Kabar baik, kadang datang dari hal-hal kecil yang sederhana. Bagi para pegiat teater sekolah di Sumatera Selatan, kabar itu datang dari sebuah ruang rapat di TVRI Sumsel, suatu siang di bulan Juli 2022. Di ruangan itu, sekelompok orang duduk memikirkan hal yang mungkin tampak sepele di mata sebagian orang: bagaimana agar teater sekolah kembali punya panggung.
Dua tahun terakhir, pandemi membuat semua pentas berhenti. Lampu panggung padam. Gedung-gedung kesenian menutup pintunya. Di Graha Budaya Jakabaring, tempat para siswa biasa berlatih dan tampil, hanya debu yang tinggal.
Namun bagi mereka yang percaya pada nilai sebuah pementasan — bahwa teater adalah ruang kecil di mana manusia belajar menjadi manusia — padamnya panggung bukan akhir dari segalanya.
Forum Teater Sumatera Selatan (Fortass) datang membawa semacam rencana yang juga doa: “Parade dan Anugerah Teater Sekolah.” Sebuah program jangka panjang yang akan digarap bersama TVRI Sumsel. Tidak besar, tapi cukup untuk menyalakan kembali api yang nyaris padam.
“Program ini menjadi penyemangat bagi para pegiat teater sekolah, karena selama dua tahun sempat lesu akibat pandemi,” kata Yondi Aoudyto, pendiri Teater Gembok Palembang. Nada suaranya mungkin terdengar biasa saja, tapi di baliknya ada semacam harapan yang lama menunggu giliran.
Dari Pertemuan ke Panggung
Rencana itu berawal dari pertemuan sederhana: Fortass bertemu jajaran TVRI Sumsel pada 19 Juli 2022. Mereka datang bukan membawa proposal formal, melainkan sekadar berbagi ide. Tapi di tangan orang yang punya pandangan jauh, ide kecil bisa tumbuh. Sukirman, Kepala Stasiun TVRI Sumsel, menangkap arah pembicaraan itu dan mendorong agar Fortass menyiapkan konsep lebih konkret.
“Segera buat konsep yang jelas. Kalau bisa, pekan depan kita shooting,” katanya.
Kalimat itu seperti aba-aba yang sudah lama ditunggu.
Dua hari kemudian, di sebuah rumah di Jalan Seruni Palembang, Fortass berkumpul. Ada Erwin Janim, Yussudarson Sonov, Yosep Suterisno, dan Imron Supriyadi. Mereka merumuskan format baru: pentas teater di televisi, disiarkan langsung tanpa pengulangan.
Teater yang biasanya hanya hidup di gedung-gedung kecil kini akan memasuki ruang tamu masyarakat. Panggungnya mungkin berpindah, tapi semangatnya tetap sama.
“Masing-masing tim teater tetap mengacu pada standar pementasan panggung. Tidak ada cut to cut layaknya drama televisi,” kata Yosep, yang pernah tumbuh di lingkungan Teater Leksi Palembang.
Antara Cahaya Studio dan Cahaya Makna
Teater yang disiarkan televisi menghadapi paradoks. Di satu sisi, ia berpotensi menjangkau penonton yang lebih luas. Di sisi lain, ada risiko kehilangan kedekatan yang selama ini menjadi napas teater. Tapi Fortass tampaknya memahami hal itu. Mereka merancang agar setiap pementasan disusul bedah panggung — sebuah diskusi terbuka dengan para tokoh teater.
Dengan cara itu, teater bukan sekadar tontonan, melainkan juga percakapan.
Ia menjadi tempat di mana para pelajar bisa memahami bagaimana dialog disusun, bagaimana simbol bekerja, bagaimana tubuh manusia mengucapkan makna di atas panggung.
“Pementasan ini bukan hiburan semata,” kata Yosep. “Ia juga upaya pencerdasan, terutama bagi mereka yang masih pemula.”
Kalimat itu terdengar tenang, tapi di baliknya terasa sesuatu yang mendalam: keinginan agar teater tak berhenti di tepuk tangan.
Sebuah Gerakan yang Sederhana
Awal Agustus 2022, Fortass mengundang para guru dan siswa dalam “Temu Teater Sekolah se-Sumsel” di Aula TVRI. Empat puluh kelompok hadir — sebagian membawa catatan naskah, sebagian membawa rasa ingin tahu.
Tak ada gemerlap, tak ada musik pembuka. Yang ada hanya diskusi panjang tentang standarisasi pementasan, jadwal parade, dan bagaimana teater bisa tumbuh di sekolah-sekolah yang bahkan belum punya sanggar seni.
Di luar aula, langit Palembang sore itu tampak lembab dan redup. Tapi di dalam ruangan, percakapan berlangsung hangat. Di sanalah teater kembali menemukan bentuknya: bukan sekadar pertunjukan, tapi pertemuan.
Pertemuan antara ide dan keberanian, antara kegelisahan dan pencarian bentuk.
Sebuah Catatan Kecil
Gunawan Mohamad pernah menulis bahwa kesenian adalah cara manusia “mengucapkan sesuatu yang tak sempat diucapkan dengan cara lain.”
Mungkin itulah yang sedang dicoba oleh Fortass: mengucapkan kembali kehidupan setelah masa panjang keheningan. Teater sekolah bukan sekadar panggung kecil — ia adalah laboratorium moral dan imajinasi.
Di studio TVRI, nanti akan ada cahaya lampu, kamera, dan kru. Tapi di balik semua itu, sesungguhnya ada upaya sederhana untuk menjaga agar manusia tetap bisa berkisah, tetap bisa mencari makna dari hidup yang sering terasa sunyi.
Dan seperti semua panggung yang baik, ia akan terus mencari tepuk tangan yang bukan dari penonton — melainkan dari hati yang ikut bergetar. **











