PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Di sebuah ruang rapat TVRI Sumatera Selatan, Selasa siang, 19 Juli 2022, empat lelaki tampak berbincang serius. Di ujung meja, Sukirman, Kepala Stasiun TVRI Sumsel, menyimak dengan seksama paparan tamunya — pengurus Forum Teater Sumatera Selatan (Fortass). Tak ada yang tahu, pertemuan itu bakal menyalakan kembali denyut teater sekolah yang sempat mati suri selama pandemi.
Dua tahun sebelumnya, pandemi Covid-19 menutup semua panggung. Sekolah-sekolah yang biasanya rutin menggelar pertunjukan di Graha Budaya Jakabaring, mendadak senyap. “Hidup teater sekolah itu seperti lilin di tengah angin,” kata Yondi Aoudyto, pendiri Teater Gembok Palembang, dalam pesan singkatnya kepada redaksi. “Program ini jadi penyemangat baru.”
Fortass datang dengan ide sederhana: menghidupkan kembali tradisi pentas sekolah lewat kolaborasi. TVRI, yang tengah menata ulang konten kebudayaan, menangkap peluang itu. “Segera buat konsep yang jelas, kalau bisa pekan depan kita shooting,” ujar Sukirman, pria kelahiran akhir 1964 itu, seperti ditirukan peserta rapat.
Dua hari berselang, Sabtu 23 Juli 2022, di kantor Fortass di Jalan Seruni, Palembang, sejumlah nama lama di dunia teater berkumpul. Erwin Janim, Yussudarson Sonov, Yosep Suterisno, dan Imron Supriyadi merancang ulang ide itu menjadi satu paket: “Parade dan Anugerah Teater Sekolah Sumsel.”
Sebuah nama yang terdengar sederhana, tapi bagi mereka, ini tonggak baru.
Dari Aula ke Studio
Dalam pertemuan lanjutan, Fortass sepakat bahwa format baru ini harus berbeda dari parade teater sebelumnya. Tidak lagi sekadar pentas di gedung atau panggung terbuka, melainkan disiarkan langsung di TVRI Sumsel.
“Kita tetap mempertahankan format panggung satu babak,” jelas Yosep Suterisno, jebolan Teater Leksi Palembang, yang kini menjadi penggerak utama Fortass. “Tapi kali ini penontonnya lebih luas, bukan hanya guru dan siswa, tapi seluruh masyarakat Sumsel.”
Siapa pun yang pernah menyutradarai pementasan tahu, tampil di televisi tanpa cut-to-cut bukan perkara mudah. Aktor harus siap menghadapi kamera layaknya penonton hidup. “Tidak ada ruang untuk mengulang,” ujar Yosep. “Ini tetap teater, bukan drama televisi.”
Parade yang dijadwalkan berlangsung Agustus hingga Desember 2022 itu menempatkan TVRI bukan sekadar penyiar, melainkan panggung baru bagi teater pendidikan.
Menyusupkan Dialog di Balik Pentas
Yang menarik, Fortass tak berhenti pada format pementasan. Setelah setiap pertunjukan, digelar sesi “Bedah Panggung” — semacam diskusi mini di studio — menghadirkan tokoh-tokoh teater dari dalam dan luar Sumsel.
Konsepnya sederhana: pementasan menjadi bahan belajar bersama.
“Teater bukan hanya hiburan,” kata Yosep. “Ia mengandung nilai-nilai moral dan simbolik, tapi juga teknik yang perlu dipelajari.”
Dengan bedah panggung, Fortass berharap bisa memunculkan ruang belajar lintas generasi: sutradara senior, guru seni, dan siswa yang baru mengenal panggung.
Langkah ini sekaligus menjawab kritik lama terhadap teater sekolah yang kerap berhenti pada seremonial tahunan. Fortass mencoba memperluas fungsi: teater sebagai ruang literasi budaya.
Sebuah Gerakan, Bukan Sekadar Acara
Majalah ini mencatat, Fortass selama beberapa tahun terakhir telah menghidupkan jejaring teater sekolah di Sumatera Selatan. Mereka menggelar pelatihan, lokakarya naskah, hingga diskusi kebudayaan. Kolaborasi dengan TVRI menjadi langkah strategis: memperluas audiens dan membangun dokumentasi visual yang selama ini nyaris tak ada.
Program “Parade dan Anugerah Teater Sekolah Sumsel” tidak hanya menghadirkan pementasan, tapi juga bentuk penghargaan tahunan bagi kelompok teater sekolah yang menunjukkan konsistensi dan inovasi.
Dengan cara itu, teater sekolah mendapat posisi baru: bukan aktivitas ekstrakurikuler semata, melainkan bagian dari ekosistem kebudayaan daerah.
Rapat Koordinasi dan Jalan Panjang Teater Sekolah
Fortass kemudian mengundang para pegiat seni dan sekolah untuk hadir dalam Temu Teater Sekolah, Senin, 1 Agustus 2022 di Aula TVRI Sumsel.
Tak ada panggung besar hari itu, hanya meja, kursi, dan diskusi panjang. Namun dari ruang itulah gerakan kecil mulai dirancang: membangun standarisasi pementasan, menyusun jadwal parade, dan mematangkan kriteria penilaian untuk anugerah.
Undangan bersifat terbuka. “Kami ingin sekolah yang belum punya sanggar seni juga ikut,” kata Yosep.
Dalam catatan redaksi, semangat seperti ini jarang muncul dari kalangan akar rumput. Sebab di banyak daerah, teater sekolah masih dipandang sebelah mata — kegiatan yang tak masuk dalam indikator prestasi akademik.
Namun di tangan para pegiat Fortass, teater menjadi medium pendidikan karakter. Dari panggung kecil di sekolah, kini mereka melangkah ke layar publik, membawa pesan: bahwa seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan cara lain belajar menjadi manusia.**
TEKS / FOTO : TIM MEDIA FORTASS













