Di sebuah gang di Gejawan Kulon, Balecatur, Gamping, Sleman, berdiri sebuah bengkel kerja yang tak lagi sekadar bengkel. Ia adalah laboratorium ketekunan, tempat ide-ide bertubuh, lalu mengeras menjadi patung. Di situlah Grek Susanto—lahir 1972, besar di desa yang sama—menambatkan hidupnya pada seni rupa, khususnya seni patung.
Riwayatnya bukan kisah kampus yang mulus. Selepas SMA (1993), ia masuk Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan seni patung.
Ekonomi keluarga tak bersahabat. Ia kuliah sambil bekerja di Jakarta. Tahun 1996 ia kembali ke Yogyakarta, hanya untuk menerima surat drop out. Kampus memberinya kesempatan mendaftar ulang dari awal. Ia kembali masuk, tetap di patung.
memilih jalan lain
Namun pada 2008, ketika statusnya masih mahasiswa, Grek memilih berhenti. “Dosen saya sudah ada yang adik kelas,” ujarnya suatu kali, setengah berseloroh. Surat dari kampus masih datang menanyakan kelanjutan studi. Tetapi Grek sudah memilih jalan lain: jalan bengkel.

Ia tetap berkarya, memburu proyek, hingga bertemu Ahmad Santoso. Tahun 2010 datang proyek cukup besar. Rumah orang tuanya di Tabon—yang sebelumnya hanya ruang domestik—berubah menjadi ruang produksi seni.
Awalnya tanpa nama. Baru pada 2013 lahir nama Blendang-Blendung Studio. Sebuah nama yang jenaka sekaligus doa. “Blendung,” katanya, seperti perut yang melendung—membesar—tanda sering mendapat pekerjaan.
Sejak itu, bengkel tersebut berproses. Ia tak lagi sekadar tempat memahat, tetapi mulai menata diri secara profesional: ada divisi cetak, modeling, hingga finishing.
kerja kolektif
Kerja seni yang sering dipersepsi sebagai kerja individual, di sini diubah menjadi kerja kolektif yang terorganisasi. Studio itu berjalan hingga 2025.
Lalu pada 2026, nama diganti menjadi BAS Studio—singkatan dari Blendung Art Studio. Pertimbangan sederhana: lebih ringkas, lebih mudah diingat, lebih luwes di telinga rekan bisnis dan jejaring seniman.
“Saya kaptennya,” kata Grek, Kamis (12/2/2026). Di bawahnya ada anak-anak muda yang diandalkan: Sabry di administrasi, Gabby dan Alpan sebagai mitra kerja. Ahmad Santoso tetap menjadi rekan hingga hari ini.
Ia menyebut studionya sebagai “ruang berbagi berkah.” Moto mereka: seni berbagi berkah. Bukan sekadar retorika, tetapi model kerja—ruang tumbuh bersama, tempat orang memperoleh upah sekaligus pengalaman.
BACA BERITA TERKAIT :
Awalnya, pasar mereka adalah patung-patung gereja. Hingga kini, segmen itu masih dominan. Namun BAS juga mengerjakan patung pahlawan, figur publik, hingga karya untuk perumahan elite di Jakarta, kafe, dan museum.
Tahun 2017, mereka menjadi vendor pembuatan patung di Museum Sangiran. Sebuah proyek yang menuntut presisi historis sekaligus sensitivitas artistik.
Di Sukomoro, Banyuasin
Di Sumatera Selatan, tepatnya di Sukomoro, Banyuasin, mereka mengerjakan lanskap seluas sekitar tiga hektare untuk wisata rohani Katolik: mulai desain hingga patung.
Lahan yang awalnya hutan dan rawa diolah menjadi ruang ziarah sekaligus ruang publik. Kini tempat itu menjadi titik temu—bukan hanya umat Kristiani, tetapi juga masyarakat umum yang datang untuk berfoto, minum kopi, atau sekadar menikmati suasana. Seni patung di sana menjadi infrastruktur makna sekaligus ekonomi.
Pada 2023, BAS dipercaya mengerjakan museum paleoantropologi Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada. Patung manusia purba dan sejarah bumi dikerjakan berdasarkan data ilmiah.
Para arkeolog dan ilmuwan datang berdiskusi. Patung tak boleh melenceng dari temuan sains, sebab ia akan menjadi alat edukasi. Di sini terlihat bagaimana studio ini bergerak di wilayah antara seni dan pengetahuan.
proyek wisata rohani
Tahun 2025, mereka menyelesaikan proyek wisata rohani di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, di lahan sekitar 60 hektare milik Keuskupan Agung Palangkaraya. Desain, bangunan, patung—semuanya digarap BAS.
sela proyek besar itu, mereka juga membuat patung figur aktor Korea Gong Yoo untuk Brie Cafe di Cijeruk, Bogor. Dari manusia purba hingga bintang film pop—rentang yang menunjukkan keluwesan pasar dan keterampilan.
Grek mengakui, proyek di Palembang menjadi salah satu yang paling mengesankan. Lokasi yang semula hutan dan rawa harus diurug, ditata menjadi lanskap wisata rohani.
Skala pekerjaan besar, tantangan teknis tak kecil. Namun hasilnya memberi dampak bagi studio, keuskupan, dan umat. Ia menyebut peran para donatur sebagai faktor penting—sebuah pengingat bahwa karya monumental selalu lahir dari jaringan kepercayaan.
Kini BAS Studio sedang mematangkan pembagian divisi. Arahnya tak lagi hanya patung, tetapi seni secara lebih luas—Blendung Art and Sculpture.
tur lima kota
Mereka kerap mendapat pesanan mural di Jakarta, Magelang, Surabaya, terakhir di Hotel Puri Asri. Ada pula pengalaman menata set artistik untuk pementasan teater dan film, termasuk tur lima kota. Jejaring SDM sudah ada; tinggal dilembagakan.
Ke depan, Grek membayangkan BAS tak hanya menjadi bengkel produksi, tetapi juga penyelenggara peristiwa seni: pameran patung, lukisan, dan event kolaboratif. Rencana itu tengah disusun. “Kalau anggaran longgar, langsung kita eksekusi,” katanya.
Dalam lanskap seni rupa Yogyakarta yang sarat romantisme studio dan mitos seniman individual, Grek Susanto memilih jalur berbeda: membangun studio sebagai kapal kolektif, dengan dirinya sebagai kapten.
menyeberangi pasar
Ia bukan lagi mahasiswa yang dikejar surat kampus, melainkan nahkoda yang mengarahkan kru muda menyeberangi pasar—dari gereja hingga museum, dari rawa hingga hotel berbintang. Seni, di tangannya, adalah kerja keras yang membumi, sekaligus doa agar bengkel itu terus “blendung”—melendung oleh berkah pekerjaan.
TEKS / FOTO : JAJANG R KAWENTAR | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




















