Machika Eva : Dari Catwalk ke Nada Cinta Pertama

“Kupu Lucuku”, Lagu tentang Kagum yang Tumbuh Diam-Diam

BUDAYA, Film, Pariwisata, Seni70 Dilihat

Lampu kamera belum benar-benar padam ketika Machika Eva memulai langkah baru. Setelah bertahun-tahun akrab dengan dunia modeling dan akting, remaja asal Serang, Banten, itu kini memilih mikrofon sebagai panggung berikutnya. Jalannya dimulai lewat sebuah lagu pop remaja berjudul Kupu Lucuku.

Single perdana itu bukan sekadar penanda debut di industri musik. Lagu ciptaan Aditya Gumay tersebut seperti dirancang untuk memotret fase hidup Machika sendiri: remaja yang sedang bertumbuh, mengenal rasa kagum, lalu diam-diam menyimpan harapan tentang cinta pertama.

“Kupu lucuku…” begitu penggalan judul itu terdengar ringan, manis, dan remaja. Namun di baliknya, tersimpan metafora yang cukup dalam. Kupu-kupu menjadi simbol metamorfosis—tentang perubahan, proses, dan keberanian meninggalkan fase lama menuju dunia baru. Barangkali, itu pula yang sedang dialami Machika.

MACHIKA

Sebelum masuk studio rekaman, siswi kelas dua Global Indonesia School itu sempat mengirim daftar lagu favoritnya kepada Aditya Gumay. Ia ingin warna musik yang dekat dengan dirinya: ringan, hangat, dan jujur seperti percakapan remaja sehari-hari. Hasil akhirnya terasa personal. Machika bahkan hanya membutuhkan satu kata untuk menggambarkan lagu itu: “kagum”.

Lirik Kupu Lucuku memang bergerak di wilayah sederhana: rasa suka yang polos, diam-diam memperhatikan seseorang, lalu menjadikannya pusat semesta kecil seorang remaja. Tidak meledak-ledak, tidak dramatis. Justru di situlah kekuatannya. Lagu ini berbicara tentang cinta pertama yang tak selalu harus dimiliki.

Salah satu bait yang paling melekat bagi Machika ialah kalimat: “Karena hanya dia yang kumau menemani hidupku.” Bagi sebagian orang dewasa, kalimat itu mungkin terdengar naif. Namun bagi remaja seusianya, itulah bentuk paling jujur dari jatuh hati.

Dunia hiburan sebenarnya bukan ruang baru bagi Machika. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berdiri di depan kamera. Ia pernah bermain dalam sejumlah film layar lebar seperti Dewa Dewi, Dulmuluk Dulmalik, dan Nia Kurniasari. Di bidang modeling, ia menjadi pemenang The F Icon Indonesia 2025 mewakili Kota Serang. Sementara di musik, ia sempat masuk TOP 7 FLS3N dan bergabung dalam grup Ananda Voice 8 lewat lagu Menang Kalah.

Namun musik memberinya pengalaman berbeda: lebih personal, lebih dekat dengan dirinya sendiri.

Keseriusan itu rupanya dibaca Aditya Gumay. Pada 2026, ia menciptakan Kupu Lucuku khusus untuk Machika. Aransemen digarap Om Adam dengan nuansa pop yang ringan dan mudah diterima telinga remaja masa kini.

Proses produksinya berlangsung cepat. Rekaman dilakukan sekitar sebulan sebelum perilisan. Saat itu kondisi Machika belum sepenuhnya pulih dari flu dan batuk. Tetapi justru di situ ia merasa mendapat pelajaran baru tentang disiplin dan profesionalisme.

MACHIKA

Pengalaman lain yang membuatnya gugup terjadi saat syuting video klip. Model utama dalam video tersebut adalah Raden Raka—sosok yang diam-diam telah lama ia idolakan sejak tampil dalam sinetron Magic 5. Machika mengaku sempat kesulitan membangun chemistry karena terlalu kagum. Namun suasana syuting perlahan mencair dan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Di tengah aktivitasnya di dunia hiburan, Machika tetap berusaha menjaga ritme hidup sebagai pelajar. Sekolah tetap menjadi prioritas. Ia sadar dunia entertainment sering menghadirkan komentar publik, tekanan sosial, bahkan ekspektasi yang berlebihan kepada figur muda. Tetapi ia memilih fokus pada proses, terus belajar, dan menjaga sikap rendah hati.

Lewat Kupu Lucuku, Machika tampaknya tidak sedang berusaha tampil sebagai bintang besar yang serba sempurna. Ia justru hadir sebagai remaja biasa yang sedang tumbuh—dengan rasa gugup, kagum, mimpi, dan keberanian mencoba hal baru.

Dan mungkin, justru karena itulah lagu ini terasa dekat.

Teks / Foto : Dev  | Editor : Imron Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *