Sultan Muda dan Warna Kota: Napas Baru di BKB Palembang

Event ini bukan hanya olahraga, tapi momentum kebangkitan ekonomi dan pariwisata Palembang

PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Pagi yang cerah di tepian Sungai Musi selalu menghadirkan bayangan tentang denyut kota yang terus mencari makna baru antara tradisi dan modernitas.

Di antara aroma kopi yang mengepul di kios-kios kecil Benteng Kuto Besak (BKB), kabar gembira mengalir—Palembang bersiap menjadi tuan rumah Sultan Muda Digination Run x Color Fest, ajang lari penuh warna yang menjahit semangat sport tourism dengan literasi keuangan dan geliat ekonomi kreatif.

Event yang akan berlangsung pada 19 Oktober 2025 ini lahir dari kolaborasi lintas sektor—Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Kota Palembang, dan Dinas Pariwisata—dalam satu tarikan napas yang sama: menghidupkan kembali denyut ekonomi dan pariwisata kota lewat energi anak muda.

Wakil Wali Kota Palembang Prima Salam menyebutnya bukan sekadar lomba lari, tetapi sebuah “gerak budaya baru.”

“Event ini bukan hanya olahraga, tapi momentum kebangkitan ekonomi dan pariwisata Palembang. Ia akan jadi acara berkesan sebelum kawasan BKB direvitalisasi,” ujarnya, usai menerima jajaran OJK di ruang rapat Balai Kota, Selasa (7/10/2025).

Nada suaranya penuh optimisme, seperti seseorang yang melihat masa depan kota lewat langkah-langkah kaki muda yang berlari.

Ritme Lari, Irama Ekonomi

Sultan Muda Digination Run x Color Fest tak hanya menawarkan keceriaan lari dengan semburan warna. Di balik semaraknya, terselip semangat literasi—bagaimana ekonomi, olahraga, dan kreativitas bertemu dalam satu festival.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung menyebut kegiatan ini sebagai “simfoni kolaboratif” yang sejalan dengan visi Palembang Cerdas, salah satu program unggulan duet pemimpin kota, Ratu Dewa–Prima Salam (RDPS).

“Melalui kolaborasi dengan Sultan Muda Sumsel Center (SMSC), kami ingin mendorong lahirnya youngpreneur Palembang yang tangguh dan berdaya saing tinggi,” ujarnya.

Di era ketika kota-kota berlomba menciptakan narasi identitasnya, Palembang menemukan cara yang lembut tapi kuat: berlari bersama warna. Tak hanya tentang kebugaran jasmani, tapi juga tentang literasi finansial, produktivitas, dan pemberdayaan UMKM lokal.

Festival Sebagai Ruang Sosial

Bagi Prima Salam, kegiatan semacam ini ibarat ruang publik yang cair—tempat di mana olahraga, seni, dan ekonomi saling berpelukan. Ia percaya, generasi “Sultan Muda” bukan sekadar slogan. Mereka adalah simbol dari generasi Palembang yang ingin berdaya, berkreasi, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebersamaan.

“Kami ingin menumbuhkan semangat hidup sehat dan produktif, memperkuat UMKM lokal, serta mengedukasi anak muda soal literasi keuangan dan kewirausahaan,” katanya.

Dalam narasi pembangunan kota, festival seperti Color Fest sering kali menjadi ruang sublim antara ekonomi dan budaya. Dari sudut pandang seni perkotaan, kegiatan semacam ini adalah cultural movement—gerak sosial yang menciptakan ruang ekspresi baru di tengah padatnya infrastruktur kota.

Denyut Sungai, Denyut Generasi

Benteng Kuto Besak (BKB) yang selama ini menjadi ikon wisata, kini tengah bersiap menjalani revitalisasi. Namun sebelum wajah barunya tampil, kawasan ini sekali lagi akan menjadi saksi keramaian yang penuh warna. Para pelari muda, musik yang menggelegar, dan semburan bubuk warna akan menjadi metafora tentang kota yang terus belajar menjadi lebih hidup.

Sultan Muda Digination Run bukan sekadar “lari bersama,” tapi juga simbol bahwa ekonomi dan kebudayaan bisa saling menopang. Bahwa semangat sport tourism tak hanya menghasilkan angka kunjungan, tapi juga melahirkan rasa memiliki terhadap kota.

Dari Palembang untuk Sumatera Selatan

OJK dan Pemerintah Kota Palembang sepakat menjadikan event ini sebagai langkah menuju Palembang sebagai pusat sport tourism dan ekonomi kreatif di Sumatera Selatan. Bukan ambisi kosong, tetapi gagasan yang dibangun lewat gerak bersama—antara birokrasi, komunitas, dan generasi muda.

Ketika warna-warna tumpah di udara, dan ribuan langkah kaki memadati tepi Sungai Musi, di situlah Palembang menunjukkan wajah terindahnya: kota yang tumbuh dari kebersamaan.

Di balik bubuk warna yang beterbangan, sesungguhnya ada pesan yang lebih dalam—tentang optimisme, tentang kota yang tak berhenti bergerak, dan tentang masa depan yang dirayakan dengan cara paling sederhana: berlari, tertawa, dan saling menyapa.

TEKS : YULIE AFRIANI   |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *