Di tengah gemerlap kota Palembang yang diapit Sungai Musi, tersimpan mimpi sederhana namun membara dari para pecinta film lokal: memiliki bioskop sendiri—tempat karya anak daerah bisa bernafas tanpa harus menunggu belas kasih jaringan layar besar. Bagi mereka, sinema bukan sekadar tontonan, melainkan ruang identitas dan ekspresi budaya yang harus dijaga agar tak padam. Bioskop Lokal untuk Mimpi yang Tak Pernah Padam pun menjadi semboyan yang menggugah semangat baru bagi sineas Palembang untuk menulis sejarahnya sendiri lewat cahaya proyektor.
———————
Palembang | KabarSriwijaya.NET — Kota yang diapit Sungai Musi ini tak hanya punya pempek dan jembatan Ampera sebagai ikon. Di balik hiruk-pikuknya, ada bara kecil yang sedang dijaga oleh para pecinta film lokal: mimpi agar Palembang punya bioskop sendiri. Bukan sekadar ruang ber-AC dengan kursi empuk dan popcorn mahal, melainkan panggung tempat film-film lokal bisa bernapas.
Percakapan di grup WhatsApp Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan beberapa hari terakhir (Oktober 2025), seolah menjadi panggung ide, keluhan, dan semangat yang sama: bagaimana film lokal bisa hidup di tanahnya sendiri. Dari obrolan itu, muncul gagasan besar yang menggetarkan — mendirikan bioskop lokal Palembang.
Mimpi di Tengah Monopoli Layar
Jimmy Pieter, seorang insan film yang sudah malang melintang di dunia perfilman Sumsel, menuturkan dengan nada getir namun penuh keyakinan.
“Sudah banyak sekali program dan workshop diselenggarakan oleh komunitas dan pemerintah di Palembang,” katanya.
“Tapi hasil akhirnya tetap kembali ke distribusi film itu sendiri. Banyak film bagus yang akhirnya terkubur atau hanya sebentar hidup di festival-festival.”
Jimmy mengibaratkan nasib film lokal seperti benih yang tumbuh tanpa tanah subur. Ada banyak karya, tapi sedikit ruang pemutaran.
Ia menyebut, ide memiliki bioskop lokal Palembang bukan sekadar mimpi gila, melainkan kebutuhan strategis.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
“Kalau di Palembang ada bioskop sendiri, karya-karya lokal bisa diputar dengan sistem tiket. Hasil penjualannya bisa jadi pemasukan dan memutar kembali industri film di daerah. Kita tak selamanya harus ngemis ke pemerintah,” ujarnya tegas.
Baginya, keberadaan bioskop lokal bisa menumbuhkan rasa percaya diri sineas daerah. Mereka tak lagi menunggu belas kasih distributor besar yang kerap memonopoli layar bioskop nasional.
“Untuk masuk layar lebar saja, sangat kecil harapan sineas lokal,” lanjutnya. “Kalau pun bisa, itu pun harus ‘membeli kursi’. Nah, sampai kapan kita begini terus?”
Tagline yang ia usulkan pun menggema di grup itu: “Bangkitkan bioskop di daerah demi kelangsungan industri film nasional.”
Ruang Alternatif, Bukan Sekadar Tempat Nonton
Gagasan itu segera disambut para pegiat seni lain. Nasrul Jola-Jola, seniman yang lama berkecimpung di dunia teater dan film Palembang, menambahkan nada semangat.
“Setuju sekali! Harus ada festival film independen mulai dari tingkat pelajar sampai profesional,” katanya. “Dak kado kalah samo konten kreator!”
Menurut Nasrul, Palembang butuh ruang ekspresi yang terstruktur — tempat anak muda bisa menayangkan karya mereka tanpa harus menunggu restu jaringan bioskop besar. Ia menilai semangat kemandirian inilah yang akan menumbuhkan generasi baru sineas daerah.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
Sementara itu, Oim Brams, aktor dan pegiat film Palembang, yang sempat bermain di beberapa sintron di Jakarta, menyoroti contoh nyata di Pulau Jawa.
“Di Jawa Barat ada bioskop lokal seperti SAM’S Studio milik Rafi Ahmad dan Sonu Samtani. Ada 17 titik, dari Jabar sampai Jatim,” ujar Oim. “Aturannya tak seketat XXI. Yang penting memenuhi standar layar lebar, dan sistemnya bagi hasil tiket.”
Ia menambahkan, di Palembang peluang itu sebenarnya sudah ada. Salah satu jaringan yang mungkin bisa diajak bekerja sama adalah CGF (Cine Gema Film). “Kita cuma butuh keberanian dan manajemen yang baik,” tegasnya.
Dari Gedung Kesenian ke Ruang Alternatif
Suara terakhir datang dari Angger, seorang penikmat dan peminat film di Palembang. Ia menyoroti soal pentingnya ruang alternatif.
“Selaras dengan idenya Kak Jimmy,” ujarnya. “Palembang memang perlu ruang alternatif atau bioskop alternatif untuk teman-teman yang sekarang makin masif berkarya.”
Menurutnya, komunitas lokal sebenarnya sudah rajin memutar film secara nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain — dari kafe, aula kampus, hingga halaman pesantren. Tapi semua itu sifatnya sementara.
“Gedung Kesenian Palembang yang kini mulai dimanfaatkan para seniman bisa jadi opsi,” katanya lagi. “Tinggal dikelola lebih sistematis dan terstruktur agar bisa jadi ruang pemutaran rutin.”
Ia menutup komentarnya dengan refleksi yang menohok: “Kalau film lokal tidak punya rumah di tanahnya sendiri, maka lama-lama para pembuatnya juga akan kehilangan arah.”
Seperti Doa tanpa tempat sujud
Diskusi di grup itu bukan sekadar nostalgia atau angan kosong. Di balik setiap pesan WhatsApp, ada keresahan yang nyata: para sineas Sumsel ingin film mereka hidup — dilihat, diapresiasi, dan menghasilkan. Mereka tak ingin karya mereka hanya berhenti di festival, tak ingin Palembang sekadar jadi penonton dari geliat film nasional.
Kondisi ini seakan menegaskan bahwa film lokal tanpa ruang adalah doa tanpa tempat sujud. Palembang punya banyak bakat, punya sejarah panjang, punya cerita yang layak dituturkan. Yang kurang hanya satu: layar untuk menampilkannya.
Bila ide bioskop lokal benar-benar terwujud, maka Palembang bisa menjadi contoh kota yang tak hanya menonton film, tapi juga menulis sejarahnya sendiri lewat cahaya proyektor. Sebab, seperti yang dikatakan Jimmy Pieter di akhir diskusi:
“Film itu bukan sekadar tontonan. Ia adalah identitas. Dan identitas, kalau tidak dipertahankan, akan diambil orang lain.”
Catatan Redaksi:
Gagasan bioskop lokal ini membuka percakapan penting dalam ekosistem seni Palembang: tentang kemandirian, ruang ekspresi, dan masa depan industri film daerah. Barangkali, di tengah sunyi Sungai Musi dan riuh pasar 16 Ilir, sudah saatnya Palembang punya panggungnya sendiri — tempat cerita-cerita lokal bersinar seterang lampu layar lebar.**
Teks : Imron Supriyadi
Sumber : Obrolan Grup WhatApp KCFI Sumsel (28 Oktober 2025).















