Ada satu kebiasaan dalam sejarah: manusia sering datang dari pinggir, lalu “mengganggu” pusat. Di Muara Enim, kisah itu berulang—dengan cara yang sunyi, nyaris tanpa deklarasi besar.
Namanya KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom. Di keluarganya biasa dipanggil Ufik. Ia tidak datang dari garis panjang elite pesantren besar, bukan pula dari orbit kekuasaan. Ia datang dari trotoar.
Lahir dari kampung kecil di Kikim Kabupaten Lahat, pada 24 April 1975, sebagai putra dari bapak dan ibu guru di Kabupaten Lahat.

Di suatu masa 1993-1997, (sekitar Rumah Susun Palembang), setiap ba’da subuh, akan selalu terlihat seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA menjual roti dengan keliling komplek.
Ia harus berteriak lantang, seperti para aktor di panggung teater : Roti…! roti..! dengan harapan, gemanya bisa menembus telinga para warga di lantai III Rumah Susun –dan membeli dagangannya.
Tak hanya jual roti keliling, putra dari pasangan suami isteri Mad Nawi dan Siti Royuna ini, juga pernah menjual sapu, bahkan mainan anak-anak di sejumlah Pasar di Palembang. Semua ia lakukan demi detak napas yang tak boleh berhenti untuk masa depan.

Kadang diusir
Seperti roda berputar, kadang diatas kdang di bawah. Tak juga dagangan habis terjual. Kadang tak laku. Kadang ia diusir oleh kelompok penjual lain yang sudah lebih dulu “menguasai” area rumah susun.
Kedatangan Taufik dianggap oleh mereka mengganggu dan mengurangi pendapatan rejeki. Tak jarang sesekali nyaris terjadi perkelahian antara penjual satu dan lainnya.
Namun ia sadar, kali itu Taufik bukan sedang mencari musuh, tapi sedang menyambung detak jantung dan harus mengusir rasa lapar yang setiap harinya mendera, tanpa harus meminta-minta.
Universitas Kehidupan
Selama 4 tahun lebih, “Kota Pempek” itu menjadi semacam universitas lain—tanpa ruang kelas, tanpa kurikulum, tapi penuh ujian. Orang banyak menyebutnya “Universitas Kehidupan” –menghidupkan jiwa yang mati.
Di situ Taufik banyak belajar sesuatu yang tak diajarkan di kampus: bagaimana kemiskinan bukan sekadar angka, tapi pengalaman. Bukan statistik, melainkan perasaan.
Ia diajari oleh alam dari congkaknya watak sebagian manusia yang “merasa pintar” tapi dalam perjalanannya kali itu, Taufik dididik menjadi manusia “pintar merasa” terhadap realitas yang ia lihat dan ia hadapi setiap fajar menyingsing.
Pergulatan transaksi pasar dan bau apek keringat pagi para kuli panggul, pedagang nasi, rokok keliling, abang becak, anak jalanan dan pengemis, bagi Taufik bukan hal baru. Sebab ia sendiri juga bergumul dengan aroma masam dari cucuran keringat yang setiap pagi membasahi bajunya.
Banyak Membaca
Namun Tuhan selalu memberi jalan kepada hamba-Nya yang dipilih. Inna-ma’al ‘usri-yusro (sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan).
Tuhan tidak menciptakan kesulitan untuk membuat hamba-Nya gagal, tapi sebaliknya.
Ketika seseorang dijatuhkan oleh takdir, sejatinya Tuhan sedang mengajari hamba-Nya untuk belajar bagaimana ia harus bangkit dan berdiri.
Pada detik kesekian, di tahun 1993 Taufik di beri “ruang berdiri” oleh Tuhan menjadi mahasiswa Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang. (sekarang menjadi UIN).
Tentu dengan segala keterbatasannya. Namun dalam kondisi “serba kekurangan” inilah Taufik bangkit dan melawan– keluar dari deraan hidup, untuk kemudian berupaya keras bisa bersejajar dengan “manusia kampus” lainnya– meski dengan kondisi hidup “apa adanya” bukan serba ada.
Di kos mahasiswa, Taufik lebih banyak membaca dari pada main gitar atau main gaple, layaknya sekitar kos pada umumnya. Atau sebagian lagi diantara tetangga hanya berbincang seadanya menunggu rasa kantuk tiba. Tapi bagi Taufik “waktu adalah buku”.

Berburu Buku ke Bandung
Sampai-sampai, demi mengejar sebuah referensi, Taufik bersama teman kos-nya, Muhibullah (sekarang bekerja di Kementerian Agama Sumsel) sempet “berburu buku” ke Bandung, tidur di mushola untuk “menjemput buku” ke rumah salah satu Cendekiawan Muslim Indonesia di Kota Kembang itu.
Menyerap Gagasan Tokoh
Entah berapa buku yang sudah ia baca. Diantaranya, dari Sosiolog Muslim Ali Syari’ati, ia menyerap gagasan tentang agama sebagai energi pembebasan.
Dari Cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, ia menemukan Islam sebagai etika kemanusiaan.
Dari Tokoh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ia melihat agama bisa ramah pada pluralitas. Dan dari Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), ia menangkap nada: bahwa iman bisa ditertawakan tanpa kehilangan kesakralannya.
Barangkali di titik itu, ia mulai curiga: jangan-jangan agama bukan sekadar ritual, tapi sikap terhadap ketidakadilan.
Juru Dakwah di Masjid Jamik PTBA
Usai menyelesaikan tugasnya di kampus sebagai mahasiswa, tahun 1998-2001, Taufik mengabdikan diri sebagai Asisten Dosen di IAIN Raden Fatah Palembang. bekal dari Palembang, kemudian ia bawa ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muaraenim tahun 2002-2003.
Di tengah kesibukannya sebagai Dosen di STIT Muaraenim, Taufik juga menjadi Juru Dakwah di Masjid Jamik Bukit Asam PTBA (2000-2006).
Trainer ESQ
Tahun-tahun berikutnya, (2006-2008) ia masuk ke dunia yang berbeda. Dunia hotel, aula, dan pelatihan motivasi. Ia menjadi trainer dalam jaringan ESQ Leadership Center yang dipimpin Ary Ginanjar Agustian.
Ia berkeliling—“setengah Indonesia,” begitu orang menyebutnya—mengajarkan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di BUMN/D dan lembaga lain di dalam dan luar negeri.

Di ESQ Leadership Center, agama menjadi bahasa presentasi. PowerPoint menggantikan mimbar. Spiritualitas dipadatkan dalam modul.
Ia belajar satu hal lagi: modernitas punya caranya sendiri untuk berbicara tentang Tuhan.
Tapi seperti banyak kisah, ia tidak tinggal di sana.
Tugas dari Bupati
Pada 2010, ia kembali ke Muara Enim.
Seorang Bupati Muaraenim, Muzakir Sai Sohar, memberinya tugas: menghidupkan sebuah pesantren pemerintah yang hampir mati—Pondok Pesantren Darussa’adah.
Pesantren itu rapuh. Bangunannya rusak. Santrinya tinggal 24 orang. Ia seperti tubuh yang masih bernapas, tapi nyaris tanpa harapan.
Empat tahun kemudian, jumlah itu menjadi 400. Harus dibangun “kamar darurat” untuk menampung santri baru.
Apa yang berubah?
Tidak ada teori besar yang diumumkan. Tidak ada manifesto. Mungkin hanya satu hal: ia memperlakukan pesantren bukan sebagai institusi, tapi sebagai rumah.
Agama Turun ke Tanah
Di sini, kita diingatkan pada kisah lain—tentang Paulo Freire yang percaya pendidikan harus membebaskan, bukan sekadar mengisi.
Atau tentang sekolah-sekolah kecil di Amerika Latin yang lahir dari teologi pembebasan—agama yang turun ke tanah, bukan naik ke langit.
Tahun 2015, ia pergi. Bukan karena gagal, tapi mungkin karena selesai.

Ia mendirikan sesuatu yang lebih sunyi, lebih personal: Pondok Pesantren Laa Roiba.
Pesantren Gratis
Di pesantren inilah, ia menampung ratusan santri yatim dan dhuafa—gratis.
Kata “gratis” di sini bukan sekadar kebijakan.
Ia seperti pernyataan politik kecil: bahwa ada ruang di mana logika pasar tidak berlaku.
Kini, pesantren itu tumbuh. Bahkan merambah ke Desa Panang Jaya, membangun masjid dan asrama.
Kita bisa bertanya: apa yang sebenarnya ia bangun? Gedung? Lembaga? Atau gagasan?
Dalam skripsinya—yang berjudul Islam Pembebas Kaum Mustadh’áfin—ia menulis tentang pembebasan dari “pemiskinan”, bukan sekadar kemiskinan.
Ada perbedaan di sana. Yang satu adalah nasib, yang lain adalah sistem.
Ini mengingatkan kita pada satu kalimat lama dari dunia lain: “Man is not poor because God wills it, but because structures make him so.” (Manusia bukan miskin karena kehendak Tuhan, melainkan karena struktur yang membuatnya demikian).
Barangkali ia tidak mengutip itu. Tapi ia menghidupinya.
“aku bisa” menuju “kita harus”
Ada ironi kecil dalam hidupnya. Ia pernah menjadi bagian dari industri motivasi—yang sering dituduh terlalu optimistis, terlalu individual. Kini ia justru bekerja di wilayah yang paling kolektif: komunitas miskin, yatim, pinggiran.
Seolah ia bergerak dari kata “aku bisa” menuju “kita harus”.
Dan mungkin di situlah letak ceritanya. Bukan pada jumlah santri. Bukan pada luas bangunan. Tapi pada satu pergeseran kecil: dari kesadaran ke tindakan. Dari buku ke bilik jantung. Dari pinggir—menuju pusat–lahir dan batin.**

TEKS : IMRON SUPRIYADI | EDITOR : WARMAN PLUNTAZ


















