Ijazah yang Pernah Diremehkan, Perempuan yang Mengubahnya

Dulu Ijazah Madrasah disia-siakan, hingga diakui sampai sekarang

AGAMA, Islam219 Dilihat

Ada masa ketika ijazah madrasah tak lebih dari lembaran kertas yang mudah disisihkan. Lulusan madrasah kerap dipandang sebelah mata—cukup untuk urusan agama, tapi diragukan ketika hendak melangkah ke fakultas kedokteran, teknik, atau birokrasi negara. Di lorong-lorong pendidikan Indonesia pada dekade 1970-an, stigma itu nyata: madrasah dianggap “kelas dua”.

Situasi itulah yang dihadapi Zakiah Daradjat. Akademisi kelahiran Minangkabau ini bukan hanya cendekiawan psikologi Islam, melainkan juga birokrat di Departemen Agama. Ia menyaksikan langsung bagaimana anak-anak madrasah harus bernegosiasi dengan sistem yang tak sepenuhnya memberi tempat.

Zakiah tak memilih diam. Di tengah tarik-menarik kepentingan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, ia terlibat dalam proses yang melahirkan kebijakan penting: Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri 1975. Kebijakan itu—yang populer dengan sebutan SKB Tiga Menteri—menjadi penanda perubahan. Negara akhirnya mengakui kesetaraan ijazah madrasah dengan sekolah umum.

Foto : Nasrul Koto PSU

Keputusan tersebut bukan sekadar regulasi administratif. Ia adalah pengakuan simbolik sekaligus struktural. Sejak saat itu, pintu perguruan tinggi negeri terbuka lebih lebar bagi lulusan madrasah. Jalan menuju profesi dokter, insinyur, hakim, atau menteri tak lagi dibatasi oleh latar belakang sekolah agama.

Zakiah memahami bahwa ketimpangan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga soal persepsi. Madrasah dinilai tak setara karena dianggap terlalu berat pada agama dan kurang pada sains.

Melalui SKB itu, komposisi kurikulum diatur ulang: mata pelajaran umum diperkuat tanpa menanggalkan identitas keislaman. Di titik ini, Zakiah menunjukkan bahwa diplomasi pendidikan bukan sekadar adu argumen, melainkan seni merawat keseimbangan.

Jejak intelektualnya tak lahir dari ruang kosong. Sejak kecil di Sumatera Barat, ia tumbuh dalam tradisi surau dan sekolah umum sekaligus. Disiplin ganda itu membentuk wataknya: religius, tapi terbuka pada ilmu modern. Tahun 1956, ia berangkat ke Kairo dan menempuh studi di Universitas Ain Shams. Pada masa itu, ia menjadi satu-satunya mahasiswi Indonesia di kampus tersebut—sebuah capaian yang tak lazim bagi perempuan Indonesia era itu.

Mukena Dewasa Motif Renda Rayon Adem
Mukena Dewasa Motif Renda Rayon Adem

Prestasinya di bidang psikologi Islam menarik perhatian. Ia bahkan menerima penghargaan ilmiah dari Presiden Mesir saat itu, Gamal Abdel Nasser. Pengakuan internasional itu mengukuhkan reputasinya sebagai sarjana Muslim yang menjembatani tradisi dan modernitas.

Namun Zakiah tak memilih berkarier di luar negeri. Ia kembali ke Indonesia, mengajar, menulis, dan terlibat dalam kebijakan publik.

Di ruang-ruang kuliah, ia memperkenalkan psikologi agama sebagai disiplin yang membumi. Di ruang birokrasi, ia memperjuangkan sistem yang lebih adil bagi madrasah.

Publik generasi 1970–1990-an mengenalnya bukan hanya lewat forum akademik. Suaranya kerap terdengar di siaran RRI dan TVRI, membahas problem kejiwaan dan keagamaan dengan bahasa yang teduh.

Ia pernah pula menjadi perempuan pertama yang duduk di jajaran pimpinan Majelis Ulama Indonesia—sebuah posisi yang kala itu nyaris eksklusif bagi laki-laki.

Meski namanya besar, gaya hidupnya sederhana. Di masa pensiun, ia tetap menerima tamu yang datang untuk berkonsultasi. Banyak di antaranya mahasiswa, ibu rumah tangga, atau remaja yang gelisah. Tak jarang ia menolak bayaran. Ilmu, baginya, adalah amanah.

Kini, ketika alumni madrasah tersebar di berbagai profesi—dari kampus hingga kementerian—jejak Zakiah mungkin tak selalu disebut. Namun pengakuan negara terhadap ijazah madrasah adalah salah satu warisan terpentingnya. Ia menunjukkan bahwa perubahan sistemik bisa lahir dari ketekunan seorang intelektual yang bekerja di balik meja rapat.

Zakiah Daradjat wafat pada usia 83 tahun. Tapi gagasannya tetap hidup: bahwa pendidikan agama dan pendidikan umum bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berdialog, saling menguatkan, dan bersama-sama membentuk warga negara yang utuh.

Di setiap ijazah madrasah yang kini diakui setara, ada sejarah panjang perjuangan. Dan di dalam sejarah itu, nama Zakiah Daradjat tercatat sebagai salah satu penorehnya.

TEKS ASLI : NASRUL KOTO PSU 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *