
Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2025 di Kabupaten Muara Enim menjadi lebih istimewa tahun ini. Serangkaian kegiatan seperti Turnamen Badminton Santri dan Pelajar se-Sumatera Selatan, Jalan Santai Santri, Festival Hadroh dan Sarafal Anam, Bazar Sembako Murah, Istighosah dan Pengajian Umum, hingga Upacara Hari Santri menjadi wujud nyata semangat kebersamaan, sportivitas, dan spiritualitas yang berpadu dalam satu napas: Santri Siaga Jiwa Raga untuk Indonesia Jaya.
Rangkaian kegiatan yang digelar tidak sekadar seremonial, melainkan menggambarkan kemandirian dan peran strategis santri dalam kehidupan bermasyarakat.
Turnamen badminton, menegaskan bahwa santri dan pelajar tidak hanya kuat dalam spiritualitas, tetapi juga tangguh dalam sportivitas dan fisik. Ini mencerminkan karakter kaffah—santri yang sehat jasmani dan rohani.
Jalan Santai, tidak sekadar berjalan santai, tetapi menapaki jejak semangat perjuangan para santri dan ulama,
yang telah berperan besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, serta untuk meneguhkan kembali bahwa santri bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga sehat jasmani, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air.
Inilah wujud nyata santri yang kaffah — sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Bazar Sembako Murah menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan solidaritas. Santri tidak hidup dalam menara gading pesantren, tetapi hadir di tengah masyarakat, memberi manfaat, dan ikut meringankan beban sesama. Inilah semangat khidmah lil ummah yang harus terus dirawat.
Festival Hadroh dan Sarafal Anam menampilkan kekayaan budaya Islam yang damai dan indah. Melalui lantunan shalawat dan seni Islami, para santri menunjukkan bahwa dakwah bisa hadir dengan wajah penuh kedamaian, menggembirakan hati, serta memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Puncaknya Istighosah dan Pengajian Umum serta Upacara Hari Santri Nasional menjadi momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran santri sebagai penjaga moral bangsa.
Dari pesantren lahir nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial. Sejarah telah mencatat bahwa resolusi jihad para ulama dan santri menjadi fondasi lahirnya kemerdekaan Indonesia—dan kini semangat itu terus diwariskan kepada generasi muda.
Melalui peringatan Hari Santri 2025 ini, Kabupaten Muara Enim menunjukkan komitmennya untuk terus menghidupkan semangat ke-santrian: berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Santri masa kini bukan hanya ahli dalam kitab kuning, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman digital dan ekonomi kreatif.
Peringatan ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menggerakkan — agar santri terus menjadi pelopor perubahan, penggerak kemandirian umat, dan penjaga keutuhan NKRI.
Peringatan Hari Santri di Muara Enim ini juga menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan seluruh unsur pesantren.
Apresiasi setinggi-tingginya patut disampaikan kepada Bupati Muara Enim atas dukungan dan perhatiannya terhadap kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi santri. Begitu pula kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muara Enim beserta jajaran yang telah menjadi motor penggerak penyelenggaraan kegiatan dengan penuh semangat dan kebersamaan.
Dukungan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah dan Kemenag memiliki komitmen kuat untuk terus memberdayakan pesantren sebagai pusat pendidikan moral, spiritual, dan sosial.
Ke depan, harapannya Peringatan Hari Santri tahun-tahun berikutnya dapat semakin berkembang — tidak hanya dalam kemeriahan, tetapi juga dalam substansi dan pemberdayaan.
Kegiatan keagamaan, sosial, dan ekonomi kreatif berbasis pesantren perlu terus diperluas agar santri Muara Enim benar-benar menjadi agen perubahan dan kemandirian umat.
Semangat Hari Santri 2025 dengan tema “Santri Siaga Jiwa Raga untuk Indonesia Jaya” harus terus hidup di dada setiap santri dan masyarakat.
Dari pesantren, akan lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi bangsa. Muara Enim telah menyalakan api semangat itu — kini tinggal bagaimana kita semua menjaganya agar terus menyala untuk Indonesia yang lebih maju, religius, dan berkeadaban.
Muaraenim, 22 Oktober 2025













