
Kurator, penulis, perupa Kulonprogo
Pembukaan pameran tunggal Kriss Kronx—nama artistik Adhik Kristiantoro—di Miracle Prints, Jalan Kadipaten No. 32, Kraton, Yogyakarta, Jumat (1/5/2026), berlangsung hangat dan riuh.
Bertepatan dengan peringatan Hari Buruh, pameran ini dibuka oleh Patub Porx, dihadiri pula oleh sejumlah anggota kelompok seni Barbaradoz, komunitas yang turut membentuk perjalanan artistik Kriss.
Semula hanya 50 karya yang disiapkan—bermedium kanvas, kertas, serta sebuah artefak berupa tenda komando dari peristiwa gempa Yogyakarta 24 Mei 2006—namun kemudian bertambah 30 karya di atas kertas.
Karya-karya tambahan itu dibuat saat Kriss menjalani masa penjara, menghadirkan dimensi personal yang lebih sunyi, sekaligus intens.
Tema Noise of Head—kebisingan di dalam kepala—menjadi benang merah seluruh karya. Ia bukan sekadar metafora, melainkan pengalaman batin yang nyata: suara-suara yang datang bertubi-tubi, seperti dengung tak berkesudahan.
Dalam istilah populer, “bukan penyiar yang salah, mungkin perangkat penerimanya yang terganggu.” Namun, pada titik tertentu, gangguan itu tak lagi sederhana. Ia bisa menjelma bisikan, percakapan imajiner, bahkan dorongan yang tak kasatmata.
Kebisingan itu bisa bersumber dari mana saja: percakapan sehari-hari, tekanan sosial, suara negara, hingga gema dari dalam diri sendiri. Dalam dunia yang dijejali arus informasi tanpa henti, suara-suara itu saling bertabrakan, menciptakan gelombang yang tak mudah diredam. Tubuh bereaksi—menolak, menghindar, atau berdamai—namun gema itu tetap tinggal, seperti napas yang tak pernah berhenti keluar-masuk.

Dalam kadar tertentu, kebisingan adalah bagian dari hidup. Ia menandai kesadaran manusia yang terus bekerja, mencerna, dan menafsirkan realitas.
Namun, ketika suara-suara itu menumpuk tanpa jeda, ia berubah menjadi beban: melahirkan cemas, lelah, bahkan kehilangan kendali. Pikiran yang semestinya menjadi ruang jernih justru berubah menjadi ruang gema yang bising.
Bagi Kriss Kronx, kebisingan bukan semata gangguan—melainkan sumber energi kreatif. Sebagai perupa sekaligus pemusik, ia memaknai bunyi sebagai bahan baku ekspresi.
Jika dalam musik kebisingan menjelma dentuman di panggung, dalam seni rupa ia berubah menjadi garis, bentuk, dan wajah-wajah yang ditorehkan dengan intensitas tinggi.
Kebisingan sosial—dari iklan, politik, opini publik, hingga sensasi media—ditangkapnya sebagai lanskap yang liar. Ia mengolahnya menjadi drawing dan lukisan, seolah mengubah riuh menjadi ladang: sesuatu yang bisa digarap, ditanam, dan suatu saat dipanen.
Pengamatan Kriss atas realitas sosial, ekonomi, dan politik menghadirkan dua kutub yang kontras: terang dan gelap. Hitam dan putih menjadi dominasi visual, mempertegas ketegangan antara harapan dan kekecewaan.
Namun, di sela itu, muncul pula warna-warna lain—romantis, melankolis, bahkan jenaka—menunjukkan sisi manusiawi yang tak sepenuhnya hitam-putih.
Secara visual, gaya Kriss menyerupai dentuman musik heavy metal: keras, liar, dan penuh energi. Garis-garis tinta tebal yang seolah “tumpah” membentuk karakter yang kuat, dengan nuansa lokal yang terasa—seperti fermentasi rasa yang lahir dari tanah sendiri.
Wajah-wajah yang hadir dalam karyanya beragam: tokoh publik, figur media sosial, hingga orang-orang terdekat. Semuanya mengalami distorsi geometris, namun tetap menyimpan ekspresi yang tajam. Mereka seakan berbicara—tentang harapan, sinisme, kekaguman, sekaligus kekecewaan.

Dalam konteks ini, kebisingan menjadi refleksi zaman. Di era viral, kebenaran sering kali tereduksi menjadi suara yang paling keras atau paling banyak diulang. Padahal, sebagaimana diingatkan Ibnu Sina, kebenaran lahir dari kesesuaian antara akal, bukti, dan kenyataan—bukan dari riuhnya suara.
Kriss justru memanfaatkan riuh itu sebagai bahan baku. Ia mengolahnya menjadi karya yang komunikatif, bahkan produktif. Kebisingan di kepala dikembalikan ke ruang publik dalam bentuk visual—menjadi ladang seni rupa yang terus ditanami.
Sebanyak 80 karya yang dipamerkan kali ini, dengan medium kanvas, kertas, dan artefak, menjadi semacam lahan garapan. Di dalamnya tertanam pengalaman, kegelisahan, dan refleksi. Kelak, dari ladang itu, mungkin akan tumbuh lebih banyak karya—dan pada waktunya, panen pun tiba.
Kulonprogo, 25 April 2026

















