BAZNAS Muaraenim : Dari Abu yang Tersisa, Zakat Menjadi Cahaya

Suara Kepedulian di Pagi yang Masih Berasap

Pagi di Dusun I, Desa Tanjung Karangan, Kecamatan Tanjung Agung, belum sepenuhnya pulih dari luka. Sisa-sisa arang masih menyimpan hangat yang tertinggal dari api dini hari itu. Di antara puing yang menghitam, seorang ibu berdiri diam—seolah masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

MUARAENIM | KabarSriwijaya.NET – Namanya Nunisa (65). Seorang petani sederhana. Rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung bagi dirinya dan dua anggota keluarga lainnya, kini tinggal kenangan.

Api datang tanpa permisi

Sekitar pukul 03.48 WIB, Senin dini hari itu (30/03/2026), kobaran membesar dengan cepat, melahap satu-satunya tempat tinggal yang mereka miliki. Tak ada yang bisa diselamatkan, selain nyawa.

Dan kadang, itu pun sudah cukup untuk membuat manusia bersujud dalam syukur yang getir.

Di tengah suasana yang masih diliputi duka, langkah-langkah pelan mulai berdatangan. Bukan sekadar kunjungan, tetapi membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bantuan—ia membawa kepedulian.

BAZNAS Muara Enim hadir

Dipimpin langsung oleh Ketua BAZNAS, Ahmad Nizomi, S.Ag., bersama tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), mereka datang bukan hanya membawa paket sembako, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa korban tidak sendiri.

Turut mendampingi, Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Fuad Setiawan, serta Wakil Ketua IV Bidang Administrasi dan SDM, Aswin Suhendra, S.H.I.

Di tangan mereka, bantuan itu mungkin sederhana: bahan pokok makanan untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Namun bagi Ibu Nunisa, itu adalah tanda bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang mengingat.

Dalam setiap paket yang diserahkan, tersimpan amanah para muzaki—orang-orang yang mungkin tak hadir secara fisik, tetapi menitipkan kepedulian melalui zakat yang mereka keluarkan.

Di sinilah zakat menemukan maknanya yang paling nyata.

Ia tidak lagi sekadar angka dalam laporan, tetapi berubah menjadi beras, minyak, dan kebutuhan hidup yang menyambung harapan.

Sebelum bantuan itu tiba, perjuangan lain telah lebih dulu berlangsung. Api yang melahap rumah Ibu Nunisa berhasil dipadamkan berkat kerja sama cepat antara Tim TRC BPBD Muara Enim, Damkar Muara Enim, dan Damkar Kecamatan Tanjung Agung.

Ketika api akhirnya padam, yang tersisa bukan hanya puing, tetapi juga kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Dan di titik itulah BAZNAS masuk.

Bukan untuk memadamkan api, tetapi untuk meredakan dampaknya.

Di dalam ajaran Islam, musibah bukan sekadar ujian bagi yang tertimpa, tetapi juga panggilan bagi yang lain untuk peduli. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa yang meringankan beban saudaranya, Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.

Apa yang dilakukan BAZNAS pagi itu adalah pengejawantahan dari ajaran itu.

Bahwa di tengah kehilangan, harus ada yang datang membawa penguatan.
Bahwa di tengah duka, harus ada yang menyapa dengan kepedulian.

Desa Tanjung Karangan perlahan akan kembali seperti semula. Aktivitas warga akan berjalan lagi. Tanah yang hangus akan kembali ditanami. Tetapi bagi Ibu Nunisa, perjalanan untuk bangkit mungkin membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Namun ia tidak berjalan sendiri.

Ada tangan-tangan yang terulur. Ada doa-doa yang mengiringi. Dan ada zakat yang menjadi jembatan antara kepedulian dan kebutuhan.

Dari abu yang tersisa, harapan itu masih ada.

Dan dari peristiwa ini, kita diingatkan kembali: bahwa suara masjid bukan hanya terdengar dari pengeras suara, tetapi juga dari tindakan nyata—ketika umat saling menguatkan, ketika zakat benar-benar hidup di tengah masyarakat.**

TEKS / FOTO : Humas BAZNAS Muaarenim  |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *