Tarekat: Jalan Pulang di Tengah Dunia yang Terlalu Ramai

Kita ini sering merasa sudah sampai hanya karena tahu. Padahal tahu belum tentu kenal

Imron Supriyadi, Jurnalis & Sekretaris JATMAN dan Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Di tengah dunia yang makin gaduh, kita sering merasa seperti orang kehilangan alamat pulang. Informasi melimpah, tapi hati kering. Agama ramai dibicarakan, tapi batin terasa sepi. Kita hafal dalil, tetapi gagap ketika ditanya: “Sudahkah engkau mengenal dirimu sendiri?” Di situlah jalan tarekat menemukan relevansinya. Bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai jalan pulang.

Tarekat bukan sekadar ritual tambahan setelah syariat. Ia adalah disiplin batin, laku kesadaran, cara merawat hubungan dengan Allah secara lebih intim.

Dalam khazanah tasawuf, Abdul Qadir al-Jilani, pendiri Tarekat Qadiriyah, menegaskan bahwa jalan spiritual adalah proses membersihkan hati dari selain Allah.

“Tutup pintu makhluk, buka pintu Khalik,” kira-kira begitu napas ajarannya. Bagi beliau, tarekat bukan soal pakaian, bukan pula soal gelar mursyid dan murid, melainkan soal kejujuran batin dalam menyembah.

Kita ini sering merasa sudah sampai hanya karena tahu. Padahal tahu belum tentu kenal.

Dalam bahasa Jawa, ngerti belum tentu nglakoni (menjalankan). Tarekat mengajak kita ngalami—mengalami kehadiran Tuhan dalam denyut kehidupan sehari-hari.

Abu Hamid al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumiddin menulis bahwa penyakit hati—riak, ujub, hasad—lebih berbahaya daripada penyakit jasmani.

Ia sendiri pernah meninggalkan jabatan prestisiusnya demi mengembara, mencari kejernihan jiwa. Artinya, tarekat adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita belum selesai.

Mengapa kita perlu bertarekat? Karena kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan tetapi lupa kedalaman.

Kita bisa mengirim pesan ke benua lain dalam hitungan detik, tetapi untuk mengirim doa dengan khusyuk saja terasa sulit. Tarekat mengajarkan dzikir—bukan sekadar melafalkan nama Allah, melainkan menghadirkan-Nya dalam kesadaran.

Jalaluddin Rumi menyebut cinta sebagai inti perjalanan spiritual. Dalam puisinya, Rumi mengingatkan bahwa kita ini seperti seruling bambu—berbunyi merdu justru karena kosong di dalamnya. Kekosongan itulah yang diisi oleh napas Ilahi.

Bertarekat juga berarti belajar rendah hati. Kita ini sering merasa paling benar hanya karena berbeda jalan. Padahal tarekat-tarekat besar seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, atau Tijaniyah, semuanya berangkat dari sumber yang sama: Al-Qur’an dan sunnah. Perbedaan metode hanyalah variasi cara merawat batin.

Bahauddin Naqshband menekankan dzikir khafi—dzikir yang sunyi di dalam hati. Sunyi, tapi bergemuruh maknanya. Ini pelajaran penting: tidak semua yang keras itu kuat, tidak semua yang senyap itu lemah.

Di Indonesia, tradisi tarekat tumbuh bersama denyut kebudayaan. Ulama-ulama seperti Ahmad Khatib Sambas mengajarkan perpaduan antara syariat dan hakikat, antara kerja sosial dan laku spiritual.

Artinya, tarekat tidak mengasingkan kita dari dunia. Ia justru menuntun agar kita hadir di tengah masyarakat dengan hati yang lebih jernih. Bertani, berdagang, mengajar, memimpin—semua bisa menjadi ladang dzikir jika batin tertata.

Ada yang bertanya, bukankah cukup dengan salat lima waktu? Pertanyaan itu seperti bertanya, bukankah cukup makan sekali sehari? Secara minimal mungkin cukup, tetapi manusia diberi potensi untuk lebih.

Tarekat adalah ikhtiar untuk memperindah ibadah, memperdalam makna, dan memperluas cinta. Ia bukan kewajiban formal, tetapi kebutuhan eksistensial. Kita butuh guru bukan untuk disembah, melainkan untuk diingatkan ketika ego mulai membesar.

Tentu tarekat bukan tanpa risiko. Ia bisa disalahgunakan oleh mereka yang menjadikannya alat kekuasaan atau komoditas. Karena itu, memilih mursyid harus hati-hati—yang sanad ilmunya jelas, akhlaknya teruji, dan tidak memutus kita dari akal sehat.

Tarekat yang benar tidak mengebiri nalar, tidak mematikan kreativitas, dan tidak menjauhkan kita dari tanggung jawab sosial. Ia justru menumbuhkan kasih sayang dan keadilan.

Pada akhirnya, bertarekat adalah perjalanan seumur hidup. Ia bukan proyek instan. Kita diajak menyapu halaman hati setiap hari, karena debu dunia tak pernah berhenti beterbangan.

Dalam dzikir yang lirih, dalam sujud yang panjang, kita belajar bahwa menjadi manusia bukan sekadar soal sukses atau gagal, tetapi soal setia pada pencarian makna.

Barangkali itulah sebabnya kita perlu bertarekat: agar tidak tersesat di tengah keramaian, agar tidak kehilangan Tuhan di tengah banyaknya pembicaraan tentang Tuhan.

Tarekat adalah jalan pulang—pelan, sunyi, tetapi pasti—menuju diri yang lebih jujur dan menuju Allah yang selalu lebih dekat daripada urat leher kita sendiri.**

Dinihari 00.42 WIB – PP Laa Roiba, Muaraenim, 03 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *