
(Catatan Kecil Bagi yang Lahir 18 Mei / 1 Dzulhijah)
Ada orang yang merasa tanggal lahir hanyalah urusan administrasi: angka di kartu identitas, penanda umur untuk mengurus sekolah, menikah, atau pensiun. Tetapi dalam tradisi Islam, waktu tidak pernah benar-benar kosong. Waktu punya aroma ruhani. Ada hari yang biasa, ada hari yang diberkahi. Ada bulan yang berjalan seperti angin, ada pula bulan yang membuat langit seakan lebih dekat dengan bumi.
Karena itu menarik ketika 18 Mei 2026 bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah, hari ketika jutaan jamaah haji mulai memasuki musim agung perjalanan menuju Allah.
Di tanggal itu, dunia Islam mulai bergerak ke satu titik: Ka’bah. Orang-orang meninggalkan rumah, jabatan, rekening bank, bahkan nama besar, lalu mengenakan dua lembar kain ihram yang sederhana. Di hadapan Tuhan, direktur dan tukang becak sama-sama tampak seperti manusia yang baru lahir.
Simbol Kepulangan
Maka jika ada bayi lahir pada 18 Mei 2026 itu, sesungguhnya ia lahir di sebuah simbol besar: simbol kepulangan manusia kepada fitrahnya.
Tetapi tentu saja Islam tidak mengajarkan mistik tanggal lahir. Tidak ada jaminan seseorang menjadi wali hanya karena lahir di bulan Dzulhijjah. Sebagaimana tidak ada orang otomatis saleh hanya karena rumahnya dekat masjid. Yang menentukan kemuliaan manusia tetaplah iman dan amalnya.
Namun para ulama memang mengajarkan bahwa Allah memilih sebagian waktu untuk dimuliakan. Dalam Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa sebagaimana Allah memilih Mekah di antara kota-kota lain, Allah juga memilih Dzulhijjah di antara bulan-bulan lain.
Allah Swt dalam Al-Qur’an bahkan bersumpah: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Qs. Al-Fajr ; 01)
Mayoritas mufasir, termasuk Ibnu Katsir, memahami “malam yang sepuluh” itu sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Artinya, bulan ini bukan sekadar pergantian kalender hijriah biasa. Ia adalah musim ibadah. Musim ketika pahala seperti sedang “diskon besar-besaran”, meski istilah ini tentu bukan bahasa kitab kuning.
latihan besar manusia
Di kampung-kampung Indonesia, Dzulhijjah sering hadir dengan suara takbir dari mushala kecil, aroma sate kurban, dan pengumuman jamaah haji di masjid setelah Magrib. Tetapi sesungguhnya inti Dzulhijjah jauh lebih dalam daripada itu. Ia adalah latihan besar manusia untuk melepaskan ego.
Dan di sinilah letak keindahan makna lahir pada 1 Dzulhijjah.
Sebab inti haji sebenarnya bukan hanya pergi ke Masjidil Haram. Kalau sekadar pergi, turis juga bisa pergi ke Mekah. Haji adalah perjalanan meninggalkan kesombongan diri. Ihram adalah pelajaran bahwa manusia akhirnya akan pulang kepada Tuhan tanpa membawa apa-apa selain amal.
dimaknai sebagai doa
Karena itu, seorang bayi yang lahir pada 18 Mei 2026 dapat dimaknai sebagai doa: semoga hidupnya kelak menjadi perjalanan menuju Allah.
Bukan perjalanan menjadi kaya semata. Bukan perjalanan menjadi terkenal saja. Tetapi perjalanan menjadi manusia.
Ini penting di zaman sekarang. Sebab manusia modern sering kehilangan dirinya sendiri. Orang hafal password WiFi tetapi lupa doa sebelum tidur. Orang bisa membeli apa saja lewat telepon genggam, tetapi tidak mampu membeli ketenangan hati. Kita hidup di masa ketika manusia mengejar dunia seperti orang kehausan meminum air laut: makin diminum, makin haus.
Dzulhijjah datang seperti kritik halus terhadap kehidupan modern itu.
yang hidup di dalam hati
Lihatlah jamaah haji. Mereka meninggalkan pakaian mewah dan memakai kain putih sederhana. Mereka thawaf bersama tanpa melihat status sosial. Yang kaya berjalan di samping yang miskin. Yang pejabat berhimpitan dengan rakyat biasa. Semua sama-sama berkeringat di bawah matahari Arab.
Agaknya Tuhan memang sedang mengajari manusia bahwa ukuran kemuliaan bukanlah apa yang menempel di tubuh, tetapi apa yang hidup di dalam hati.
Karena itu, jika anak lahir pada 18 Mei yang bertepatan dengan awal Dzulhijjah, maka yang paling penting bukan membuat pesta besar-besaran. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa hidup anak itu adalah amanah.
mendoakan anak
Orang tuanya dianjurkan bersyukur, bersedekah, melaksanakan aqiqah, dan mendoakan anak itu dengan doa-doa yang baik. Sebab doa orang tua sering kali lebih panjang umur daripada umur orang tuanya sendiri.
Dalam tradisi pesantren, ada keyakinan sederhana: anak yang sering didoakan akan tumbuh dengan perlindungan langit. Karena itu yang dibutuhkan anak bukan hanya susu dan sekolah bagus, tetapi juga air mata orang tua di sepertiga malam.
Di titik ini, Dzulhijjah mengajarkan satu hal penting: pengorbanan.
dititipi pesan langit
Kita mengenal Nabi Ibrahim bukan karena beliau kaya raya, tetapi karena kesediaannya menyerahkan apa yang paling dicintainya demi Allah. Kita mengenal Nabi Ismail bukan karena kekuasaan, tetapi karena keikhlasannya menerima kehendak Tuhan.
Maka anak yang lahir pada awal Dzulhijjah sesungguhnya sedang “dititipi pesan langit”: jangan tumbuh menjadi manusia yang hanya pandai meminta, tetapi jadilah manusia yang siap memberi.
Dan mungkin di situlah hikmah terbesar dari 18 Mei 2026 itu.
Bahwa hidup bukan sekadar bertambah umur, melainkan berkurang jatah waktu. Bahwa manusia bukan sedang berjalan menuju masa depan saja, tetapi sedang berjalan menuju perjumpaan dengan Allah.
manusia lebih sadar
Maka tanggal lahir yang baik pada akhirnya bukanlah tanggal yang membuat seseorang merasa istimewa. Tanggal lahir yang baik adalah tanggal yang membuat manusia lebih sadar bahwa hidup ini sementara, dan karena sementara itulah ia harus diisi dengan cinta, ibadah, pengabdian, dan manfaat bagi sesama. Sebab kelak, pada akhirnya, semua manusia juga akan berhaji dalam makna yang paling sunyi: pulang kepada Tuhan.**
Pojok PP Laa Roiba, Muara Enim, 18 Mei 2026












