Jejak Terakhir Hakim Tegas, Zaenal Arief dari Palembang

Kamar kos yang ditinggalinya tidak jauh dari kantor PN Palembang

Uncategorized112 Dilihat

Raden Zaenal Arief Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kos, Meninggalkan Riwayat Putusan Mati dan Integritas yang Jarang Dimiliki

Pada Rabu pagi yang harusnya biasa saja di kawasan Dwikora, Palembang, sebuah kamar kos sederhana mendadak menjadi pusat perhatian publik peradilan Sumatera Selatan. Di ruangan sempit itulah, sosok hakim yang selama bertahun-tahun berdiri tegak atas nama keadilan, Raden Zaenal Arief, ditemukan tak lagi bernapas.

Kabar kepergiannya menyebar cepat, menyisakan keheningan di koridor Pengadilan Negeri (PN) Palembang. Di mata para kolega, Raden Zaenal bukan sekadar hakim: ia adalah teladan disiplin.

Hakim senior yang juga dikenal sebagai Juru Bicara PN Palembang Raden Zaenal Arief, S.H., M.H., meninggal dunia di Palembang, Sumsel, Rabu (12/11/2025) sekitar pukul 07.00 WIB. ANTARA/Mahendra Putra

Orang yang selalu datang paling pagi, membuka berkas ketika sebagian kantor masih gelap, dan pulang ketika berkas terakhir selesai ia tandai. Ketika ia tak keluar kamar hingga matahari naik tinggi, penjaga kos tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Dugaan itu berubah jadi kepastian pahit ketika pintu kamar dibuka: tubuh Raden Zaenal terbujur kaku, damai… sekaligus menyakitkan untuk disaksikan.

Sosok yang Dibentuk oleh Waktu, Pindah Tugas, dan Ribuan Halaman Berkas Perkara

Raden Zaenal Arief lahir di Bandung, 11 Juni 1969—jauh dari hiruk pikuk politik dan dinamika peradilan yang kelak menjadi panggung hidupnya. Ia mengawali karier sebagai calon PNS di PTUN Bandung, sebelum akhirnya menapaki jalan menjadi calon hakim di PN Garut pada awal 1990-an.

Tiga dekade karier mengantarnya berpindah dari satu daerah ke daerah lain, menumpuk pengalaman, sekaligus memperluas horison etik dan moralnya dalam memutus perkara. Ia pernah bertugas di:

  • PN Ende, NTT (2001)
  • PN Siak Sri Indrapura, Riau (2005)
  • PN Kuningan, Jawa Barat (2008)
  • PN Lubuk Pakam, Deli Serdang (2008)
  • Wakil Ketua PN Bengkayang, Kalbar (2015)
  • Ketua PN Gunung Sugih, Lampung Tengah (2016)
  • PN Bale Bandung (2018)
  • PN Palembang (2022–2025)

Di tiap tempat, catatan tentang dirinya selalu sama: tegas di persidangan, santun dalam pergaulan. Para hakim muda mengenalnya sebagai tempat bertanya, sementara para panitera menyebutnya sebagai hakim yang “tak pernah meninggalkan satu berkas pun tanpa dibaca.”

Riwayat Putusan Mati: Ketegasan yang Membuat namanya Diperhitungkan

Tahun 2025 menjadi salah satu titik paling menonjol dalam karier hukumnya. Sebagai ketua majelis, Raden Zaenal menjatuhkan vonis hukuman mati kepada tiga terdakwa pembunuhan berencana dalam kasus yang mengguncang Palembang.

Korban, Anton Eka Putra, dianiaya menggunakan kunci pas. Tubuhnya kemudian dicor di bekas kolam ikan—sebuah tindakan yang oleh majelis disebut sebagai “kejahatan yang sangat kejam, sistematis, dan tidak manusiawi.” Putusan itu menempatkan Raden Zaenal dalam perhatian publik nasional, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai hakim yang tidak gentar.

Namun bagi mereka yang mengenalnya dekat, ketegasan itu tidak pernah melahirkan kesewenang-wenangan. Ia keras, tetapi adil. Ia tegas, namun tenang.

Pagi yang Janggal dan Sunyi di Kos Dwikora

Kamar kos yang ditinggalinya tidak jauh dari kantor PN Palembang. Ruangan sederhana itu menjadi saksi kesibukannya selama dua tahun terakhir. Biasanya, pukul enam pagi ia sudah keluar kamar dengan kemeja rapi dan tas hitam penuh berkas. Namun Rabu itu berbeda.

Penjaga kos mengetuk berkali-kali. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara geseran kaki, tidak ada bunyi air mengalir—sunyi yang terlalu asing untuk sosok se-disiplin Raden Zaenal.

Ketika pintu dibuka, penghuni kos lain berhamburan. Tubuh itu telah dingin. Di meja kamarnya, berkas-berkas perkara masih tersusun rapi. Seolah kepergiannya bukanlah bagian dari rencana hari itu.

Dugaan Serangan Kesehatan, Tapi Jawaban Resmi Masih Ditunggu

Sejumlah rekan mengaku bahwa beberapa hari terakhir ia terlihat menahan nyeri di dada. Namun Raden Zaenal, seperti biasa, tidak ingin merepotkan siapapun. Ia tetap bekerja, tetap memimpin sidang, tetap hadir sebagai dirinya: sosok yang menomorsatukan tugas.

Hingga kini, pihak berwenang belum mengumumkan penyebab resmi kematian. Dugaan mengarah pada masalah kesehatan, namun verifikasi medis tetap menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Pulang ke Tanah Kelahiran

Setelah proses administrasi dan identifikasi selesai, jenazah Raden Zaenal diberangkatkan ke Bandung. Kepergian seorang hakim biasanya sunyi dan formal, tetapi tidak dengan dirinya. Banyak yang mengantar, banyak yang kehilangan, banyak yang merasa dunia peradilan hari itu kehilangan satu cahaya kecil yang membantu menuntun arah.

Di kalangan hakim, nama Raden Zaenal akan dikenang bukan hanya melalui putusannya, tetapi dari caranya menjalani profesi: tenang, jujur, dan tak pernah membiarkan integritasnya goyah.

Di dunia yang kadang goyah oleh kepentingan, Raden Zaenal adalah salah satu yang berdiri tegak. Kini, ia pergi dengan keheningan yang sama teguhnya.**

TEKS : Yulie Afriani  | Editor : Imron Supriyadi  | Ilustrasi : Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *