PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Di sebuah ruang pertemuan di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Kamis siang yang teduh itu (9/10/2025), suasana tampak berbeda. Tidak hanya karena deretan pejabat dan tokoh agama hadir dalam satu forum, tetapi karena di antara kata-kata yang mengalir dari mimbar, terselip aroma kasih sayang — sesuatu yang terasa mulai langka di ruang-ruang publik kita.
H. Syafitri Irwan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan, berbicara dengan nada lembut namun berisi. Ia bukan sekadar menyampaikan program pemerintah, melainkan menuturkan sebuah gagasan besar: “Kurikulum Berbasis Cinta” dan konsep ekoteologi — dua kata yang sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna spiritual yang panjang.
“Inti ajaran agama adalah cinta,” ujarnya pelan, seperti mengutip gema nurani yang telah lama terpendam di hati manusia. “Kurikulum ini lahir dari kesadaran bahwa agama, pada dasarnya, adalah jalan kasih sayang — Rahmatan Lil ‘Alamin.”
Belajar dari Alam dan Sesama
Ahmad Tohari, pengarang Ronggeng Dukuh Paruk, pernah menulis bahwa manusia yang beragama seharusnya menjadi peneduh, bukan perusak. Begitu pula arah pemikiran yang hendak ditegakkan dalam Kurikulum Berbasis Cinta ini. Bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan pendidikan yang menumbuhkan empati — kepada sesama, kepada lingkungan, bahkan kepada Tuhan.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
Kakanwil menjelaskan, pendekatan ekoteologi menuntun kita melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sahabat spiritual. “Keberagamaan tidak berhenti pada ritus formal,” katanya, “tetapi juga harus hidup dalam kepedulian ekologis.”

Dalam pandangan ini, bumi bukan sekadar tanah tempat berpijak, melainkan amanah yang mesti dijaga dengan penuh cinta. Dari gunung hingga sungai, dari pohon hingga udara — semuanya bagian dari dialog suci antara manusia dan Sang Pencipta.
Cinta sebagai Energi Pendidikan
Di tengah wajah pendidikan yang kerap kering oleh angka dan penilaian, Kurikulum Berbasis Cinta mencoba mengembalikan makna sejati belajar: memanusiakan manusia.
Cinta, dalam konteks ini, bukan sentimentalitas, melainkan energi spiritual — kekuatan yang menumbuhkan kedamaian, solidaritas, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Pendidikan yang menanam cinta, kata Syafitri, akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga berjiwa welas asih, ramah terhadap alam, dan adil terhadap sesama. “Inilah landasan etis yang ingin dibangun Kementerian Agama,” tegasnya.
Menjaga Indonesia yang Majemuk
Keberagaman di negeri ini seperti pedang bermata dua. Ia bisa menjadi keindahan, tapi juga bisa melukai jika tak dikelola dengan bijak. Di banyak tempat, perbedaan keyakinan masih menimbulkan luka sosial. Di situlah pentingnya menanamkan nilai cinta sejak dini.
Kementerian Agama, melalui Kurikulum Berbasis Cinta, berharap anak-anak belajar untuk mencintai manusia tanpa sekat agama, mencintai alam tanpa keserakahan, dan mencintai Tuhan dengan pengabdian yang tulus. Sebab dari cinta yang tulus itulah kerukunan tumbuh, dan perdamaian bersemi.
Di akhir acara, tepuk tangan peserta terdengar tidak serentak. Ada jeda, seolah setiap orang sedang merenung. Mungkin mereka sedang membayangkan, seperti apa wajah Indonesia jika cinta sungguh menjadi kurikulum hidup.
Dan barangkali, di sanalah letak indahnya — ketika kerukunan tidak hanya dibicarakan di forum resmi, tapi mulai tumbuh dalam kesadaran setiap jiwa.
TEKS : Humas Kemenag Sumsel / Diolah Redaksi KabarSriwijaya.NET (IMRON SUPRIYADI)









