Coffe J, Kopi Rumahan dengan Sentuhan Generasi Z di Palembang

Andalan mereka sederhana tapi penuh cerita: Kopi Jadul dan Pisang Goreng

PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET — Ada aroma kopi yang menyeruak begitu saya melangkah masuk ke sebuah sudut Jalan Yayasan II, Kecamatan Ilir Timur 2. Hari itu, Minggu (5/10/2025), tak hanya wangi kopi yang memancing indera, tetapi juga riuh obrolan anak muda yang memenuhi sebuah kedai baru: Coffe J.

Bukan sekadar kedai kopi biasa. Peresmian cabang kedua Coffe J bahkan menghadirkan Walikota Palembang, H. Ratu Dewa. Dengan senyum yang tak putus, ia menyebut kehadiran Coffe J sebagai “pertanda ekonomi Palembang yang menjanjikan.” Lebih jauh, ia menyebut konsep barunya “luar biasa keren,” terutama karena sangat dekat dengan selera generasi Z.

Dan memang, atmosfernya terasa berbeda. Dinding dengan mural bernuansa retro, lampu gantung yang remang namun hangat, hingga meja kayu yang sederhana, semua menegaskan bahwa tempat ini ingin menjadi ruang pertemuan yang egaliter: tempat anak muda bisa berlama-lama tanpa canggung, sambil menyeruput kopi yang akrab dengan lidah.

Iin, sang pemilik, menyapa dengan ramah. Matanya berbinar saat bercerita tentang mimpi yang sudah ia bangun sejak 2018. “Awalnya cuma karena suka ngopi bareng saudara. Tapi kok Palembang ini rasanya masih kurang tempat ngopi yang ngopi santai, dengan kopi rumah nenek dan makanan rumahan,” tuturnya. Dari situlah lahir Coffe J.

Menu andalan mereka sederhana tapi penuh cerita: Kopi Jadul dan Pisang Goreng. Dua sajian klasik yang berpadu manis. Kopi Jadul, diseduh dengan metode manual yang mengingatkan kita pada pagi-pagi di rumah orang tua dulu—pahit, hangat, dan jujur apa adanya. Pisang gorengnya? Renyah di luar, lembut di dalam, tak pelit gula, persis camilan yang menemani sore masa kecil. Saya tak bisa tidak berkata: “maknyus.”

Tak hanya itu, harga di Coffe J diracik dengan penuh pertimbangan. Iin menekankan bahwa kualitas tetap nomor satu, tapi harga jangan bikin orang enggan mampir. “Bahkan ada menu kopi yang harganya masih Rp10 ribu. Jadi semua kalangan bisa datang, dari keluarga sampai anak-anak,” ujarnya.

Coffe J juga memanjakan pengunjung dengan promo 20% hingga 19 Oktober. Tapi lebih dari sekadar promo, suasana di sini adalah alasan untuk kembali. Di setiap tegukan kopi, ada rasa akrab yang mengikat. Di setiap gigitan pisang goreng, ada nostalgia yang membuncah.

Peresmian yang dihadiri Walikota Ratu Dewa menambah legitimasi bahwa kedai kopi kini bukan lagi sekadar tempat minum, tapi simbol geliat ekonomi dan budaya kota. Kopi, di tangan anak muda Palembang, menjadi bahasa persahabatan, ruang kreasi, sekaligus harapan bagi sebuah kota yang terus tumbuh.

Mengutip presenter kuliner “Mak Nyus” Bondan Winarno, kuliner bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita, ia adalah budaya. Dan Coffe J, dengan kopi rumahan dan nuansa generasi Z, sepertinya sedang menuliskan bab baru dalam buku panjang kuliner Palembang.

TEKS : YULIE AFRIANI  |  EDITOR  :  IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *