memperhatikan panggung yang masih basah oleh cahaya. “Kami ingin mengembalikan Ratu Sinuhun ke ruang publik. Bukan sekadar ingatan sejarah, tapi sebagai gagasan yang relevan hari ini.”
Ketika Tarian Menjadi Pernyataan
Begitu lampu panggung meredup, suara gamelan mengalun pelan. Dari balik tirai, para penari Sanggar Mei-Mei muncul membawa selendang panjang. Mereka menarikan Tari Gema Swara Sinuhun, garapan koreografer muda Sonia Anisah Utami. Gerak tubuh para penari tampak lembut, tetapi sesekali memotong ruang dengan ketegasan yang mencolok—seakan merekam karakter seorang pemimpin yang berada di antara kebijaksanaan dan keberanian.
Di bagian tengah pertunjukan, salah satu penari berdiri sendirian, selendangnya menjuntai seperti lembaran hukum. Itu simbol dari Simbur Cahaya, tradisi hukum adat yang erat dikaitkan dengan kiprah Ratu Sinuhun. Penonton hening, lalu bertepuk tangan panjang.
“Ini bukan sekadar tarian. Ini pernyataan sikap,” ujar Sonia usai pentas. “Kami ingin menunjukkan bahwa narasi perempuan dalam sejarah Palembang bukan pinggiran. Ia pusat.”
Kurasi yang Menjadi Arsip Alternatif
Selama lima hari, festival ini berfungsi seperti museum temporer. Di salah satu sudut gedung, lukisan-lukisan Martha Astra Winata digantung dengan cahaya putih yang menyinari tiap sapuan cat. Potret Ratu Sinuhun tampil tidak seperti figur dalam buku sejarah: wajahnya digambarkan tegas, tatapannya lurus, seolah mengawasi zaman yang terus berubah.
“Kita tidak pernah tahu seperti apa wajah beliau,” kata Martha. “Jadi saya menggambar suaranya.”
Serinya menjadi elemen visual utama festival dan membuatnya menerima penghargaan kuratorial pada malam pembukaan. Lukisan-lukisan itu terlihat seperti perlawanan halus terhadap sejarah yang selama ini terlalu maskulin dan terlalu Jawa-sentris.
Tak jauh dari ruang pamer, sekelompok mahasiswa membaca naskah sejarah di atas panggung kecil. Pertunjukan musik tradisional mengisi jeda antar-sesi, sementara diskusi tentang perempuan dalam sejarah Palembang menarik banyak pengunjung. Festival ini, pelan-pelan, berubah menjadi ruang arsip alternatif—di mana sejarah tak lagi dibacakan dari podium resmi, tetapi dari tubuh para seniman.
Kolaborasi yang Memperkuat Narasi
“Seni itu punya daya untuk membangun kesadaran,” kata H. Sulaiman Amin, Kepala Dinas Kebudayaan Palembang. “Kalau masyarakat memahami siapa itu Ratu Sinuhun, dukungan terhadap gelar Pahlawan Nasional bukan lagi sekadar formalitas administratif.”
Beberapa komunitas seni turut serta membangun atmosfer kolektif itu. Komunitas Tanjak Kultur, Kawan Lamo, Gong Sriwijaya, hingga pembacaan puisi tematik oleh Anto Narasoma menambahkan ragam ekspresi yang memperlihatkan luasnya dukungan. Tiap kelompok menggunakan gaya masing-masing, tetapi membawa pesan yang sama: sejarah perempuan tidak boleh dibiarkan pudar.
Seni Sebagai Suara Publik
Di tengah riuh festival, para pengunjung terlihat menyimak dengan serius. Tak semua mengenal siapa Ratu Sinuhun sebelumnya. Namun lima hari festival ini tampak berhasil membuka kembali ruang percakapan yang lama tertutup: tentang kepemimpinan perempuan, hukum adat, dan kontribusi tokoh lokal dalam sejarah nasional.
“Kalau bukan lewat seni, mungkin orang tidak tertarik membicarakan ini,” kata seorang pengunjung, seorang pelajar SMA yang datang bersama kelompok teater sekolahnya.
Festival ini memang didesain terbuka untuk umum. Walikota Palembang Ratu Dewa dijadwalkan membuka acara secara resmi. Tetapi bagi para seniman, pembukaan hanyalah simbol. Inti sebenarnya ada pada suasana yang tercipta—sebuah pernyataan bahwa ruang seni bisa menjadi ruang aspirasi politik-kultural.
Menuju Pengakuan Sebuah Nama
Usaha pengusulan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional bukan perkara mudah. Namun dukungan para seniman memberi dorongan baru. Narasi tentang perempuan yang memimpin, mengatur hukum, dan menanam gagasan kesetaraan di masa lalu tak lagi dianggap sekadar catatan kaki.
“Kalau sejarah besar lupa menyebutkan namanya, maka seni akan memanggilnya kembali,” kata Nasir menutup pembicaraan.
Pekan Seni 2025 akan berlangsung hingga akhir pekan, tetapi gaung dukungan itu tampaknya akan terus bergema lebih lama daripada festivalnya sendiri. Dari panggung, kanvas, sampai puisi, suara para seniman telah bulat: zaman mungkin berubah, tetapi keberanian untuk mengingat tidak boleh padam.**
TEKS / FOTO : RELEASE DKP | EDITOR : IMRON SUPRIYADI













