Yayasan Serat Ulu Tanjung Enim, Gelorakan Teater Remaja Sumsel

Undang Teater Batu Hitam Ponpes Laa Roiba Hadiri Pembukaan Program

Gusti Wiratama, Founder Yayasan Serat Ulu

Muara Enim | KabarSriwijata.NET  — Upaya membangun ekosistem teater di Sumatera Selatan kembali digiatkan. Yayasan Serat Ulu melalui program bertajuk “Samsit Tulang Ayam Tejepit: Laboratorium Teater Remaja Sumatera Selatan” mengundang berbagai elemen, termasuk Jajaran Teater Batu Hitam Pondok Pesantren Laa Roiba, untuk menghadiri pembukaan kegiatan tersebut.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif pengembangan seni yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana dan LPDP.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus eksplorasi kreatif bagi generasi muda, khususnya dalam bidang teater.

Pembukaan acara dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 5 Mei 2026, pukul 09.00–12.00 WIB di Ballroom Hotel Saka Tanjung Enim.

Sementara itu, presentasi karya peserta akan digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, pukul 14.00–17.00 WIB di Gedung Pertunjukan Museum Batubara Tanjung Enim.

Founder Yayasan Serat Ulu, Gusti Wiratama, menyampaikan bahwa program ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi sekaligus penguatan kapasitas generasi muda dalam dunia seni pertunjukan. Selain itu, kehadiran para pimpinan lembaga, termasuk pesantren, diharapkan dapat memberikan dukungan moral bagi keberlanjutan gerakan teater di daerah.

“Dukungan dari berbagai pihak sangat penting agar ekosistem teater di Sumatera Selatan terus tumbuh dan berkembang,” ujarnya dalam surat undangan resmi.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Serat Ulu menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang-ruang kreatif yang inklusif, sekaligus memperkuat peran seni sebagai medium pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

Imron Supriyadi, Pembina Teater Batu Hitam Ponpes Laa Roiba Muaraenim menyatakan, potensi remaja yang berminat teater, hingga kini masih terserak di pojok-pojok desa dan sejumalh sekolah.

Hadirnya Yayasan Serat Ulu, bagian dari ihtiar untuk menyatukan rasa, ide dan kreatifitas yang terpendam, khususnya bagi remaja di Sumsel, atau di  Tanjung Enim, khususnya.

Hal terpenting bagi setiap lembaga seni, menurut Imron apapun genre seni-nya, tidak mesti tergantung dengan dana, apalagi dana pemerintah. Sebab, segala kreatifitas yang berbasis dana, apalagi dari pemerintah, nasibnya seperti menegakkan benang basah.

“Bila direspon itu bonus, tapi tidak perlu tergantung. Berkarya ya berkarya saja, orang mau peduli atau tidak, ya terserah, yang penting kita sudah satu langkah menang : bergerak meski perlahan. Sebab berjalan lambat itu bukan berari berhenti, dia akan sampai ke tepian, tak usah hirau dengan segala macam gangguan yang datang. Selamat untuk Serat Ulu,” tegas Sekretaris Forum Teater Sekolah Sumsel (Fortass) ini. **

TEKS : RELEASE  |  EDITOR : NEWS ROOM  |  FOTO : IG.YAYASAN SERAT ULU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait