Dosa yang Paling Sopan

Keberanian di negeri miskin, sering kalah oleh rasa takut kehilangan hubungan baik.

BUDAYA, Palembang, Sastra17 Dilihat

Cerpen Imron Supriyadi

“…menjaga anak bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan mereka. Melainkan menjaga mata, menjaga lingkungan, menjaga keberanian untuk melawan kebusukan

Sebab kejahatan seksual bukan hanya lahir dari pelaku. Ia juga tumbuh dari masyarakat yang terlalu lama diam. Dan diam, kadang-kadang, adalah dosa yang paling sopan.

Di ujung senja yang muram, Sungai Musi mengalir seperti doa panjang yang kehilangan langit. Airnya keruh, memantulkan bayangan rumah-rumah panggung di Gandus yang berdiri setengah letih, setengah pasrah.

Angin dari arah rawa membawa bau lumpur, daun nipah, dan sesekali aroma ikan asin yang dijemur di halaman sempit.

Di kampung itu, orang-orang hidup seperti biasa: menanak nasi, memperbaiki jaring, mengaji selepas magrib, dan membicarakan harga minyak goreng yang makin tak masuk akal.

Tetapi malam-malam terakhir tidak lagi sama. Ada ketakutan yang berjalan pelan di sela lorong-lorong kayu. Namanya tak terlihat, tapi semua orang merasakannya.

Anak-anak tak lagi diizinkan bermain sampai petang. Para ibu mulai memanggil anak mereka sebelum azan asar habis berkumandang. Pintu rumah dipalang lebih cepat. Bahkan suara jangkrik terasa seperti kabar buruk.

Semua bermula dari Bunga. Anak perempuan dua belas tahun itu dulu paling suka bermain di tepi sungai. Ia senang memandangi perahu ketek melintas sambil membayangkan dirinya sekolah jauh di kota. Rambutnya selalu dikuncir dua. Gurunya sering berkata, mata Bunga seperti mata anak yang menyimpan banyak pertanyaan.

Tapi sejak malam itu, matanya berubah. Ia tak lagi bicara banyak. Ia sering terkejut mendengar suara sandal di depan rumah. Kadang ia menjerit sendiri saat tidur, membuat ibunya terbangun sambil membaca Ayat Kursi dengan suara gemetar.

Orang-orang kampung mulai berbisik.

“Ada yang kurang beres.”

“Ada setan berkeliaran.”

“Ada manusia yang lebih hina daripada setan.”

Ibunya, Yuniar, tak sanggup menahan air mata setiap kali melihat anaknya termenung di pojok kamar.

Sejak suaminya meninggal karena tenggelam saat mencari ikan dua tahun lalu, Bunga menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. Dan kini alasan hidupnya seperti dirampas seseorang yang bahkan belum diketahui wajahnya.

Yang lebih menyakitkan, kampung itu mendadak pandai pura-pura tuli.

Sebagian warga memilih diam. Sebagian lagi malah sibuk menebak-nebak, seolah penderitaan orang lain adalah hiburan sore hari.

“Jangan-jangan anak itu sendiri yang macam-macam.”

“Sekarang anak kecil sudah pintar.”

Kalimat-kalimat itu meluncur ringan dari mulut orang-orang yang rajin salat jamaah, tapi hatinya lebih keras daripada kayu ulin.

Di kampung itu, agama kadang tinggal pengeras suara.

Azan berkumandang nyaring, tapi keadilan sering terlambat datang.

Sabtu siang, beberapa perempuan datang ke rumah Yuniar. Mereka mengenakan jilbab sederhana, membawa bingkisan dan wajah penuh prihatin.

Mereka dari Forum Peduli Rakyat—Forpera. Organisasi kecil yang sering turun membantu warga miskin, anak putus sekolah, sampai korban kekerasan.

Di antara mereka ada Bu Uswah. Tubuhnya kurus, suaranya lembut, tetapi matanya menyimpan kemarahan yang dingin. Ia pernah menjadi guru madrasah sebelum memilih lebih banyak mengurus masyarakat kecil.

“Mana Bunga, Yun?” tanyanya pelan.

Yuniar menunjuk kamar, tempat Bunga menyepi.

Bunga duduk memeluk lutut. Ketika perempuan-perempuan itu masuk, ia makin merapat ke dinding.

Bu Uswah mendekat perlahan.

“Nak… kami datang bukan untuk membuatmu takut.”

Bunga diam. Hanya matanya yang bergerak.

Mata seorang anak yang baru belajar bahwa dunia orang dewasa ternyata bisa lebih menyeramkan daripada hutan gelap.

Bu Uswah menggenggam tangan kecil itu. Dingin. Seperti memegang ranting hujan.

Di luar rumah, beberapa lelaki berdiri sambil merokok. Mereka berbicara pelan, tetapi nada suaranya terdengar sinis.

“Buat apo ribut-ribut?”

“Belum tentu benar.”

“Kasihan kalau nanti nama kampung jelek.”

Begitulah negeri ini kadang bekerja. Nama baik kampung lebih penting daripada keselamatan anak kecil. Orang-orang takut aib tersebar, tapi tidak takut dosa dipelihara.

Sore itu Forpera mengadakan pertemuan kecil di musala dekat sungai. Tikar digelar. Lampu neon berkedip-kedip seperti nyawa listrik yang setengah ikhlas hidup.

Bu Uswah berdiri di depan warga.

“Kita ini aneh,” katanya pelan. “Kalau ada orang mencuri ayam, satu kampung bisa marah. Tapi kalau anak dilecehkan, kita malah sibuk menjaga nama baik pelaku.”

Sunyi.

Beberapa lelaki menunduk.

“Jangan-jangan,” lanjutnya, “yang kita sembah bukan lagi Allah, tapi ketakutan pada omongan tetangga.”

Kalimat itu seperti batu dilempar ke kolam tenang.

Seorang lelaki tua batuk keras. Yang lain mulai gelisah. Namun Bu Uswah belum selesai.

“Anak kecil itu amanah. Nabi bilang, siapa yang tidak menyayangi anak kecil, bukan golongan beliau. Tapi kita? Kita malah menyuruh korban diam.”

Di sudut musala, seorang pemuda bernama Rian mengepalkan tangan. Ia sahabat almarhum ayah Bunga.

Sudah seminggu ia mencari informasi sendiri. Katanya ada seseorang yang sering terlihat berkeliaran dekat gang sempit belakang rumah Yuniar.

Namanya Darsun. Lelaki itu dikenal licin. Rajin ke masjid, pandai bicara agama, tetapi matanya sering membuat perempuan merasa tak nyaman.

“Kalau memang dia pelakunya, tangkap saja!” seru seorang ibu.

“Tapi bukti belum cukup,” sahut yang lain.

“CCTV di ujung jalan rusak,” kata ketua RT.

Rusak. Lagi-lagi rusak. Di negeri ini, banyak hal mendadak rusak kalau mulai mendekati kebenaran.

Malam turun bersama gerimis. Rian duduk di warung kopi pinggir jalan bersama dua kawannya. Mereka memandangi Darsun yang baru keluar dari gang sambil mengenakan peci putih.

Darsun tertawa kecil dengan beberapa orang. Santai sekali. Seolah tak ada anak kecil yang hidupnya remuk karena ketakutan.

“Kalau polisi lambat, kito yang bergerak,” bisik salah satu pemuda.

Rian menggeleng.

“Jangan jadi binatang juga.”

“Tapi dio bebas!”

“Allah tidak tidur.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di wajah Rian ada sesuatu yang lebih berat dari kemarahan: rasa takut bahwa hukum mungkin kalah oleh uang dan koneksi.

Sebab Darsun kabarnya dekat dengan seorang pejabat kelurahan.

Di negeri ini, dosa sering punya pelindung.

Tiga hari kemudian, kampung Gandus geger. Seorang anak kecil melihat Darsun membuang telepon genggam ke sungai pada tengah malam. Polisi akhirnya menyelidiki. Telepon itu berhasil ditemukan nelayan dengan jaring.

Dan dari sanalah semuanya terbuka. Ada rekaman. Ada pesan. Ada bukti yang selama ini disembunyikan seperti bangkai dibungkus sajadah. Darsun ditangkap menjelang subuh.

Orang-orang berkumpul di depan rumahnya. Sebagian marah. Sebagian pura-pura terkejut. Padahal banyak yang sebenarnya sudah curiga sejak lama.

Hanya saja mereka memilih diam. Karena menurut mereka diam lebih aman. Karena keberanian di negeri miskin sering kalah oleh rasa takut kehilangan hubungan baik.

Saat Darsun dibawa polisi, ia berteriak.

“Saya difitnah!”

Kalimat itu menggema di udara subuh yang dingin. Tetapi tak ada lagi yang percaya.

Seorang nenek meludah ke tanah.

“Mulut kau penuh ayat, tapi hati kau busuk.”

Bunga masih trauma. Ia belum mau keluar rumah. Kadang ia duduk memandangi langit sore tanpa bicara apa-apa. Tetapi perlahan, ia mulai berani memegang buku lagi. Bu Uswah sering datang membawakan cerita-cerita nabi.

Tentang Nabi Yusuf yang difitnah. Tentang kesabaran Maryam. Tentang Allah yang tak pernah meninggalkan orang terzalimi.

“Bunga,” kata Bu Uswah suatu sore, “orang jahat bisa melukai tubuh manusia. Tapi jangan biarkan mereka merusak harapanmu.”

Bunga menatap perempuan tua itu.

“Allah masih sayang aku, Buk?”

Bu Uswah menahan air mata.

“Justru karena Allah sayang, kau masih hidup sampai hari ini.”

Di luar rumah, azan magrib mulai terdengar. Kampung Gandus perlahan kembali bergerak seperti biasa. Perahu ketek melintas. Anak-anak mulai terdengar bermain lagi, meski para ibu kini lebih sering mengawasi.

Tetapi ada sesuatu yang berubah. Orang-orang mulai belajar bahwa menjaga anak bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan mereka.

Melainkan menjaga mata, menjaga lingkungan, menjaga keberanian untuk melawan kebusukan.

Sebab kejahatan seksual bukan hanya lahir dari pelaku. Ia juga tumbuh dari masyarakat yang terlalu lama diam. Dan diam, kadang-kadang, adalah dosa yang paling sopan.

Gandus – Palembang, 09 Mei 2026

*)Penulis adalah jurnalis dan salah satu pelaku sastra di Indonesia yang tinggal di Muaraenim Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *