Luka di Balik Pintu Rumah: Tragedi Seorang Ibu di Lahat

Ketika permintaan tersebut ditolak, suasana berubah tegang. Emosi AF meledak

Lahat, POLHUKAM, SUMSEL196 Dilihat

LAHAT | KabarSriwijaya.NET – Sunyi yang biasanya menyelimuti Desa Danau Belidang, Kecamatan Mulak Sebingkai, Kabupaten Lahat, mendadak berubah menjadi duka yang tak terbayangkan. Di sebuah rumah sederhana, kisah memilukan itu bermula—kisah tentang seorang ibu yang kehilangan nyawanya di tangan anak yang ia besarkan sendiri.

Tak Diberi Uang

SA (63), seorang perempuan lanjut usia, tak pernah menyangka bahwa penolakan sederhana akan berujung petaka. Hari itu, Sabtu, 28 Maret 2026, putranya, AF (23), datang dengan permintaan yang tampak sepele: uang untuk bermain judi online. Namun, di balik permintaan itu, tersimpan bara emosi yang telah lama terpendam.

BACA ARTIKEL TERKAIT :

Ketika permintaan tersebut ditolak, suasana berubah tegang. Emosi AF meledak. Dalam hitungan waktu yang singkat, pertengkaran berubah menjadi kekerasan brutal. Senjata tajam yang digunakan pelaku mengakhiri hidup sang ibu—sosok yang selama ini menjadi penopang hidupnya.

“Motifnya karena pelaku emosi setelah korban tidak memberikan uang yang akan digunakan untuk bermain judi slot,” ungkap Kasat Reskrim Polres Lahat, Muhammad Ridho Pradani, saat menjelaskan kasus ini, Rabu (8/4/2026).

Namun tragedi tak berhenti di sana.

Dalam upaya menutupi jejak, AF melakukan serangkaian tindakan yang semakin memperlihatkan dinginnya perhitungan di balik emosinya. Ia mencoba membakar jasad ibunya, tetapi gagal.

Memasukkan Dalam Karung

Tidak berhenti, ia kemudian memasukkan tubuh korban ke dalam karung. Ketika ukuran tidak memungkinkan, pelaku mengambil langkah yang lebih keji: memutilasi tubuh korban menjadi beberapa bagian.

Potongan-potongan tubuh itu dimasukkan ke dalam tiga karung, lalu dipindahkan ke lokasi lain—Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang. Di sana, jasad korban dikuburkan di area kebun, seolah ingin menghapus seluruh jejak keberadaan sang ibu dari dunia.

Melibatkan Rekannya

Ironisnya, dalam proses tersebut, AF sempat melibatkan dua rekannya. Kepada mereka, ia berdalih bahwa lubang yang digali adalah untuk keperluan pekerjaan kebun. Tanpa menyadari kenyataan mengerikan di baliknya, kedua rekannya membantu menggali tanah yang kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir korban.

Kasus ini bukan sekadar kisah kriminal biasa. Ia menjadi cermin buram tentang bagaimana tekanan ekonomi, kecanduan judi online, dan rapuhnya kontrol emosi dapat berujung pada tragedi kemanusiaan yang paling kelam.

Di balik angka-angka usia dan kronologi kejadian, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam relasi paling mendasar—antara anak dan ibu.

Desa itu kini tak lagi sama. Dan luka yang ditinggalkan, tampaknya akan menetap jauh lebih lama daripada berita yang mengabarkannya.

TEKS : AHMAD MAULANA   |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI   |  FOTO : DOK. KEPOLISIAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *