Di sebuah desa bernama Simorejo, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, suara tawa sering kali terdengar dari majelis pengajian. Bukan tawa kosong, melainkan tawa yang menyimpan kesadaran. Di tengah jamaah yang berderet rapi, seorang lelaki bersarung dan berpeci putih berdiri, berbicara ringan, kadang menyindir, kadang menggelitik. Dialah KH. Ahmad Anwar Zahid—atau yang lebih akrab disapa Abah Anza.
Bojonegoro | KabarSriwijaya.NET – Lahir pada 11 Maret 1974, Anwar Zahid tumbuh dalam lingkungan religius pedesaan yang sederhana. Dari situlah ia mulai mengenal dunia pesantren—ruang sunyi yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap agama dan kehidupan. Pendidikan dasarnya ditempuh di sekitar kampung halaman, sebelum akhirnya ia masuk ke dunia pesantren yang lebih dalam dan ketat.
Jejak intelektualnya berlanjut ke Pondok Pesantren Langitan, salah satu pesantren tua yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan tradisi keilmuan klasiknya.
Di bawah asuhan ulama kharismatik, ia tak hanya belajar kitab, tetapi juga menyerap cara berdakwah—bagaimana agama tidak sekadar disampaikan, tetapi dihidupkan.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
Pengajian Akbar dan Halal Bihalal Akan Digelar di Borobudur, Hadirkan KH Anwar Zahid
Perjalanan itu belum selesai. Ia kemudian melanjutkan pengembaraan ke APTQ Bungah, sebuah pesantren yang menitikberatkan pada penghafalan Al-Qur’an. Di sana, ia digembleng bukan hanya dalam hafalan, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat suci—baik dari sisi bacaan, tafsir, maupun maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Dakwah yang Membumi
Kini, puluhan tahun kemudian, nama Anwar Zahid dikenal luas sebagai pendakwah humoris yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dalam sehari, ia bisa mengisi tiga hingga empat pengajian di berbagai daerah. Jadwalnya padat, bahkan disebut telah terisi hingga beberapa tahun ke depan.
Namun yang membuatnya berbeda bukan sekadar intensitas dakwah, melainkan cara ia berdakwah.
Ia tidak berbicara dengan jarak. Ia berbicara dengan kedekatan.
Bahasanya sederhana, logatnya khas Jawa, dan humor-humornya terasa akrab di telinga masyarakat. Ia sering menyentil kebiasaan sehari-hari—tentang riya’, tentang gengsi, tentang kemunafikan kecil yang sering luput dari kesadaran.
Jamaah pun tertawa. Tapi di balik tawa itu, ada momen hening: ketika orang mulai menyadari, bahwa yang ditertawakan sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Salah satu celetukan yang kerap diingat jamaah adalah kalimat sederhana namun sarat makna: “Qul hu wae lek kesuwen”.
Sepintas terdengar ringan, tetapi di baliknya tersimpan pesan tentang kesederhanaan dalam beragama—bahwa ibadah bukan untuk dipersulit, melainkan dijalani dengan keikhlasan.
Dari Desa ke Mancanegara
Meski berangkat dari desa kecil, langkah dakwah Anwar Zahid melampaui batas geografis. Ia tidak hanya berceramah di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga di luar negeri—seperti Hongkong, Korea Selatan, hingga Malaysia—menyapa diaspora Indonesia yang merindukan sentuhan dakwah kampung halaman.
Namun sejauh apa pun langkahnya, ia tetap kembali ke Simorejo.
Di sanalah ia mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Sabilunnajah, sebuah lembaga pendidikan yang membuka akses bagi santri untuk belajar tanpa dibebani biaya harian.
Di pesantren itu, pendidikan tidak hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang keberpihakan—bahwa agama harus hadir untuk mereka yang membutuhkan. Santri boleh datang dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat untuk belajar.
Setiap Ahad Kliwon, pesantren ini juga menjadi pusat berkumpulnya jamaah dalam pengajian rutin yang dikenal dengan nama Jamaah Maqoman Mahmudah.
Di sana, dakwah kembali menemukan bentuknya yang paling sederhana: duduk bersama, mendengar, dan merenung.
Agama yang Tertawa, Bukan Menakutkan
Dalam lanskap dakwah yang kadang terasa kaku dan formal, Anwar Zahid hadir dengan pendekatan berbeda. Ia tidak menakut-nakuti, tidak menggurui secara keras. Ia mengajak jamaah untuk melihat agama sebagai sesuatu yang dekat, hangat, dan manusiawi.
Barangkali di situlah letak kekuatannya:
ia tidak hanya menyampaikan agama, tetapi menghidupkannya dalam bahasa keseharian.
Di tengah ceramahnya, ia bisa berbicara tentang ubudiyah, amaliyah, hingga syari’ah. Tapi semua itu disampaikan dalam balutan cerita dan guyonan. Tanpa terasa, jamaah pulang membawa pesan—tanpa merasa digurui.
Pribadi di Balik Mimbar
Di balik sosoknya sebagai dai kondang, Anwar Zahid tetaplah seorang suami dan ayah. Ia hidup sederhana bersama istrinya, Hj. Isrina, dan satu orang anak.
Kehidupan pribadinya jauh dari gemerlap, lebih dekat dengan keseharian masyarakat yang ia sapa dalam setiap ceramahnya.
Mungkin itu pula yang membuat dakwahnya terasa jujur. Ia tidak berbicara dari menara tinggi, tetapi dari tanah yang sama tempat jamaah berpijak.
Menertawakan untuk Menyadarkan
Di era ketika agama sering diperdebatkan dengan serius, bahkan keras, Anwar Zahid memilih jalan lain: menertawakan diri sendiri untuk menemukan kebenaran.
Tawa dalam ceramahnya bukan sekadar hiburan. Ia adalah jembatan menuju kesadaran.
Bahwa manusia tidak selalu harus dihakimi untuk berubah—kadang cukup diingatkan, dengan cara yang membuatnya tersenyum.
Dan dari desa kecil di Bojonegoro itu, suara tawa yang mengandung hikmah terus berkeliling, dari satu kota ke kota lain, dari satu hati ke hati yang lain.**
TEKS : TUNGGAL PAMUNGKAS | EDITOR : IMRON SUPRIYADI | FOTO : Mengerti.id




















